
"Aku harus mencarinya di mana, di sana, di sini atau di situ?" selagi mondar-mandir di antara rumah dan gang, Gabriela mengintip ke segala arah sampai seorang pemuda berbicara padanya.
"Apa yang kau lakukan sialan, kau sangat mencurigakan sekali," suara itu datang dari pria kasar yang memiliki tubuh tinggi yang diselimuti jaket berbulu, ia memiliki tatapan menakutkan serta rambut merah yang naik ke atas.
"Aku sedang mencari orang," jawab datar Gabriela.
"Kau penculik?"
"Kau ini bercanda, aku ini wanita manis, mana mungkin aku menculik, yang ada aku yang bakal diculik."
"Aku ragu seseorang akan melakukannya."
Kepribadian Gabriela telihat seperti seorang yang kuat jelas hal itu mustahil.
Tak lama kemudian suara wanita yang berlari terdengar dari kejauhan.
"Pencuri, kembalikan uangku."
Dengan kecepatan tinggi pemuda berambut merah itu melesat dalam sekejap dan muncul tepat di depan si pencuri, dengan sigap dia mencengkeram wajahnya lalu membantingnya ke tanah tanpa ampun.
"Uang Anda nyonya."
"Terima kasih."
Orang-orang yang menyaksikan hal itu segera bertepuk tangan ke arah si pemuda yang berjalan pergi seolah tidak terjadi apapun, sedangkan Gabriela menatap punggung pria itu dengan senyum di wajahnya.
"Aku menemukannya, seorang pemuda yang memiliki kekuatan, tapi bagaimana caranya aku membujuknya... Rin pasti menggunakan ketakutan, Amnestha kemesuman sementara aku... benar, pasti kecantikan, hanya menunjukan wajahku dia pasti mau ikut."
__ADS_1
Dari kejauhan Gabriela terus mengikutinya, Gabriela bisa menyembunyikan sayapnya karena itu dia bisa berbaur dengan sekelilingnya.
Pemuda itu berbelok di gang kecil dan ketika Gabriela mengikutinya lebih jauh, pemuda itu telah berada di depannya menunggu.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku memiliki tugas dari tuanku untuk mencari kandidat raja, kurasa aku akan memilihmu sebagai kandidatku."
"Jangan bercanda, aku tidak terlalu cocok dengan status seperti itu.. pergilah, tinggalkan aku."
"Sayang sekali aku tidak bisa melepaskanmu."
"Apa boleh buat aku akan menghajarmu."
"Kau cukup berani mengatakan itu pada wanita sepertiku."
Pada akhirnya Gabriela dan pemuda itu saling membelakangi satu sama lain selagi mengangkat tinju mereka.
"Cih, di saat seperti ini... hey gadis kecil, kita tunda urusan kita."
"Asal tahu saja aku bukan gadis kecil, aku wanita dewasa... mereka mengganggu saja, mari hajar mereka."
"Jangan terlalu bersemangat dasar.... tapi itu ide bagus."
Pada akhirnya keduanya bertarung bersama mengalahkan orang-orang tersebut di gang sempit hingga mereka terkapar di lantai batu tanpa bisa berbuat apapun.
"Untuk wanita kau hebat juga, siapa namamu?"
__ADS_1
"Jika kau ingin tahu maka kau harus menjadi kandidatku, tak masalah jika kau tidak terpilih, kau masih akan dipekerjakan di istana."
"Menurutmu akan ada pekerjaan yang cocok untukku?"
"Kau bisa menjadi penjaga toilet."
"Hah."
Pemuda itu mendekatkan wajahnya begitu dekat hingga mereka bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing.
Gabriela hanya diam tanpa merasakan terintimidasi sedikitpun.
"Itu hanya salah satunya, kau bisa menjadi kesatria jika tidak suka."
"Kedengarannya menarik, cepat katakan namamu?"
"Gabriela Askar, salah satu malaikat tertinggi."
"Malaikat? Jangan bercanda," kata si pemuda memegangi wajah selagi tertawa terbahak-bahak.
Ketika Gabriela menunjukan sayapnya akhirnya dia terdiam.
"Mustahil sekali seorang malaikat datang kemari."
"Terserah kau mau mengatakan apa, tapi itulah kenyataannya, sekarang sebutkan siapa namamu?"
"Luis, aku seorang petarung jalanan."
__ADS_1