
Rantai menyeruak dari pijakan robot raksasa itu.
"Apa-apaan ini?"
Setiap rantai menembus tubuh besi itu melilitnya dari segala arah, dan semakin lama rantai itu bertambah banyak, sebelum robot itu meledak Laura lebih dulu keluar dengan selamat.
Aku yang telah pulih dari luka ledakan melompat ke atap bangunan, di mana pandangan kami saling bertemu.
"Kau benar-benar membuatku kesal, kau sudah menghancurkan karya terbaikku."
"Benda seperti itu jika di tangan yang salah benar-benar sangat berbahaya," balasku asal-asalan.
Tubuh Laura diselimuti aura gelap dan selanjutnya sihir dewa miliknya digunakan.
Pakaiannya berubah menjadi sesuatu yang terbuka bahkan di kepalanya juga tumbuh dua tanduk sementara di punggungnya sepasang sayap kelelawar muncul.
Tangan dan kakinya tidak menyerupai manusia melainkan sebuah cakar burung elang.
"Aku akan mulai serius."
Dalam hitungan detik Laura muncul di depanku, dia mengirimkan beberapa tinjunya yang berhasil kutahan kemudian kubalas sedemikian rupa.
Dari sudut penonton kami berdua lebih seperti sebuah cahaya yang berkilauan di langit.
BRAK
BRAK.
Setiap pukulan kami menghasilkan kehancuran di sekeliling kami, aku terhantam tinjunya dan begitu pula Laura.
Walau dia wanita aku tetap akan memukulnya entah di wajah ataupun di perut. Kami mundur di waktu bersamaan untuk saling membenturkan sihir
"Dark Explotion."
"Hell Fire."
__ADS_1
Kedua serangan itu menghasilkan ledakan melenyapkan semua hal di sekitarnya, kami berdua melesat di waktu bersamaan dan kembali membenturkan pukulan.
"Sebenarnya apa kau itu? Sihir dewa tidak terlihat berpengaruh padamu."
"Tidak juga, aku sedikit gatal."
"Kau?"
Kami saling membenturkan kepala. Laura membuka mulutnya mengumpulkan cahaya dari sana. Tak ingin terkena dari serangan tersebut, aku memiringkan kepalaku dan itu meledak di belakang punggungku.
Sebagai balasan aku membenturkan kepalaku kembali hingga kami menjaga jarak untuk kedua kalinya.
Laura memusatkan kegelapan di tangannya sementara aku juga membuat pukulan api hitam.
Dengan gerakan cepat kami berdua saling meninju wajah hingga terlempar jatuh ke bawah dengan kecepatan tinggi yang mana memuntahkan material tanah ke udara.
Sesekali dipukul seperti ini juga tidak terlalu buruk.
"...."
Membuang pemikiran tersebut aku bangkit untuk mengalihkan pandangan ke arah pertarungan Valesta dan Hornes, seluruh pedang di punggung Valesta menyerang tanpa henti hingga pada akhirnya Hornes tumbang.
"Sudah selesai."
Di luar dugaan Laura melesat ke arah pertarungan tersebut, sebelum aku bisa menghentikannya dia telah berhasil memukul Valesta hingga terlempar ke samping.
Bersamaan itu tubuh Hornes sudah mencapai akhir dan meledak, itu bukan pemandangan yang bagus untuk dilihat.
Dengan suntikan khusus Laura mengambil darah Hornes lalu menyuntikkannya di lehernya.
"Dengan ini aku akan semakin kuat haha."
Seluruh tubuhnya membesar dua kali lipat yang mana malah membuatnya terlihat seperti iblis sesungguhnya, aku menghilang dan muncul lagi di dekat Valesta untuk membantunya berdiri.
"Kau tak apa?"
__ADS_1
"Aah, tapi kita memiliki masalah yang lebih gawat."
"Kita bisa mengalahkannya bersama, kurasa berdua juga cukup."
"Maksudmu bertiga."
Mamisa muncul secara tiba-tiba.
"Maaf terlambat, pekerjaanku benar-benar padat... lihat Redo, aku juga mengenakan pakaian dalam."
"Nggak usah dilihatin juga kali."
"Warna putih cocok untukku kan."
"Cepatlah turun dari sana."
Mamisa melompat dari bangunan tinggi hingga mendarat baik di depan kami dengan pose idol seperti biasanya.
"Hari ini akan kutunjukan kemampuanku sesungguhnya dalam bernyanyi."
Aku mengambil mic dari sihir penyimpananku yang lalu kuberikan pada Mamisa.
"Apa ini?"
"Item khusus buatanku sendiri, dengan ini kau bisa menyanyi sangat lama dan tak perlu takut kehabisan mana."
"Mic ini mengambil mana dari luar kemudian mengirimkannya pada tubuhku."
Aku mengangguk sebagai balasan.
"Kalau begitu, aku mulai... music started."
Lagu yang dimainkan adalah lagu dengan tempo cepat.
"Valesta?" panggilku.
__ADS_1
"Kita habisi dia."