Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 57 : Death River


__ADS_3

Karena sudah memutuskan untuk datang ke dunia ini maka tak ada jalan lagi selain bertarung, aku mengayunkan pedangku dan itu menghasilkan dentingan keras saat secara langsung bertubrukan dengan sabit milik Edgar.


Percikan api menyebar ke udara seiring kami yang terus saling memojokkan satu sama lain, Helfina tak ingin terus berdiam diri lalu menyerang Edgar dari belakang.


Awalnya kukira dia tidak memperhatikan namun tidak seperti itu. Sebuah tendangan menghantam bahu Helfina hingga ia meluncur lurus di lantai putih selagi mengerang kesakitan, pakaiannya bahkan melepuh karena sesuatu yang tidak bisa kumengerti."


"Jangan mengganggu," kata Edgar tanpa menyembunyikan kebenciannya.


"Apa yang kau lakukan? Tendangan seperti itu tidak mungkin sampai membuatku seperti ini."


Aku memperhatikan kembali kaki Edgar dan kutemukan di sana ada sekecil api hitam yang berkobar.


"Itu?"


"Ini adalah efek khusus dari item senjataku bernama Death River, membuatku bisa mengeluarkan api hitam di mana yang kuinginkan."


Sekarang Edgar melapisi bilah sabitnya dengan api, sekilas dia mirip seperti dewa kematian yang sering dibicarakan dari dunia lamaku.


Edgar menebas sementara aku menahannya dengan menyilangkan pedangku.


"Rasakan ini."


Bersamaan itu pedang yang kugunakan tiba-tiba saja meledak, memaksaku untuk mundur ke belakang.


Syukurlah setengah bagiannya masih utuh.


"Kenapa kalian semua malah menentang para Dewi, seperti Heis atau pahlawan di sana itu."


"Kenapa? Apa kau tidak tahu, kita semua pasti memiliki hidup sulit sebelumnya... ini adalah kesempatan kita untuk menjalani hidup yang menyenangkan, jika mempertaruhkan nyawa untuk melawan raja iblis itu sama saja kita akan kembali ke hidup yang sebelumnya, lagipula aku tidak ingin di suruh-suruh Dewi mungil itu."


Yang dimaksudnya mungkin Dewi Hecate.


Kami kembali bertarung satu sama lain, aku memiliki skill Slash yang bisa kugunakan secara berturut-turut tanpa henti, di sisi lain Edgar mulai kelelahan.


"Meski kau memilih jalan seperti ini, itu tidak akan merubah bahwa raja iblis akan membunuhmu nanti."

__ADS_1


Edgar tersenyum lalu melanjutkan.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan raja iblis karena itulah raja kerajaan Artana memiliki jalan lebih baik, dibandin menentang mereka kami berniat untuk bekerja sama dengan salah satu raja iblis... mengambil alih kerajaan lain adalah bagian kesepakatan kami setelah semua itu tercapai kami akan memberikannya padanya.,"


"Siapa raja iblis itu?"


"Aku tidak harus menjawabnya."


Jika dipikirkan kembali ada yang salah dengan jumlah pahlawan yang ada di dunia ini.


"Kau dan Ludin bukan pengguna busur, lalu siapa pahlawan yang menyerang kami."


"Kau menyadarinya."


Aku dikirim oleh Dewi Ristal.


Edgar Dewi Hecate.


Ludin kemungkinan Dewi Amnesia.


Dan Heis, Dewi Ariel.


Pahlawan busur sangat terkenal karena itulah aku cukup tahu banyak informasinya tapi dia bukan sosok yang dikirim Dewi.


Lalu siapa dia?


"Dia adalah pahlawan dari masa lalu," jawab Edgar.


Dengan kata lain dia adalah orang yang dulu pernah mengalahkan pemilik cincin yang sedang kupakai ini.


Prang.


Sebuah sayatan tercipta di tubuhku.


Aku lebih baik fokus dalam pertarungan ini, terlebih melawan dengan pedang seperti ini jelas sangat sulit, aku bisa saja menggunakan sihir akan tetapi itu hanya akan berakibat fatal jika aku juga turut menghancurkan dimensi ini.

__ADS_1


"Guakh."


Darah menyembur dari mulutku.


"Biar kutanyakan satu hal, apa kau ingin bergabung bersama kami atau tidak?"


Aku membuat senyuman tipis.


"Maaf saja, aku sudah jatuh cinta pada Dewi yang telah mengirimku kemari.. sulit untuk menentang keinginannya."


"Jika itu jawabanmu, selamat tinggal."


SRAK.


Garis bilah tipis diayunkan yang mana mampu memotong kedua tubuhku menjadi dua bagian, bagian bawahku masih berdiri sementara pinggang sampai ke kepala telah rubuh ke samping.


"Haa... ruu."


"Jangan khawatir, selanjutnya giliranmu wanita pelacur."


Edgar berbalik membelakangiku lalu berjalan ke arah Helfina yang terlihat shock, dengan skill ketakutan milik Edgar dia mampu memberikan ketakutan yang mampu membuat mangsanya tak berkutik.


Sebelum mendekat aku telah berada di belakangnya dengan tangan menembus tubuhnya.


"Jangan terlalu cepat, harusnya kau pastikan dulu musuhmu sudah terbunuh."


"Mustahil, aku sudah membelahmu menjadi dua bagian.. jangan-jangan kau sengaja melakukannya untuk membuat celah."


Aku hanya tersenyum masam kemudian berkata.


"Inferno."


Dengan cincin Immortal Different Ring aku bisa hidup sebanyak yang kumau kemudian ditambah Create of Magic Ring aku mampu membuat sihir apapun yang kusuka.


Selanjutnya.

__ADS_1


Tubuh Edgar terbakar menjadi debu.


Jika seseorang ingin membunuhku mereka harusnya lebih dulu memotong jari-jariku.


__ADS_2