Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 219 : Kota Terbaru


__ADS_3

Setahun setelah aku meninggalkan negeri awan, setiap harinya aku terus berburu monster lalu mengambil jiwa mereka, sesekali aku juga masuk ke dalam Dungeon untuk berburu tangkapan lebih banyak lalu menghancurkannya hingga akhirnya hanya ada satu Dungeon yang tersisa yang berada tepat di perbatasan antara kerajaan Weisvia dan kerajaan Artana.


Untuk keseimbangan aku membiarkan yang satu itu.


Kini ke sepuluh cincin yang kubuat telah bisa digunakan.


Di tangan kiriku.


Jempol ---> Create of Magic Ring ---> Membuat sihir tak terbatas sesuai keinginan penggunanya.


Telunjuk ---> Dispell Holy Ring ---> Melenyapkan hal seperti kutukan, Undead, dan segala yang tidak memiliki bentuk.


Jari tengah --> Greater Ring ---> Menggunakan ruang kosong tak terbatas sebagai penyimpanan serta menghentikan waktu.


Jari manis ---> Healing protection Barrier Ring --> Tak hanya menggunakan pelindung, pelindungku juga bisa digunakan sebagai penyembuh bagi orang di dalamnya atau menggunakannya secara terpisah.


Jari kelingking ---> Death Soul Ring ---> Aku bisa mematikan maupun menghidupkan seseorang jika jiwanya masih ada, meregenerasi tubuhnya sedia kala dengan peluang 100 persen.


Tangan kananku.


Jempol ---> Resistance Poison Ring ---> Kebal racun.


Jari telunjuk ---> Unlimited mana Ring ---> Manaku tak terbatas.


Jari tengah ---> Breaker Ring --> Menghilangkan serangan apapun bahkan jika itu masih dalam lingkaran sihir.

__ADS_1


Jari manis ---> Levitation Ring --> Aku bisa terbang.


Jari kelingking ---> Immortal Different Ring ---> Selama aku menggunakan cincin ini aku tidak akan pernah mati.


Sepuluh cincinku jelas menghancurkan semua aturan dunia ini, pertama aku menyimpan dua buku ke dalam cincin ruang dan waktuku sebelum berjalan mengikuti pelayanku dari belakang.


Kami telah melewati padang pasir yang panas dan untuk waktu yang lama akhirnya kami bisa keluar dari sana dan tinggal di sebuah kota besar di kerajaan Weisvia.


"Aku pesan minuman dingin ukuran jumbo."


"Siap."


"Kami juga."


Saat pesanan kami tiba aku meminumnya dengan puas, Rin melirik ke arah sekelilingnya dan lalu menatapku setelah mengkonfirmasi apa yang sedang terjadi.


"Aku ingin ke toilet."


"Padahal kita baru sampai, apa mau aku temani," kata Gabriela.


"Aku bisa sendirian."


"Jika kalian ke toilet bersama aku yakin kalian berdua akan saling menyentuh satu sama lain."


Amnestha terlalu santai hingga tidak merasakan kami diawasi. Rin membiarkan perkataan itu berlalu begitu saja dan pergi sebentar lalu kembali lagi dengan tumpukan uang yang ditaruh di meja.

__ADS_1


Dia juga merampok mereka.


"Kerja bagus."


Ada banyak koin emas di dalamnya.


"Jadi siapa mereka?"


"Mereka adalah bawahan orang bernama Red Clover, kudengar dia adalah bawahan Behemoth dari keempat bawahan yang menguasai kota di Utara."


"Begitu, dia pasti menyuruh anak buahnya untuk memantau orang yang datang."


"Apa kita akan mendatanginya?"


"Itu pasti, tapi tidak sekarang, kita baru saja keluar dari gurun pasir, beristirahat adalah sesuatu yang kita butuhkan," atas pernyataanku ketiganya mengangguk mengiyakan.


Aku memesan setiap makanan paling enak dengan uang yang dibawa Rin, mereka meletakkan berbagai olahan daging.


"Silahkan."


"Terima kasih, bolehkah aku menyentuh pantatmu."


"Jika itu mau tuan, bersiaplah untuk kehilangan tanganmu."


Pelayan di sini sangat menakutkan.

__ADS_1


Hidupku hanya setahun lagi, kurasa aku akan merindukan hal seperti ini. Beberapa orang berdatangan masuk ke dalam kedai saat aku memakan sebuah daging panggang di tanganku.


"Di kota ini semua orang harus tunduk pada tuan Behemoth, kudengar kau memukuli anak buahku... Ngomong-ngomong namaku Don."


__ADS_2