
Ini adalah guild petualang yang berada di pelabuhan Eternal.
"Kalian sudah kembali."
"Kami memiliki banyak urusan belakangan ini."
"Begitu, oh yah... nona Scarlet sudah datang beberapa hari yang lalu, dia memberikan bayaran kalian?"
Kami menerima upah yang cukup banyak.
"Terima kasih, kurasa kami akan bersantai saja... mau bergabung dengan kami?"
"Aku masih bekerja, guild master akan memarahiku?"
"Maksudmu orang yang berkostum badut yang sejak tadi menatapku?"
"Jangan katakan itu, dia menakutkan," bisik receptionis.
Meski dia badut, dia tidak mengenakan hidung merahnya.
Saat kusadari dia sudah berada di belakangku, seketika hawa dingin menjalar ke punggungku atau sebenarnya dia memasukkan es ke dalam bajuku.
"Uwaahh... dingin."
Selagi aku berusaha mengeluarkan esnya, dia tertawa.
"Itulah akibat menggoda Iris... dia adalah anggota guild paling berharga di sini, coba bayangkan berapa orang yang memiliki rambut putih indah seperti Iris."
"Nggak usah seperti ini juga kali, lagipula aku lebih tertarik dengan dadanya."
Iris segera menutupinya dengan tangan miliknya.
"Dasar mesum."
__ADS_1
"Padahal aku punya yang lebih besar di sini," potong Mamisa sementara pria badut itu melanjutkan.
"Itu hukuman. Ngomong-ngomong namaku Crown. Guild master."
Dia tidak perlu memperkenalkan dirinya lagi, aku bangkit lalu mengeluarkan sebuah batu besar yang sebelumnya kudapatkan saat berhadapan dengan buaya.
Entah itu Iris maupun Crown keduanya menatapnya begitu dekat.
"Bukannya ini batu sihir?'
"Aku belum pernah melihat hal yang sebesar dan sekuat ini, apa kau akan menjualnya?'
"Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang sebaiknya kulakukan dengan ini."
Crown meletakan tangannya didagu seolah sedang berfikir.
"Kudengar ada pengrajin hebat di kota sebelah bernama Aria, kau bisa mendatanginya dan mencoba membuatkan sesuatu padanya."
"Itu ide bagus guild master."
"Kalian berdua juga? Aku tidak keberatan dengan Iris tapi kenapa kau juga duduk di sini?" teriakku pada Crown.
"Jangan begitu, aku juga ingin makan... tolong bayarin makananku juga."
Dia mengedipkan matanya hingga rasanya aku ingin muntah.
"Makanlah sebanyak yang kalian inginkan, aku akan membayar semuanya."
"Bagaimana denganku?'
"Mamisa juga, uangmu biar ditabung saja untuk sekolah."
"Tapi umurku sudah 20 tahun."
__ADS_1
"Begitu, berjuanglah."
"Apa maksudmu? aku juga punya dada yang boing-boing, kau tahu?"
"Itu cuma bantalan."
"Bagaimana kau tahu?"
Tentu saja karena ukurannya lebih besar dari biasanya.
Aku hanya mendesah pelan dan memakan makananku dengan tenang.
Selesai makan, aku maupun Mamisa pergi ke kota yang dimaksudkan, di kawasan ini kebanyakan di depan rumah ditanami sebuah pohon dengan buah mirip tomat.
Aku bertanya pada Mamisa dan ia menjawab bahwa di wilayah ini jika seseorang menanam pohon di depan rumah mereka akan diberkahi keberuntungan.
Dengan buah sebanyak itu, mereka memang sudah beruntung.
Kami tiba di sebuah rumah pengrajin yang di maksud. Saat pintu dibuka sosok Aria sedang terbaring di lantai dengan mulut berbusa.
"Tolong aku."
"Sepertinya kita salah masuk."
"Benar sekali, ayo keluar dari sini Redo."
"Jangan palingkan diri kalian dari kenyataan," teriaknya lalu melanjutkan.
"Ada seorang yang sekarat di depan kalian dan kalian mau melarikan diri."
Aku maupun Mamisa hanya mendesah pelan, perlu makanan sebanyak satu koin emas untuk membuatnya hidup kembali.
"Eynak sekali, akyu sudyah tiga haryi belyum makyan."
__ADS_1
"Makan saja dulu, jangan bicara apapun," kataku demikian.