
Hari ini aku pergi dengan istriku Felisa dan putriku Alisha.
Felisa seorang ratu karena itu, kami ingin mencari tempat yang tidak banyak mengetahui soal kami bertiga dan akhirnya kami pergi ke wilayah para Demi-human tepatnya di sebuah kota yang menyajikan berbagai kuliner lokal yang tidak pernah ditemukan di mana pun.
Sebelumnya aku telah menyelamatkan negeri ini dari peperangan dan sekarang aku bisa melihat orang-orang sangat bahagia. Agar bisa berbaur dengan baik kami bertiga mengenakan telinga kucing.
"Tolong pesan tiga."
"Baik."
Mereka menyajikan kadal panggang yang menurutku sedikit ekstrim akan tetapi memiliki citra rasa yang enak.
"Jadi ini negara demi human, mereka terlihat lebih maju dari kita," ucap kagum Felisa.
"Banyak hal yang belum bisa manusia lakukan terlebih soal kendaraannya."
"Begitu."
Para demi-human memiliki kereta yang bisa bergerak sendiri tanpa ada hewan yang menariknya, mereka menyebutnya Wildcar. bentuknya menyerupai mobil kayu hanya saja tidak menggunakan bensin melainkan sihir penggunanya serta tidak ada atap yang menutupi bagian pengemudi.
"Hebat sekali."
Aku mengelus kepala Alisha.
"Benar kan, bagaimana soal makanannya?"
"Aku sempat ragu tapi rasanya enak papa."
"Syukurlah, masih banyak makanan yang akan kita beli jadi jangan ragu mencobanya."
"Baik."
__ADS_1
"Apa yang kau ajarkan pada putrimu? Dia tidak boleh memakan hal aneh lagi."
"Jangan khawatir semuanya bisa dimakan tanpa ada efek samping."
"Bukan itu masalahnya."
Makanan seperti ini jarang dinikmati oleh keluarga kerajaan, ini merupakan pengalaman terbaik bagi mereka.
Felisa merekatkan lengannya denganku sedangkan Alisha berjalan di depan kami selagi menikmati permen kapas.
"Owh, bukannya itu menarik.. mari pergi ke sana."
"Alisha jangan berlarian."
"Ba-baik."
Di suatu tempat Felisa memang sedikit tegas, dia seorang ratu karenanya sikapnya sedikit keras.
"Bukannya harusnya kau tidak terlalu ketat pada Alisha."
"Soal itu, aku ingin membiarkan Alisha memilih sendiri bahkan jika ia memilih seorang pria dari kalangan biasa aku tidak keberatan selama itu baik baginya. Kebahagiaan bukan berasal dari status seseorang melainkan seberapa besar keduanya saling mencintai."
"Jika suamiku bilang begitu apa boleh buat."
Bangsawan cenderung dengan perjodohan bahkan ketika berumur 10 tahun mereka telah bertunangan. Felisa hanya terbawa arus dengan keadaan, karenanya aku sama sekali tidak menyalahkannya.
Beberapa orang bahkan menyebutnya sebagai sisi gelap dari kehidupan bangsawan.
Aku mencolek dada Felisa hingga ia mengeluarkan suara imut, seperti yang kuduga kekenyalannya tidak berubah.
Dengan malu ia menutupi mulutnya.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu di tempat umum."
"Kudengar waktu kecil Felisa sangat nakal, ia selalu berpenampilan tomboi seperti laki-laki dan suka menyelinap keluar istana untuk hidup seperti rakyat biasa."
Wajahnya semakin memerah.
"Ba-bagaimana kau tahu?"
"Aku menanyakannya pada para pelayan," balasku santai.
"Saat itu aku sangat memalukan, aku bahkan dianggap tampan."
Aku tertawa kecil lalu melanjutkan.
"Tapi sekarang Felisa berubah menjadi sosok ibu dewasa yang cantik jelita."
"Jangan mengatakannya, aku malu."
"Pak, tolong tiga."
"Baik, untuk gadis cantik sepertimu aku beri tambahan ekstra."
"Yataaa... ini untuk papa dan mama."
Kami menerima sesuatu yang sedikit tidak wajar, itu adalah permen yang di dalamnya terdapat berbagai serangga berbeda.
Felisa berbisik ke arahku.
"Lakukan sesuatu, ini salahmu."
"Alisha, kurasa kita pergi ke cafe saja dan mencari makanan yang sama seperti di rumah."
__ADS_1
"Baik papa."
Rasanya aku takut bahwa Alisha akan membuat makanannya sendiri saat kembali ke desa hingga terbiasa.