
Raja dunia bawah menciptakan seratus lingkaran sihir di atas langit yang mana dari setiap lingkaran mengeluarkan tombak-tombak petir.
"Terimalah ini, hujan petir kesengsaraan."
Aku menengadah ke langit lalu melesatkan anak panah dengan jumlah yang sama untuk membuatnya bertubrukan di udara tanpa mengenai siapapun.
Raja dunia bawah mendecapkan lidahnya sebelum melesat dengan pedang besar di kedua tangannya, aku pun melesat ke arahnya hingga kami saling membelakangi satu sama lain.
Setelah beberapa saat keheningan yang terasa lama itu. Darah menyembur dari tubuhku bertepatan saat kedua lenganku jatuh ke tanah, di sisi lain raja dunia bawah terduduk dengan darah yang mengalir deras dari tubuhnya hingga membentuk kubangan kecil.
Aku berjalan ke arahnya tanpa memperdulikan tanganku yang terpotong.
"Aku yang menang."
"Sialan, harusnya aku membunuhmu saat kau lemah," katanya selagi menengadah ke langit dan mati dalam damai.
Aku menyambungkan kembali tanganku kemudian mengeluarkan Layne dari sihir ruangku, dia segera memeluk ayahnya dalam tangis.
"Sudah kubilang kau tidak akan bisa mengalahkannya, kini siapa yang mati."
Layne mengusap air matanya lalu berdiri untuk menatap ke arahku. Situasi ini sangat membingungkan, bahkan aku tidak bisa mengatakan apapun.
Layne tersenyum kecil lalu melanjutkan.
"Celah dimensi ini bisa aku tutup saat aku kembali ke dunia bawah, sayangnya beberapa iblis telah terlanjur pindah ke dunia ini jadi aku tidak bisa berbuat banyak untuk itu."
Aku memaksa diriku untuk mengatakan sesuatu.
"Bukannya kau suka berpetualang di dunia ini?"
"Kurasa aku sudah cukup melihat banyak hal, aku rasa sudah waktunya aku kembali.... berbeda dengan dunia bawah, dunia ini sangat menyenangkan dan penuh warna."
Layne mengeluarkan buku dari sihir penyimpanannya selagi memamerkannya padaku, itu adalah buku tentang petualangannya.
"Walau di sana hanya ladang tandus, dengan semua informasi di sini kurasa aku akan membuatnya lebih baik...kurasa ini menjadi akhir perjalananku."
Aku mengeluarkan sebuah benih pohon yang mana kuberikan padanya.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Benih pohon dunia, tanamlah di duniamu... dalam waktu beberapa puluh tahun, aku yakin kalian akan memiliki tanah yang subur."
"Terima kasih."
Layne mengeluarkan peti mati kemudian menaruh ayahnya ke dalamnya sebelum terbang ke langit dan menghilang dalam retakan yang kembali sedia kala.
Sebuah panel pemberitahuan muncul.
[Celah Dimensi telah tertutup]
Kurasa satu masalah telah teratasi.
Beberapa hari setelahnya aku, Nermia dan Lumia pergi bersama untuk acara keluarga.
Berbeda dari tempat sebelumnya dengan istriku yang lain, kami pergi ke sebuah desa indah yang mana di sini menawarkan perternakan lebah.
Nermia terus saja bersembunyi di belakangku, walau dia seekor naga, Nermia masih memiliki rasa takut ternyata... hanya putri kami Lumia saja yang asyik bermain dengan para lebah.
Lebah ini sejujurnya tidak menyengat karena itu tidak perlu ditakuti.
"Lihat mama, aku membuat pakaian dari lebah."
"Sayang, jangan terlalu dekat dengan mereka."
Nermia melirik ke arahku dengan pandangan bermasalah.
"Aku harap kita datang ke sini bukan hanya untuk bermain lebah kan?"
"Tentu saja tidak, lebah menghasilkan madu.. kau pasti akan menyukainya."
"Madu?"
"Kalian berdua pasti belum pernah mencobanya."
Seorang petugas wanita berkata ke arahku.
"Yang kotak ini akan kami panen, apa tuan Kazuya ingin mencobanya?"
"Aku serahkan pada istriku."
__ADS_1
"Aku? Aku takut."
"Tidak akan terjadi apapun."
"Kalau begitu aku perlihatkan caranya."
Aku menggendong Lumia di pangkuanku dan kami berdua terlihat bahagia melihat Nermia yang kesulitan dalam melakukannya.
Pertama dia mengangkat sarang lebah kemudian memotong-motongnya menjadi beberapa bagian yang dia taruh ke dalam ember.
"Apa seperti ini."
"Benar nyonya."
Aku dan Lumia bertepuk tangan kagum sedangkan Nermia tersenyum bangga, tapi ini hanya bagian awalnya, selanjutnya kami memeras sarang tersebut untuk mengeluarkan madu yang berada di dalamnya.
Setelah dimasukkan ke dalam botol kecil lewat penyaringan, kami bisa mencobanya.
Aku menggelar tikar di bawah pohon lalu meletakkan keranjang roti dari sihir penyimpananku.
"Mau papa bantu?"
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Baiklah, dan Nermia?"
"Tolong oleskan madunya untukku."
Dia lebih manja ternyata.
"Suapin."
"Baiklah."
Aku mengirim potongan roti padanya.
"Enak sekali, rasanya manis.... mari beli beberapa untuk dibawa pulang, apa Lumia juga menyukainya."
"Um... aku rasanya bisa memakannya setiap hari."
__ADS_1
"Syukurlah."
Aku hanya tersenyum sebagai balasan.