Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 394 : Pulau Bagi Para Gorila


__ADS_3

Setelah memperbaiki tembok aku mengalihkan pandangan ke arah kumpulan prajurit yang sedang bertarung.


Mereka menghunuskan pedang dengan semangat memotong bagian burung dari segala arah.


Frigel dan Kelly mengincar kakinya, saat burung itu kehilangan keseimbangan para prajurit turun ke bawah dan bersama-sama menusuk burung tersebut.


Frigel melompat untuk memberikan serangan akhir, pedangnya bercahaya mengoyak leher si burung hingga terpenggal. Kurasa itu akhirnya.


Aku duduk di tembok selagi merasakan hembusan angin menerpa wajahku, di tanganku aku memegang topeng yang terlepas dari tubuh Skargo lalu menghancurkannya selagi tersenyum kecil.


Dunia tidak memerlukan benda seperti ini.


Malam harinya di istana sebuah pesta diadakan. Mevilda memberikan mendali pada Rima dan dengan ini satu roh telah didapat kami.


"Tepuk tangan untuk para pahlawan kita," ucapan Mevilda membuat pesta ini semakin meriah.


Keesokan paginya kami meninggalkan kekaisaran dengan menunggangi Bellatrix dalam wujud naganya, kekaisaran ini akan berubah menjadi lebih baik ke depannya dan nanti mungkin pemimpinnya akan berubah.


Bellatrix terbang di sepanjang awan yang membentang di hadapan kami, di atas kepalaku Dorothy dengan senang mencoba meraih ikan yang terbang di sampingnya sementara Rima memperhatikan mendali yang baru didapatkannya.


"Ngomong-ngomong Rima, kenapa kau mengumpulkan roh kuat?" tanyaku.


"Di negeriku ada kompetisi pertarungan roh, aku ingin berpartisipasi di sana dan mendapatkan gelar pengguna roh nomor satu."

__ADS_1


"Begitu, sayang kita tidak bisa menemukan roh bintang yang lainnya."


Rima menggelengkan kepalanya lalu membalas dengan senang.


"Bagiku semua roh yang kumiliki sekarang sudah cukup, aku mempercayai mereka semua begitu juga mereka padaku."


Rima mengeluarkan mendali lalu melemparkannya hingga muncul roh wanita dengan membawa harpa.


"Halo, halo, apa yang bisa kubantu untuk nona Rima?"


"Tolong mainkan musik petualangan."


"Laksanakan."


Alunan musik yang merdu abad pertengahan mengantarkan perjalanan kami selanjutnya.


Jika di dunia lain, ini disebut sebagai pohon pisang yang mana di sinilah mendali kedua yang kami cari berada.


Wilayahnya sendiri sangatlah luas dan hampir seluas satu kerajaan, hanya saja bukan manusia yang tinggal, melainkan para gorila yang bisa berbicara layaknya manusia, konon dulu ada penjelajah langit yang membawa mereka kemari dan sekarang mereka hidup baik di tempat ini.


Bellatrix mendaratkan kakinya di tanah, tepat saat kami turun dari punggungnya para gorila menghampiri kami.


Salah satunya berkata.

__ADS_1


"Mohon maaf, pulau ini tidak menerima pengunjung berasal dari manusia."


"Bagaimana sekarang Kazuya?" tanya Rima.


"Kami hanya datang untuk mencari sebuah mendali, setelah mendapatkannya kami akan pergi."


Gorila itu diam seolah memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin mendali dengan ukiran seorang wanita?"


"Benar sekali, bisakah kami memilikinya."


"Maafkan aku tapi, mendali itu sudah dijadikan sebagai hadiah... jika kalian mau, kalian harus ikut bertanding melawan lebih dari dua puluh gorila yang ikut berpartisipasi."


"Sebanyak itu," teriakku.


"Mendali itu kami jadikan sebagai simbol kerajaan kami jadi siapa yang mendapatkannya akan menjadi penguasa pulau ini."


"Tapi kami tidak berniat menjadi raja atau hal seperti itu."


"Jangan khawatir, jika kalian menang maka kalian bisa memberikan tahtanya pada raja sebelumnya."


"Kurasa itu patut dicoba," atas pernyataan Rima kami mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Pertarungan sendiri mirip seperti olah raga sumo dimana dua orang yang bertanding berusaha mengeluarkan satu sama lain dari lingkaran.


Kurasa kami akan memilih Bellatrix sebagai perwakilan.


__ADS_2