
Kami bertiga muncul di sebuah game yang dimaksud, dengan kekuatan Dewi aku tidak perlu menaikan level dan levelku juga sangat tinggi.
Aku menjadi pria tua dengan kapak besar.
"Haha waktunya beraksi."
Untuk Dewi Hecate dia menjadi gadis Pendeta dengan tongkat sedangkan Dewi Amnesia wanita kesatria.
"Mari rekan-rekanku yang berharga, kita akan mulai menerobos tempat ini dan mengalahkan seluruh bos hoho."
Dia terlalu jauh memainkan perannya.
Ketika kami berjalan para monster bermunculan dan kami saling bahu membahu mengalahkannya, ada beberapa skill yang bisa kugunakan, paling tidak skillnya lebih baik dibanding skill yang kupunya.
Pertama skill lempar kapak seperti boomerang lalu disusul skill penghancur.
"Nice pak tua, serahkan sisanya padaku."
"Aku bukan pak tua."
Dengan tebasan dua pedang Dewi Amnesia menyelesaikan sisanya.
"Ngomong-ngomong dimana Dewi Hecate?"
"Ah, di sana."
Aku melihat dia telah digigit serigala lalu dibawa pergi
"Selamatkan aku."
__ADS_1
"Huaaaahhh...."
Setelah cukup lama mengejarnya akhirnya aku berhasil menyelamatkannya.
"Aku lengah."
Mana perkataan dari "Kutunjukan kehebatanku" itu.
Kami melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu masuk ke dalam Dungeon, setiap monster yang kami kalahkan berubah menjadi exp dan peti harta karun.
Sayangnya semua ini tidak bisa digunakan di dunia nyata, Dewi Amnesia melihat sebuah peti harta karun dan berlari untuk memeriksanya namun sayangnya itu hanyalah jebakan, setengah badannya dilahap.
"Ah, aku akan mati."
Sebelum HP-nya habis aku berlari menyelamatkannya.
"Huaaaahhh.."
"Setelah mengalahkannya kita bisa pergi ke stage terakhir, pastikan jangan mati."
"Aku akan berusaha."
"Aku juga."
Bos yang akan kami hadapi langsung muncul di depan kami, itu adalah badut raksasa yang membawa gergaji mesin di tangannya.
"Bukannya ini terlalu menakutkan."
"Jangan takut, mari serang bersama-sama, lagipula ini hanya game."
__ADS_1
Dewi Amnesia meluncur ke depan dengan kecepatan kilat, aku yakin Agi-nya mencapai 1000 lebih, aku juga mengikutinya dengan menyerang kaki si badut, sedangkan Dewi Hecate terus membantu kami dengan sihir penyembuhan dan perlindungan.
Saat memainkan game seperti ini, bos akan terlihat biasa-biasa saja saat HP-nya masih penuh namun, saat mencapai pertengahan pola serangannya akan berubah dan bos menjadi menakutkan.
Badut itu tertawa dengan gigi berjeruji.
"Gunakan skill Haru Kazuya."
"Aku tahu."
Aku menggunakan seluruh MP yang kupunya begitu juga Dewi Amnesia, hingga hanya tinggal satu serangan lagi kami bisa memenangkan stage ini.
Saat kami berharap sebuah keajaiban terjadi, teriakan Dewi Hecate memberikan kami harapan.
"Aku akan menyelesaikan... Explotion."
"Oi itu skill orang lain," teriakku.
Dan selanjutnya pilar api raksasa menelan seluruh keberadaan badut hingga musnah, bahkan aku dan Dewi Amnesia terlempar ke belakang.
"Hoho sekarang lihat kehebatanku."
Kami berdua hanya bisa tersenyum saat menatap Dewi Hecate berdiri dengan pose kemenangannya.
Kami akhirnya tiba di stage terakhir yang menurutku biasa-biasa saja, di dalam hutan kami bertiga melawan monster seperti biasanya.
Saat ada peti harta karun aku selalu mengeluarkan Dewi Amnesia dari sana, sejauh ini dia tidak pernah belajar.
Dan untuk Dewi Hecate dia selalu ditelan makhluk aneh, kupikir rasa dari job pendeta disenangi para monster.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan berbagai kesulitan, akhirnya kami tiba di bos terakhir yang merupakan naga berkepala dua.
"Hell Dragon."