
"Jika aku meraba-rabamu apa aku akan mati."
"Tentu saja, oleh tanganku."
"Menakutkan sekali, kau bisa memakan es krimmu juga.. aku sudah membayarnya bukan."
"Kau pria yang baik, meksipun sangat mesum."
"Aku tidak sebaik itu."
Aku memanggil anak-anak yang bermain di sepanjang trotoar.
"Oi kalian, kalian mau es krim gratis."
"Yang benar pak."
"Tentu saja, asal jangan menyebutku pak.."
"Biar aku."
"Kau duduk saja, biar aku saja yang melakukannya."
"Cuma hari ini gratis, jika besok kalian harus bayar."
"Okelah kalau begitu."
Sekitar 30 anak mendapatkan es krimnya.
Aku duduk di sebelah wanita tersebut.
"Jika aku belum menikah aku pasti akan memberikan tubuhku, aku seorang janda."
"Aku suka yang sudah menikah juga."
"Apa-apaan itu?" wanita itu tertawa kecil. Bagaimanpun dia tahu bahwa aku cuma bercanda.
Dibanding menjadi pria yang dikagumi dengan bicara sopan dan tata krama agar seseorang menghormatimu, aku lebih suka berbicara seperti ini.
Tak lama seorang gadis kecil muncul.
"Mama."
"Putriku yang sudah sekolah akhirnya pulang juga."
__ADS_1
"Aku dapat nilai seratus."
"Putriku memang hebat."
"Siapa dia mama?"
"Ini orang jahat, dia bilang ingin meniduri mama."
"Meniduri?"
"Itu cara membuat adek baru."
"Sebenarnya apa yang kau katakan pada anak kecil," kataku bangkit selagi meregangkan tubuhku.
"Es krimmu sudah habis.. mulai besok kau akan sibuk."
"Jangan khawatir, dengan uangmu aku sudah tidak perlu bekerja beberapa hari ke depan bahkan sisanya bisa membeli toko kami sendiri."
Aku tersenyum lalu melambaikan tanganku pergi.
"Sebentar lagi peperangan akan berakhir, bersabarlah sedikit lagi."
Putri maupun ibunya hanya memiringkan kepalanya bingung, saat aku tiba di kedai sebelumnya istriku maupun Akane dan Amaterasu tampak berada di luar.
"Gadis loli yang menjadi tuan tanah di sini telah diculik, semua orang masih mencarinya."
"Mungkin dia tertidur di suatu tempat."
"Ini hal yang sebenarnya."
Pada akhirnya aku membantu untuk mencarinya, dengan naik ke atas genteng rumah aku bisa melihat seorang pria dengan topeng hitam sedang membawa karung besar di punggungnya.
Sudah jelas di dalamnya pasti pemilik tanah ini.
Dia membawanya masuk ke dalam kereta sebelum berangkat bersama rekannya, aku hanya menatap dengan pandangan bermasalah. Soalnya salah satu penjahatnya adalah orang yang pura-pura tangannya putus.
Padahal kami sedang perang mereka malah memanfaatkannya.
Dengan gerakan cepat aku melompat dari satu bangunan ke bangunan lain, baru keluar dari kota aku sudah berdiri di depan kereta tersebut.
"Mau pergi kemana kalian? Lepaskan orang yang kalian bawa itu."
"Muke gile, lu mau nantangi kami... Brian serang dia."
__ADS_1
"Serahkan padaku."
Penipu itu mempunyai nama keren. Benar-benar tidak cocok.
Brian mengambil balok kayu lalu mengayunkannya padaku aku hanya menahannya dengan punggung tangan hingga balok tersebut hancur.
Dibanding makhluk bencana mereka bukan apa-apa.
Dengan satu tendangan aku menjatuhkan Brian, rekannya yang berjumlah empat orang turun untuk menghajarku beramai-ramai namun seperti yang diduga mereka malah babak belur olehku.
Aku mengeluarkan gadis kecil itu dari karung, dia benar-benar sangat imut.
"Kau baik-baik saja gadis kecil."
"Siapa yang kau panggil gadis kecil, aku sudah berumur 20 tahunan."
"Benar-benar tidak terlihat."
Aku menarik pipinya.
"Ini pelecehan."
Bertepatan itu seluruh warga kota terlihat berlari ke arahku, di sana juga ada anggota kelompokku.
"Itu dia, jadi pria itu bos mereka... tangkap, bakar, bakar."
"Tunggu aku bukan penjahatnya."
Aku akhirnya berlari sementara para penduduk itu mengerumuni gadis tersebut dan menangkap komplotannya, Selly, Sella, Akane dan Amaterasu juga berlari di sampingku.
"Sungguh menyenangkan, jadi begini rasanya dikejar penduduk sebanyak itu," ucap Selly disusul Sella.
"Menyenangkan."
"Kakiku sakit."
"Kalian ini seharusnya tidak ikut lari."
"Sekarang kita pergi kemana?"
"Masih ada dua hari lagi, mari jelajahi tempat yang menyenangkan lagi."
"Kau ini."
__ADS_1