
Melanjutkan perjalanan, kami akhirnya sampai di tenda di mana pasukan Ken berada, sama seperti apa yang terjadi sebelumnya pasukannya juga banyak yang terluka yang sedang menerima pengobatan.
"Kalian semua sedikit terlambat."
"Kami harus melawan makhluk bencana sebelum bisa kemari," balas Ibela.
"Itu gawat sekali syukurlah kalian bisa datang kemari," balas Ken selagi memberikan kertas informasi yang ditulisnya.
"Ini semua?"
"Kami sudah mencoba untuk menyerang kota sebanyak tiga kali sayangnya ada orang merepotkan di sana bersama kumpulan tengkorak, kami sudah mengatasi yang lainnya hanya tinggal dia seorang."
Aku yang diam-diam mendengarkan melirik ke arah kota, di mana ratusan tengkorak membentuk dirinya menjadi sekumpulan benteng.
Di benteng itu ada seorang pria yang bersantai dengan sebuah seruling di tangannya.
"Itu suling kematian kah."
"Kami siap bertarung lagi jika diharuskan, lagipula hanya menunggu waktu sampai mereka balik menyerang."
Aku segera memotong.
"Bagaimana soal pasukan Amandeus?"
"Mereka masih berada di dalam kota, aku yakin setelah kita menembus tengkorak itu, mereka akan keluar untuk menyerang kita."
Mereka cukup pintar, taktik bertahan dan menyerang dengan mengandalkan pasukan secara bergelombang.
Ken menghela nafas panjang
__ADS_1
"Sekarang bagaimana?"
"Kita akan menyelesaikan ini secepatnya sebelum matahari tenggelam, bawa dulu pasukanmu setelah tengkorak dihancurkan kalian mundur dan pasukanku yang bergantian menyerang."
"Ah, itu ide bagus."
Selly dan Sella mengangkat tangannya.
"Bolehkah kami hanya berada di garis belakang, kami akan membantu yang terluka."
"Aku juga," tambah Amaterasu.
Ken dan Ibela melirik ke arahku yang mengangguk setuju.
"Kami mengerti."
Setelah bersiap-siap sebentar aku maju bersama Ken dan pasukannya, para tengkorak bermunculan dari dalam tanah lalu menyerbu kami.
"Kazuya."
"Aah."
Aku dan Ken mengayunkan pedang secara bersamaan menjatuhkan satu tengkorak besar hingga tumbang, Akane dan Ibela akan menyerang di gelombang dua sampai saat itu kami harus segera mengalahkan mereka.
Menyerahkan pasukan tengkorak untuk di atasi para prajurit, aku maupun Ken memanjat tembok demi mengincar pria di atasnya.
Ia meniup suling membuat angin tornado dari sana yang mana menjatuhkan kami berdua ke tanah, pria itu mendaratkan kakinya dengan angin yang membantunya berdiri tegak.
"Kalian berdua membuatku kesal, akan kuselesaikan dengan cepat."
__ADS_1
Jika kami berhasil mengalahkannya maka semua tengkorak ini akan menghilang, aku melompat untuk mengirim bilahku dari atas.
Suling cenderung rapuh akan tetapi suling ini berbeda, tak hanya kuat suling ini juga bisa membuat sihir luar biasa.
Di saat aku diterbangkan, pedang Ken menyisir permukaan tanah dia mengayunkannya dari bawah dan dengan cepat pria itu menghindarinya.
"Menyingkirlah."
Pria dengan suling menendang wajah Ken hingga dia melesat ke atas, melihat ada celah aku kembali menyerangnya hingga menghasilkan suara yang memekakkan telinga.
Tanganku terus menebas dengan kecepatan tinggi.
"Kau tidak akan bisa mengenaiku."
"Bagaimana dengan ini?"
Aku menginjak kakinya hingga dia kesakitan sebelum menebaknya dengan sihir api, ledakan membungkus pria tersebut dan aku melompat jauh untuk menjaga jarak
"Apa berhasil?" tanya Ken muncul dari belakangku.
"Masih belum."
Dari dalam asap yang mengepul sebuah bola-bola angin ditembakan secara terus-menerus, aku memantulkan seluruh sihirnya selagi menerjang ke depan sementara Ken sendiri juga berlari di belakangku.
Tepat saat sosok pria itu terlihat jelas, aku menyerahkan sisanya pada Ken yang melompat di atasku selagi mengayunkan pedangnya ke arah musuh.
Pria itu terbelah dua bersamaan dengan sulingnya yang terpotong rapih. Ken berteriak saat kumpulan tengkorak menghilang.
"Semuanya mundur," tepat saat itu pasukan Ibela mulai maju menggantikan kami.
__ADS_1
Sama seperti pihak kami, mereka juga mengirimkan para prajuritnya.