Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 351 : Pertarungan Di Atas Laut


__ADS_3

Pedang di punggungnya mulai menyebar ke segala arah dengan masing-masing menembak sinar ke arahku.


Aku menahannya dengan pedang Grandbell kemudian berlari ke samping. Pedang ini jelas mengikutiku ke manapun aku pergi.


Mereka membuat gerakan berputar dengan tembakan beruntun bahkan ketika aku membakar seluruh senjatanya, itu tidak bisa sampai menghancurkannya.


Di sisi lain Valesta menciptakan meriam raksasa siap menembakku, setiap peluru yang ditembakkannya menghasilkan dentuman keras.


Aku beberapa kali menahannya dengan pedang Grandbell sebelum memakai topeng yang dulu pernah kukenakan.


"Demon Blade."


Pedang Grandbell melahap keberadaan Valesta seutuhnya.


"Percuma, dengan serangan seperti ini, armorku bahkan tidak akan lecet sedikitpun."


Prang.


Pedangku hancur berserakan, tepat di waktu bersamaan peluru menghantam wajahku menghancurkan topengku hingga membuat tubuhku berputar-putar di permukaan air kemudian menghantam bangunan di pesisir pantai.


Aku mendorong reruntuhan yang menindih tubuhku sementara Valesta terbang dari langit dan mendarat di atasku, dia mencengkeram wajahku.


"Lebih banyak... lebih banyak, perlihatkan penderitaanmu."


Seluruh pedang yang terbang di langit kembali membentuk sayap sedia kala. Dengan ringan Valesta melempar tubuhku menghantam bangunan lain.


"Sihir dewa benar-benar luar biasa, bahkan aku yang memiliki sistem dari dunia ini tidak mengetahui apapun soal ini."


"Kau mengoceh apa? Aku sama sekali tidak mengerti."


Jika mengingat perkataan Dolla sudah jelas entah sihirnya ataupun sihir milik Valesta, keduanya berasal dari dunia lain.

__ADS_1


"Nah Valesta, siapa yang memberikan kekuatan seperti itu pada kalian?"


"Entahlah, dia sama sekali tidak menunjukan wajahnya pada kami semua."


Itu malah membuatku semakin penasaran.


"Cukup omongannya, saatnya mengakhiri pertarungan ini."


Dia menciptakan kembali meriam raksasa di belakangnya, sesaat sebelum ditembakkan. Punggungnya meledak hingga membatalkan sihir tersebut, itu berasal dari pedangnya sendiri.


"Kenapa bisa meledak?"


"Saat pedang itu mengincarku. Tanpa sepengetahuanmu, aku menempelkan lingkaran kecil."


"Membuat lingkaran sihir dengan ukuran kecil itu jelas mustahil."


"Mudah saja, sama seperti kita mengalirkan mana ke jari telapak tangan aku pun melakukan hal sama, hanya saja mana yang kuambil langsung berasal dari tubuhmu."


"Terserah, yang penting aku menang."


"Kau."


Valesta menciptakan dua meriam raksasa, saat aku menjentikkan jariku meriamnya langsung meledak, bersamaan itu aku memukul perutnya hingga cairan menyembur dari mulutnya.


"Bwah."


"Sepertinya sihir dewa tidak bisa digunakan semaunya, batasan kekuatannya hanya 10 menit sampai 20 menit saja."


"Sejak awal kau mencoba menganalisanya, kau benar-benar orang yang mengerikan," katanya sebelum pingsan.


Valesta kembali ke wujudnya biasanya dan aku membawanya di pundakku.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku tidak berniat membunuh siapapun."


Saat aku hendak melangkah. Hornes menghalangi jalanku selagi mengacungkan pedang ke arahku.


"Aku tidak akan membiarkan kau membawa Valesta, kau harus membunuhku lebih dulu."


"Jika itu maumu, baiklah."


Aku menjentikkan jariku dan kepalanya langsung meledak, ketika tubuhnya jatuh kuhidupkan kembali.


"A-apa yang terjadi?"


"Barusan kau mati, jadi aku bisa melewatimu sekarang."


Hornes hanya terdiam membeku, tubuhnya gemetaran hingga keringat membasahi wajahnya, bahkan saat aku meninggalkannya jauh dia masih membeku di tempat lalu berteriak.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA..."


Yah, nggak usah dramatisir juga kali, lagipula Valesta tidak akan aku apa-apakan. Aku hanya ingin tahu dewan penyihir sisanya serta kemampuan yang mereka miliki.


Di kedai itu aku memesan makanan untuk dua orang. Valesta hanya cemberut selagi memalingkan wajahnya.


"Kau tidak makan? Makanan ini, makanan paling enak di sini."


"Berisik."


Saat aku akan mengambil jatahnya, dia lebih dulu memeganginya.


"Akan kumakan."


Malu-malu kucing kah? Padahal perutnya sudah dari tadi berbunyi terus.

__ADS_1


__ADS_2