
Helfina memegangi kepala sesaat, lalu bertanya ke arahku selagi memicingkan matanya.
"Kenapa kau bisa memanggil mereka?"
"Apa boleh buat, mereka memang aneh tapi bisa diandalkan."
"Siapa yang aneh?" mereka juga ternyata kompak.
"Ngomong-ngomong tuan Kazuya, tugas kami apa sekarang?" tanya Rin.
"Aku ingin meminta kalian bertiga ikut berperang nanti, kalau sekarang kalian bisa bersantai di sini."
"Begitukah, kalau begitu."
Aku memegangi kerah pakaian Rin dari belakang.
"Kau tidak berniat untuk menodai wanita yang ada di sini bukan."
"Mana mungkin, aku ini wanita polos yang baik-baik."
"Dia berbohong," potong Gabriela.
Sesuai yang diharapkan dari malaikat, mereka bisa mengetahui mana yang bohong dan jujur.
"Amnestha, tolong ikat dia dan awasi terus."
"Baik tuan."
"Tunggu, tolong biarkan aku bebas... ini sudah lama sejak aku datang ke dunia ini, tolong aku nona Helfina."
"Aku tidak ingin menjadi korbanmu nanti," balasnya demikian.
"Heh."
Untuk sekarang masalah telah di atasi.
Saat aku berbalik untuk berjalan pergi tiba-tiba saja sebuah panah menembus tubuhku, bersamaan itu darah menyembur dari mulutku hingga keheningan yang terasa menyesakkan tercipta di sekelilingku.
Ini aneh karena aku tidak bisa merasakan seseorang berada di jarak 1 km, jangan bilang.
__ADS_1
Aku berteriak ke arah Amnestha.
"Cepat buat pelindungmu, searah panah ini dilesatkan."
"Baik."
Amnestha melompat ke depan lalu menyentuhkan dua tangannya di tanah demi menciptakan tembok terbuat dari tanaman setinggi langit, di saat itu juga beberapa panah mulai menghancurkannya dengan hebat.
Helfina segera mendekatiku.
"Lukamu Haru?"
"Tak masalah, panah ini menembus jantungku.. aku lengah."
Aku menarik panah itu dengan tanganku lalu menjatuhkannya ke tanah. Helfina yang melihatnya hanya bisa menutupi mulutnya dengan tangan selagi terbelalak kaget.
"Kau abadi."
Luka di tubuhku kembali menutup.
Rin berkata ke arahku.
"Aku tahu siapa yang melakukannya... barusan dia menembak dari jarak lebih dari 100 mil. Dia pahlawan ketiga."
"Kenapa kau bisa yakin begitu?" tambah Gabriela.
"Di dunia ini tidak ada manusia yang bisa melakukannya kecuali dia memiliki berkah Dewi... pertama Heis adalah orang yang dikirim oleh kerajaan yang menjadi musuh kita, dengan ini bisa diasumsikan bahwa semua pahlawan berada di kerajaan itu sekarang, termasuk pahlawan ledakan."
"Ini tidak lucu, pahlawan yang seharusnya melindungi kita malah berbalik menjadi musuh," kata seorang prajurit yang baru datang bersama para prajurit lainnya.
Suara Amnestha memotong.
"Anu, kalau kalian sudah selesai mengobrolnya, bisakah seseorang membantuku... aku sangat kewalahan."
Rin maupun Grabiela memiliki sihir unik karenanya mereka akan kesulitan menghadapi serangan seperti ini, akan lebih baik jika aku sendiri yang mengatasinya.
Aku berjalan mendekat ke samping Amnestha.
"Kerja bagus Amnestha, tahan sebentar lagi untukku."
__ADS_1
"Akan kuusahakan."
Aku menciptakan sebuah busur hitam di tangan kiriku, sekilas busur itu menyerupai sosok iblis hingga semua orang di belakangku hanya diam membisu.
Saat aku menariknya itu menciptakan panah terbuat dari api hitam yang mana segera kulesatkan dengan kecepatan tinggi, dengan ini sudah cukup.
Beberapa saat sebelumnya di atas menara tertinggi di istana kerajaan Artana, seorang pria yang dijuluki pahlawan berdiri dengan gagah selagi mempersiapkan busur di tangannya, sementara di sampingnya adalah sang raja yang dengan senang tertawa bersama penasehatnya.
"Habisi pemimpinnya."
"Serahkan padaku yang mulia."
Pahlawan itu melesatkan panah di tangannya yang mana mampu membelah awan hingga dalam sekejap panah itu menghilang dari pandangan mata.
"Bagaimana?" tanya raja.
"Tepat sasaran, dengan mataku serta kemampuanku tidak ada yang akan luput dari anak panahku."
Sama seperti Heis pahlawan itu memiliki mata jahat yang mampu membuatnya melihat dari kejauhan.
"Itu bagus haha."
"Bagaimana sisanya?"
"Habisi saja."
"Laksanakan."
Secara terus menerus pahlawan itu melepaskan panahnya dengan jumlah banyak sampai sebuah panah terbuat dari api hitam melesat ke arahnya dengan kecepatan kosmik, di detik-detik terakhir ia menyadarinya hingga panah itu bisa dihindari.
Akan tetapi.
Tangan kirinya putus dan darah menyembur memenuhi lantai.
"Tanganku, tanganku."
Kedua orang yang melihatnya hanya bisa menelan ludah.
"Aku akan memanggil penyihir penyembuh."
__ADS_1
Beberapa kali pun mencoba tangan itu tidak bisa disatukan kembali.