
Ketiga orang itu menungguku di depan gerbang masuk akademi, kedua orang yang baru kuselamatkan memperkenalkan dirinya.
Rambut merah panjang bernama Esna sementara gadis berambut biru sebahu bernama Thenta.
Keduanya siswa akademi seangkatan dengan kami.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami."
"Bukan apa-apa, aku barusan lari lalu memanggil para penjaga demi menangkap mereka."
"Begitu."
"Ngomong-ngomong apa kalian berdua siswa baru?"
Kami mengangguk mengiyakan, saat kami mengatakan bahwa kami berada di kelas rakyat jelata mereka berdua lebih bersemangat.
"Kami juga berada di sana, benarkan Thenta."
"Um... kami berdua anak petani yang mencoba bersekolah di sini."
Jika melihat ke siswa sekelilingku kesenjangan sosial benar-benar terlihat jelas di sini, untuk sekarang kami akan pergi ke kelas, guru kami seorang wanita muda berpenampilan seperti ilmuwan pada umumnya, yang membedakan hanyalah warna jasnya berwarna ungu seperti warna rambutnya yang dikepang ke samping.
Namanya Renaya.
"Anak-anak kita kedatangan siswa baru silahkan perkenalkan diri kalian."
"Namaku Almaira Riteila salam kenal."
Saat mendengar nama tersebut, semua orang berbisik-bisik satu sama lain. Sudah jelas mereka tidak mengenal sosok putri akan tetapi mereka mengetahui namanya.
__ADS_1
Salah satu murid bertanya.
"Bukannya Anda tuan putri, kenapa seorang putri ingin masuk ke kelas rakyat jelata?"
"Soal itu..."
"Aku yang memaksanya," potongku demikian.
"Sebagai putri dia harus tahu bagaimana hidup di kalangan bawah... ngomong-ngomong namaku Beaufort Reymond, aku suka dada yang besar terutama punya ibu Renaya... boleh aku sentuh."
"Ara, aku tidak mengijinkannya."
Semua orang serempak berkat," Sampah," kemudian mengasumsikanku sebagai kacung tak tahu diri.
Aku membiarkan perkataan itu begitu saja untuk duduk di kursiku. Renaya mendesah pelan.
"Aku akan memangku ibu, silahkan duduk di sini."
Semua siswa pria mulai memukuliku.
"Orang ini sangat menyebalkan."
"Injak lagi lebih keras, aah.... mantap," aku bertingkah seperti seorang super M. Hingga semua orang menjauhiku.
Mungkin tidak semuanya, hanya Esna, Thenta dan Almaira saja yang masih mau mendekatiku.
Selama pelajaran hanya diisi oleh pelajar membosankan hingga aku tertidur di mejaku, membuat sihir setelah merapal mantra panjang benar-benar tidak efisiensi, jika seperti itu maka mereka akan lebih dulu terbunuh sebelum sihirnya aktif.
Karena Renaya yang mengajar, aku tidak akan mengatakan apapun lagi. Selepas pelajaran usai hanya aku dan Renaya yang masih di dalam kelas.
__ADS_1
Ia duduk selagi menyilangkan kakinya menunjukkan senyuman nakal di wajahnya. Sebelum menghadap raja kami tanpa sengaja bertemu dan Minerva mengenalkannya padaku.
"Bagaimana rasanya dibenci saat baru pertama kali masuk ke akademi dan juga dianggap mesum parah."
"Lumayan juga, ini hanya jalan satu-satunya agar tidak banyak orang terlibat denganku."
"Kau benar-benar totalitas."
Aku menerima berkas dokumen dari Renaya.
"Sepekan ini ada tiga kejadian yang terjadi secara serempak, semua siswa ditemukan mati dan anehnya yang diincar adalah siswa-siswi yang berprestasi, entah itu dalam bidang akademik maupun non akademik."
"Mungkinkah tiga orang ini adalah peringkat pertama sampai ke tiga di akademi ini."
"Tepat sekali, kurasa pembunuh itu menandai targetnya dengan melihat nama hasil ujian."
"Benar-benar tak terduga."
Aku melirik ke arah jendela untuk melihat semua siswa keluar dari bangunan, masa muda memang terlihat berkilauan.
"Jadi apa yang akan kau lakukan?'
"Untuk sekarang aku akan melihat-lihat akademi ini, lagipula ketiga orang yang terbunuh dibunuh dengan cara berbeda tapi mayatnya diletakan di tempat yang sama, itu yang membuatku penasaran."
"Lakukan apapun yang kau inginkan, jika ada apa-apa tanyakan saja padaku."
"Aah."
Aku hanya menatap punggung Renaya yang telah menghilang dari balik pintu yang tertutup.
__ADS_1