Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 182 : Orang Desa


__ADS_3

Sesampainya di kota aku malah berubah menjadi kuli bangunan, berbekal cangkul serta handuk di pudakku aku mulai membuat parit.


"Uwaaahh, jangan remehkan penduduk desa."


Aku menyelesaikannya selama tiga hari.


"Ini upahmu."


"Terima kasih bos, sekarang aku tidak perlu tidur di kandang kuda lagi dan bisa makan sampai kenyang."


Dia menepuk bahuku dan berkata kasihan.


"Entah kenapa, aku sangat prihatin."


Gabriela suka sekali mengemil makanan hingga aku sama sekali tidak bisa menabung sedikitpun, yang ada uang jatah makanku terbang menjauh.


Dari parit aku pindah ke sisi bagian luar kota untuk membangun tembok tinggi, apa yang bisa aku kukatakan hanyalah.


"Jangan remehkan orang desa."


Orang-orang mulai berbisik satu sama lain di belakangku.


"Apa kita meremehkannya?" tanya salah satu orang heran.


"Tidak ada siapapun yang meremehkannya, malahan kami kagum dengan kerjanya."


"Mungkin itu slogannya kali."


"Sepertinya begitu."


"Uwaaaaaaaahh."


Setelah selesai kami semua akan pergi untuk minum-minum di bar, untukku sendiri hanya meminum minuman bebas alkohol. Ketika aku mengintip para pelayannya Gabriela muncul dengan panik.

__ADS_1


"Tuan, aku dikejar seseorang."


"Apa ada musuh?"


Yang muncul bukan satu orang melainkan 10 orang sekaligus dan mereka bukan musuh melainkan pedagang yang meminta hutang Gabriela untuk dibayar.


Aku menarik pipi Gabriela setelah membayar semuanya.


"Kau?"


"Uwaaah, sakit, sakit.. jangan menarik pipiku."


"Jangan remehkan orang desa."


"Tidak ada yang meremehkanmu tuan."


"Berisik, jika begini terus aku bisa bangkrut sialan."


Dia iblis.


Aku menghela nafas panjang lalu keluar dari bar untuk tidur di kandang kuda.


"Sudahlah, paling tidak aku masih punya sedikit uang untuk kugunakan nanti."


Aku tidur ditumpukkan jerami selagi menatap langit-langit yang bocor yang dengan senang meneteskan air hujan, aku melirik Gabriela yang hampir tertimpa air dan membawanya untuk mendekat padaku hingga setengah tubuhnya di atasku.


"Orang ini kalau tidur ternyata imut."


"Aku memang imut," katanya datar.


"Belum tidur ternyata." kataku lemas.


"Bukannya sudah waktunya tuan mengatakan alasan kenapa kita pergi ke kota ini."

__ADS_1


"Selain mengumpulkan uang untuk perbekalan aku ingin membeli sebuah topeng antik di rumah pengrajin."


"Topeng apa itu?"


"Topeng monster bermata tiga, kudengar topeng itu ditempa dengan baik dengan sihir dan siapapun yang memakainya akan mendapatkan kekuatan."


"Bukannya tuan sudah kuat?"


Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali.


"Aku masih lemah, walau latihan sekuat tenaga selama tiga bulan, orang desa tidak mungkin bisa menyaingi orang-orang yang memilik job di atasnya."


Gabriela hanya diam lalu menutup matanya selagi bergumam.


"Aku sudah memutuskan untuk menjadi pelayanmu, lebih baik kau gunakan aku untuk mencari uang, kita bisa memulai berburu monster."


Karena keadaan kami semuanya ulah Gabriela sudah sepantasnya dia melakukannya.


Besok siangnya di padang rumput aku berhadapan dengan Boar, menggunakan tinjuku aku memukul tubuhnya hingga dia terlempar ke samping sebelum bangkit kembali menyeruduk ke arahku.


Aku berguling ke samping lalu menarik pisau dari bajuku lalu menancapkannya tepat di lehernya hingga dia mati dan tumbang.


Bahkan untuk mengalahkan satu saja bisa melelahkan ini, aku telah bergabung di guild petualang untuk mendapatkan misi ini, berbeda dengan sistem yang diberikan pada pahlawan kami bisa melihat level kami lewat kartu petualang dimana di sana tertulis dengan baik namaku.


Nama : Beaufort Reymond.


Ras : Manusia.


Job : Orang Desa Lv1.


Skill : [Berlari cepat Lv1]


Bahkan aku tidak tahu skill itu bisa berguna atau tidak bahkan Exp dari pengalamanku bertarung sangatlah rendah.

__ADS_1


__ADS_2