
Pertarungan Selly dan Sella masih berlangsung, keduanya melompat ke udara dengan sebuah pijakan yang meratakan tanah.
Lawan mereka hadapi adalah sosok pria dengan pedang besar yang menyebut dirinya Blizzard salah satu pengguna pedang terkutuk yang melayani Raja Dunia Apocalipse.
Menggunakan pedang besarnya dia mampu menangkis serangan Selly dan Sella yang bertubi-tubi. Walau keduanya mengunakan pukulan tangan kosong, itu tetap saja mematikan.
"Selly naikan kecepatanmu dua kali lipat."
"Bukannya lebih baik tiga kali lipat saja."
"Itu terlalu cepat, pertarungan akan terasa tidak mengasikkan jika lawan kita kalah dengan cepat."
"Baiklah."
Blizzard mengerenyitkan alisnya tampak kesal.
"Jangan remehkan aku."
Dia mengayunkan pedangnya dari samping menciptakan hembusan angin kencang yang menerpa apapun yang menghalanginya, tubuh Selly dan Sella tidak bisa menahan hal itu hingga keduanya terlempar menabrak bangunan.
Di saat yang sama bercak hitam menyelimuti seluruh tubuh Blizzard dengan mata berwarna hitam gelap.
"Akan kutunjukan kutukan ke dua dari pedangku."
Beberapa lingkaran muncul di atas kepala Blizzard yang masing-masing dari sana mengeluarkan rantai raksasa dengan ujung runcing yang dihiasi api hitam.
Setiap ujungnya mengincar Selly dan Sella yang baru saja bangkit.
"Sella. Lemparkan aku "
"Oke."
Sella meraih tangan Selly di udara lalu mengayunkannya ke depan hingga Selly meluncur dengan kecepatan tinggi, ia melewati seluruh rantai yang mengincarnya selagi dengan kuat memusatkan kekuatan di tangan kanannya.
"Rasakan ini."
__ADS_1
Dentuman keras terdengar saat tinju Selly menghantam pedang Blizzard yang dia gunakan sebagai tameng.
"Percuma, pendangku tidak akan kalah dengan ini."
"Sisanya kuserahkan padamu Sella."
Tepat ketika tubuh Selly terpental pedang Blizzard seketika hancur berkeping-keping.
"Mustahil, ini pedang terkutuk loh."
Bersamaan itu Sella yang sudah berada di depannya mengirim pukulan yang sama, menghantam wajah Blizzard hingga dia berputar-putar di udara sebelum tubuhnya menabrak bangunan sejauh satu kilometer.
Selly dan Sella yang terbaring saling memegang tangan satu sama lain dan berkata di waktu bersamaan.
"Kita berhasil."
Sementara itu Akane masih kesulitan melawan musuhnya bernama Freedom.
Setiap Freedom mengarahkan ujung pedangnya, semua bangunan yang ditunjuknya langsung meledak dahsyat, bahkan puing-puingnya lenyap tanpa sisa.
"Sakit sekali."
Freedom melangkah maju, dia mengayunkan pedangnya dari atas hingga ledakan tanah tercipta saat Akane menahan dengan pedangnya.
"Haha, kelihatannya kau belum pernah menggunakan pedang sama sekali."
Sebuah tendangan mengenai perut Akane hingga dia memuntahkan cairan dari mulutnya sebelum meluncur keras di sepanjang trotoar.
Rambutnya kini tampak berantakan dengan debu menempel di setiap ujungnya.
"Walau pertama kali aku memegang pedang, aku tidak akan kalah... karena ulah kalian semua orang kehilangan senyumannya."
"Senyuman, di dunia ini hanya orang yang kuat saja yang bisa tersenyum bebas... orang lemah seperti kalian hanya harus mati."
Mata Freedom berubah menjadi gelap sementara tubuhnya juga berwarna serupa.
__ADS_1
"Akan kutunjukan seperti apa pedang terkutuk sesungguhnya."
Freedom menarik pedangnya ke belakang, tepat saat dia mendorong ujungnya ke depan sebuah cahaya gelap tercipta memusnahkan semua yang ada di depannya.
Cahaya itu menelan keberadaan Akane hingga hanya teriakannya saja yang masih terdengar.
"Sudah berakhir."
Freedom hendak berbalik namun sebuah suara memangilnya.
"Tunggu sebentar, aku belum kalah."
"Mustahil, kau seharusnya sudah mati."
Walau pakaiannya hanya tersisa menutupi bagian penting Akane, dia masih tetap berdiri dengan kekuatannya, ia menarik pedangnya dari tanah yang sebelumnya dia gunakan sebagai penahan.
"Kau menggunakan kutukan sebagai pelindung, biarlah... hanya sekali serangan lagi kau akan mati."
Freedom menerjang maju dengan pedangnya, berbeda dari sebelumnya ia memutuskan akan menghabisi Akane dengan sebuah tebasan.
Sementara itu Akane memegang pegangan pedang dengan kedua tangannya selagi berteriak.
"Aku tidak akan kalah."
"Matilah."
"Akuma Ougi.... Kagutsuchi."
"Apa?"
Prang.
Entah itu pedang Freedom atau tubuhnya, keduanya telah terbelah dua bagian.
Akane terduduk di tanah dengan air mata jatuh dari wajahnya yang cantik.
__ADS_1
"A-aku berhasil."