Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 196 : Identitas Sebenarnya dan Awal Petualangan Baru


__ADS_3

Di dalam kastil yang gelap gulita seorang pria duduk di kursi singgasananya dengan kesal, ia memiliki perawakan tinggi dengan otot dari setiap lengannya.


Setiap auranya memancarkan ketakutan yang sulit ditahan oleh siapapun.


Orang memanggilnya dengan sebutan raja kegelapan bernama Behemoth.


Di bawah cahaya yang berasal dari kilatan petir, Behemoth berdiri dari kursinya lalu mengambil satu persatu cangkir yang yang disodorkan pelayannya.


Semuanya ada empat buah yang berisi darah yang telah menghitam, satu persatu cangkir itu dia tuangkan ke lantai hingga perlahan darah hitam tersebut terangkat ke udara membentuk dirinya menjadi bentuk manusia.


Keempatnya merupakan pria yang cukup mendapatkan nilai baik di dunia bawah, sebagai iblis tak terkalahkan yang pernah ada.


Tapi bagi Behemoth mereka hanyalah tidak lebih seperti bawahan biasa.


Dari kiri adalah pria bernama Red Clover, dia memiliki wajah tampan dengan penampilannya seperti seorang pramuniaga, ia memiliki rambut sedikit panjang yang dengan senang dia mainkan dengan jarinya.


Di sampingnya Berry Lucia, seorang pria berjubah hitam yang tatapannya seperti orang mati, rambutnya sangat panjang hingga menyentuh lantai dan kebiasaan buruknya adalah memutar-mutar kepalanya seperti burung hantu


Berikutnya Adelta Laprus, pria berkacamata dengan kekejaman di luar akan sehat, dia berpenampilan rapih serta terhormat namun pada dasarnya dia sering memakan jantung wanita.


Dan terakhir pria bernama Under Head, dia tidak terlalu banyak bicara akan tetapi dia senang sekali bertarung.


Keempatnya menyambut baik tuan mereka.


"Baru saja pasukanku dikalahkan oleh seseorang, aku ingin kalian juga turut ikut ambil bagian dan berikan ketakutan pada dunia ini."


"Kami mengerti.'


-


Enam bulan berikutnya, setelah banyak menghabiskan waktu, akhirnya aku bisa membuat 10 cincin sesuai instruksi dari tumpukan kertas ini, yang kurang sekarang hanyalah mengambil batu jiwa yang berada di negeri awan.


Batu jiwa ini nantinya akan kuleburkan menjadi cairan kemudian mencelupkan seluruh cincinnya ke dalamnya.


Aku masih ragu, apa hal ini bisa dilakukan. Terlebih tempat untuk mendapatkannya sangat jauh di mana itu berada di benua lain, dan terkenal sebagai negeri awan.

__ADS_1


Memikirkan perjalanan panjang membuatku sakit perut, aku membaringkan tubuhku di lantai selagi menatap langit-langit kamarku.


"Dengan ini sudah waktunya kami pergi dari kediaman Aurora."


Aku keluar kamar dan menemukan semua makanan lezat telah di taruh di atas meja, di sana ada daging burung raksasa yang disajikan utuh setelah di panggang dengan baik.


Ketiga pelayanku, Neffiel serta Aurora langsung menyambutku.


"Jangan bilang ini pesta perpisahan untuk kami?"


"Aku sudah meramalkan bahwa kalian akan pergi dari sini besok, kurasa aku ingin membuat pesta yang meriah."


Seharusnya dia tidak usah melakukan sejauh ini.


Aku duduk di sebelah Aurora yang dengan senang menuangkan minuman di gelas kami.


"Gabriela, Rin dan Amnestha, bersama kalian sangat menyenangkan... jika kalian luang jangan lupa untuk mampir kemari."


"Mampir juga ke tempatku, aku juga akan senang jika kalian menginap atau tinggal bersamaku."


Aku berkata.


"Bagaimana denganku? Apa tidak ada yang merindukanku."


Aurora maupun Neffiel membuang nafas di waktu bersamaan.


"Kami sudah banyak mendesah untukmu, sebaiknya jangan kembali kemari," ucap Neffiel, disambung Aurora.


"Aku juga berfikiran sama, sepertinya dadaku akhir-akhir ini malah bertambah besar "


"Soal itu sepertinya aku harus minta maaf."


Ketika aku menundukkan kepalaku keduanya tertawa jahil.


"Bercanda, datanglah kemari lagi, kami juga menyambutmu."

__ADS_1


Untuk sesaat aku kira aku akan mati.


Seperti mengingat sesuatu, Neffiel berteriak ringan lalu berlari ke belakang selagi membawa empat mantel untuk kami, di lengan serta bagian lehernya terdapat bulu yang hangat.


Aku menerima warna biru, Gabriela putih, Rin merah dan juga Amnestha hijau.


"Udara mulai dingin sekarang, kurasa kalian membutuhkannya dalam perjalanan."


"Terima kasih banyak."


"Ini bukan apa-apa, bahkan harusnya aku yang mengucapkan terima kasih, kini para elf bisa hidup lebih baik.. Mereka bisa berkebun, bertani bahkan melakukan segala hal yang tidak kalah dengan pria."


Untuk pertama kalinya aku merasa bangga sebagai orang desa.


Setelah pesta berakhir kami pun berpamitan dan pergi menuruni dataran tinggi. Petualangan kami sesungguhnya mungkin baru saja dimulai.


-


"Aurora tidak, maksudku Dewi Ristal, apa Dewi yakin tidak ingin memberitahukan identitas Dewi sesungguhnya?"


"Tidak usah, lagipula aku akan senang jika mereka tidak mengetahuinya."


"Begitu."


Perlahan tubuh Dewi Ristal berubah ke wujud dirinya sendiri, tanduk dan ekornya pun telah menghilang seutuhnya.


Yang terlihat hanyalah sosok wanita cantik dengan rambut oranye panjang bergaya ekor kuda.


"Jika Beaufort tahu aku Dewi, dia pasti akan sedikit bersalah karena telah memperlakukan Dewi seperti itu selama ini."


"Soal itu, kurasa dia tidak akan menyesalinya."


"Sepertinya begitu."


Keduanya tertawa ringan.

__ADS_1


__ADS_2