
Di asrama itu, Len mulai membagi penghasilannya bersama Falena.
"Kukira kau akan sedikit curang membaginya."
"Memangnya kau menganggapku seperti apa," balas Len mengerenyitkan alisnya.
Setelah Len dan Falena mencoba menantang dungeon beberapa siswa lainnya mulai bertanya pada keduanya, saat Len menceritakannya mereka semua terlihat bersemangat.
Bagaimanapun tidak dipungkiri lagi jika hanya membunuh monster mereka bisa langsung mendapatkan uang itu bukanlah sesuatu yang buruk.
Tak ingin orang lain mendahului mereka, Len dan Falena kembali ke dungeon, mereka memulai dari lantai 5 menuju lantai 6 seperti biasanya lawan mereka hanya seekor katak yang ukurannya semakin besar dari sebelumnya.
Seekor katak melilitkan lidahnya pada Falena lalu menelannya ke dalam mulutnya hingga hanya tampak kakinya saja.
"Uwaaah... kau dimakan."
"Selamatkan aku."
Len melompat selagi berteriak.
"Ciat... ciat."
Katak itu tumbang lalu mengeluarkan Falena dari mulutnya hingga dia menangis.
"Aku diselimuti lendir, menjijikan."
"Cepatlah basuh di sana... entah kenapa aku juga jijik."
Setelah mengalahkan sepuluh katak mereka lanjut ke lantai berikutnya hingga sampai ke lantai 10 di mana bos berada, di sana seekor katak setinggi 10 meter telah menunggu mereka dengan lidah yang keluar dari mulutnya seolah siap membungkus mereka.
__ADS_1
Falena entah Len memasang wajah bermasalah.
"Aku tidak ingin dimakan katak."
"Aku juga, yang jelas lari saja dulu," teriak Falena.
Keduanya berpencar tepat saat di dekat dinding dungeon sehingga saat katak melompat tubuhnya menghantam dinding hingga berjalan sempoyongan.
"Sekarang Len."
"Enchanter."
Dengan sekali tebasan, katak raksasa itu terbelah jadi dua bagian sebelum akhirnya berubah menjadi kumpulan koin emas yang berjatuhan.
"Aku kaya, aku kaya."
"Baiklah."
Malam harinya Len maupun Falena bersandar di dinding pemandian air panas selagi menghela nafas panjang.
"Benar-benar mengerikan, kenapa monsternya hanya katak, mereka kenyal dan kenyal... rambutku jadi lengket."
"Kau masih belum apa-apa, apa kau tahu rasanya dimakan oleh katak... sekarang aku masih bisa merasakan sensasinya," tambah Falena sedikit gemetaran.
Pada umumnya dungeon bukan diperuntukkan untuk anak kecil tapi di akademi ini berbeda, mereka diizinkan asalkan mereka memiliki nilai tinggi dalam ujian.
Selagi menggosok-gosok kulitnya Falena berkata.
"Ngomong-ngomong pedang itu apa mungkin bukan pedang biasa?"
__ADS_1
"Tidak, itu hanya pedang biasa yang ditempa baik saja... aku hanya menambahkan sihir ke dalamnya."
"Aku tidak tahu sihir bisa digunakan seperti itu, bisakah kau mengajariku kurasa aku akan menggunakan senjata juga."
Len sedikit memikirkannya beberapa saat sebelum menjawab.
"Kurasa senjata tidak akan cocok denganmu, alangkah lebih baik jika kita meningkatkan seranganmu dengan atribut sihir seperti tongkat atau topi penyihir."
"Apa menurutmu begitu."
"Aah, aku tidak ingin mengakuinya kau cukup membantu di sihir serangan serta sihir pendukung."
"Aku juga tidak ingin mengakuinya tapi kau juga sangat baik di serangan jarak dekat."
Keduanya saling menatap lalu tertawa bersama.
"Tapi aku tetap akan mengalahkanmu suatu hari nanti."
"Aku juga begitu."
Pagi berikutnya mereka berdua pergi ke ibukota untuk membeli atribut sihir melalui gerbang perpindahan di desa manusia, keduanya mengunjungi toko peralatan yang biasa dikunjungi para penyihir maupun kesatria.
"Apa yang bisa kubantu degan gadis-gadis manis seperti kalian?"
"Kami ingin membeli peralatan bagus dengan uang ini."
Len meletakan sekantong uang berisi 200 koin perak di dalamnya.
"Peralatan bagus kah... sayangnya aku tidak memilikinya yang ada sekarang hanya peralatan biasanya."
__ADS_1