Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 190 : Half-Elf


__ADS_3

Di sebuah daratan yang dipisahkan oleh air di sekelilingnya tampak para wanita berasal dari ras elf disibukkan dengan saling membasuh tubuh mereka satu sama lain, apa yang bisa digambarkan dari semua ini adalah sebuah taman surga yang tidak tersentuh siapa pun.


Di antara mereka seorang pria ikut dalam keramaian tersebut, dia dengan senang membasuh tubuh mereka dan menyentuh bagian dimana ia inginkan.


Pria itu adalah seorang petualang berhati busuk yang mengisi kehidupannya dengan kepuasan duniawi.


Tanpa dikatakanpun semua orang sudah tahu.


Itu adalah aku.


"Kakak biar aku membasuh dadamu."


"Tolong yah."


Paling tidak ada sekitar dua puluh elf yang akan menjadi korban dari kejahilanku, ketika aku melakukannya sesuatu menghantam wajahku-- membawaku untuk meluncur ke permukaan air kemudian jatuh menghancurkan dinding batu.


"A-aku mati."


Seperti biasa Gabriela memukulku tanpa ampun. Tampak Rin, Amnestha serta Aurora turut bersamanya.


"Kami mencari keberadaanmu, tapi kau malah melakukan hal bodoh seperti ini," Gabriela benar-benar marah, tapi jauh dari itu Rin tampak siap membunuhku karena itu aku bersujud untuk meminta maaf.


Salah satu elf berkata dengan lembut.


"Yah, jangan terlalu keras padanya, kami juga tidak keberatan.. apa kalian teman-temannya?"


"Kami bertiga pelayannya."


"Begitu, namaku Neffiel, aku bertugas sebagai kepala desa di tempat ini.. Kalau tidak keberatan silahkan mampir ke rumahku, aku punya beberapa makanan manis yang hanya dibuat oleh ras elf."

__ADS_1


"Benarkah? Kami ingin mencobanya?" kata Amnestha.


"Silahkan ikuti aku."


Aku juga diam-diam mengikuti mereka ke sebuah bangunan dekat pohon besar yang menjadi satu-satunya pohon di sini.


Neffiel memiliki rambut hitam yang dikepang ke samping dengan hiasan bunga di rambutnya, biasanya elf memiliki rambut pirang atau perak tapi dia berbeda.


Aurora yang lebih dulu bertanya soal itu.


"Kenapa rambutmu berwarna hitam?"


"Ah itu, karena aku memiliki darah campuran, ayahku manusia dan ibuku elf.. kebanyakan orang menyebutnya Half-elf."


"Aku memang pernah mendengarnya, tapi tak kusangka aku bisa melihatnya."


"Aku juga begitu," tambah Rin.


"Apa mungkin kalian semua diusir juga?"


"Cuma aku yang diusir, kalau teman-temanku ini mereka datang kemari karena keinginannya sendiri, terjadi konflik antar ras elf karena itu mereka pindah kemari dan tinggal bersamaku."


"Begitu."


Seolah mengerti tatapan kami, Neffiel menggelengkan kepalanya.


"Jangan khawatir, aku tidak marah sedikitpun pada elf.. aku menerima takdirku seperti ini, tapi aku harap kedepannya bahkan setengah elf bisa diterima baik oleh semua orang."


Dia memiliki impian yang indah.

__ADS_1


"Silahkan, anggap saja rumah sendiri."


Tidak ada perabotan di dalamnya, hanya ada karpet dan sedikit alat-alat masak, karena tempat ini jauh dari pemukiman hanya ini yang mereka dapatkan.


"Maaf membuat kalian tidak nyaman, kami kesusahan membuat kursi serta perabotan lain, memalukan sekali bahwa elf tidak bisa melakukannya," katanya selagi menaruh beberapa manisan di depan kami.


Semua ini adalah buah-buahan yang dicampur dengan gula dan dibiarkan dalam beberapa hari.


"Ini enak sekali," kata Aurora mewakili kami semua.


Aku bahkan tidak bisa berhenti memakannya.


"Terima kasih."


Amnestha membuka mulutnya.


"Kegiatan membuat perabotan memang sulit, bahkan pengrajin pun perlu waktu agar bisa membuatnya dengan baik," mendengar itu aku berdiri dengan pose kemenangan.


Rasanya hidungku bertambah panjang.


Gabriela menatapku sinis lalu berkata.


"Tuan bisa membuat perabotan, waktu tinggal berdua bersamanya di hutan tuan kadang membuatnya."


Pandangan Neffiel bersinar terang.


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku akan membuatkan kalian semua perabot indah secara gratis, terutama ranjangnya harus sangat indah."

__ADS_1


"Kenapa harus ranjang?" kecuali Neffiel semua orang di sini menatapku dengan tatapan bermasalah selanjutnya mereka malah mengikatku di pohon.


"Dasar orang-orang kejam, lepaskan aku," suaraku menggema di kesunyian malam.


__ADS_2