
Menggunakan sihir terbangku, aku membawa Aerith dan Nymph ke sebuah tempat yang dipenuhi salju, walau musim dingin masih lama aku memutuskan membawa mereka lebih awal.
Nymph memiliki hobi melukis dan setiap yang digambarnya selalu tentang istana, karena itulah kami akan membuat istana dengan menggunakan salju atau lebih tepatnya es sebagai pondasinya.
Aku dan Aerith menatap bongkahan yang telah kuciptakan.
"Bukannya ini terlalu besar?"
"Tidak juga, aku malah berpikir ini masih terlalu kecil."
Aerith tampak menghembuskan nafas panjang sebelum merangkul Nymph yang sudah siap dengan pahatan esnya.
"Hati-hati jangan terlalu terburu-buru, mama akan membantu juga."
"Baik mama, untuk design nya, aku sudah membuatnya."
"Itu istana yang indah, mari lakukan."
"Um."
Keduanya saling memahat esnya secara bersama-sama, kalau begitu aku juga harus turut membantu.
Mengikuti arahan Nymph aku memukul palu sedikit demi sedikit, aku bertugas membuat pintu dan jendela sementara istriku Aerith membuat beberapa dekorasi.
Dan untuk tahap pembentukan semuanya di serahkan pada Nymph. Terkadang aku akan membantunya terbang untuk mengukir bagian paling atas.
Setelah selesai kami juga membuat hiasan dengan boneka salju.
"Yang ini mirip papa."
"Bagaimana hasil pekerjaanku, bagus kan?" ucap Aerith selagi membusungkan dadanya dan aku menggelengkan kepalaku sebagai balasan.
"Lihat punya papa."
Saat melihatnya keduanya tampak terkagum-kagum.
__ADS_1
Aerith mencekikku sementara Nymph menatapnya dengan pandangan bersinar.
"Kenapa patung esku telanjang dan berfose nakal?"
"Aku membuatnya sangat detilkan."
"Jangan menunjukan hal seperti itu."
Pada akhirnya aku hanya berlutut selagi melihat patung esku yang dihancurkan, lain kali mari buat yang lebih bagus di desa.
Di hari berikutnya aku pergi dengan Ristal dan Ruby, kami memutuskan untuk pergi ke rumah Ristal di alam Dewi di mana rumah yang sangat megah telah menanti kami.
"Fufu bagaimana sayang, rumah mama sangat bagus."
"Benar, apa aku boleh melihat ke dalam."
"Tentu saja, ini juga rumahmu tapi kita akan membuat acaranya di luar perkarangan jadi cepat kembali ke sini."
"Baik."
"Putriku akan tumbuh dan memiliki dada sebesar milikku."
"Aku berharap yang normal saja, pada dasarnya terlihat seperti itu akan menarik para serigala untuk bertandangan."
"Kurasa di dunia ini tidak akan ada yang semesum suamiku... aku ingat keinginan pertamamu, ingin menyentuhnya kan."
Ristal tersenyum jahil selagi membusungkan dadanya sementara aku mengalihkan pandanganku selagi membalas.
"Aku hanya pria dari kebanyakan pria di dunia ini."
"Alasan itu terkadang membuatku bosan."
"Untuk sekarang, lupakan hal itu dan mari buat pestanya."
"Um."
__ADS_1
Aku dan Ristal memutuskan untuk membuat pesta barbeque di kediamannya, selain mengenalkan dunia Dewi kami juga ingin sekali merayakan hal seperti ini di sini. Tentu saja hal seperti ini juga akan kulakukan lain kali dengan Ariel dan Elen di kediamannya agar semuanya bisa dilakukan secara adil agar ke sembilan istriku tidak bertengkar ataupun saling iri satu sama lain.
Aku menciptakan panggangan, tikar dan semua bahan yang digunakan dalam pesta ini.
"Untuk hari ini aku yang akan memanggang dagingnya."
"Istriku mau melakukannya?"
"Tentu saja, ini hari istimewa... aku tidak ingin mendengar bahwa Ruby bilang dia menyukai masakan papanya dibandingkan diriku."
"Jangan sampai gosong loh."
"Jangan meremehkanku."
Aku tersenyum ragu sebagai balasan.
Tak lama kemudian Ruby kembali dengan senyuman puas.
"Di dalamnya sangat luas."
"Benarkan, mama akan buatkan daging panggang untukmu."
"Aku juga ingin membantu."
"Ayo."
"Hore."
"Tolong panggang sayurannya juga."
Sayuran tidak pas untuk dipanggang tapi aku tidak ingin mengatakannya dan hanya mengawasi keduanya dengan senyuman.
Jika suatu hari Ruby ingin menjadi Dewi sesungguhnya dan tinggal di sini, aku rasa aku akan sedikit kesepian.
Tapi entah itu Ruby atau Elen apapun keputusan mereka aku akan selalu mendukungnya, karena itulah tugas dari orang tua.
__ADS_1