
"Selamat datang di penerbitan majalah mingguan desa elf, di sebelah kiri ruang pemotretan dan di sebelah kanan ruang wawancara bagi tamu.. yang di tengah ruangan pribadiku, kalau mau silahkan mampir dan manjakan dirimu."
Aku menarik pipi Neffiel hingga dia kesakitan.
"Akyu cumya bercandya."
Dorothy yang duduk di atas kepalaku mengeong.
"Apa yang dia katakan tuan?"
"Dia memuji dadamu."
"Terima kasih, aku sengaja mengenakan kimono terbuka saat tahu tuan akan datang kemari."
"Meong, meong-meong."
"Dorothy sepertinya tertarik dengan pemotretan."
"Heh benarkah, silahkan ikuti aku, kurasa ada beberapa penyihir yang terkenal yang kami panggil kemari."
Aku dan Dorothy di arahkan ke ruang pemotretan di mana sekelilingnya di penuhi lampu yang terang.
Aku bukannya sombong desaku kini memiliki energi listrik yang tidak dimiliki di lokasi manapun.
Dua orang wanita dan pria sedang dipotret sekaligus, sementara elf wanita yang memotret tampak antusias.
"Begitu, cekrek... mantap."
Yah, dia benar-benar energik.
Neffiel menjelaskan.
__ADS_1
Ketiga yang difoto merupakan tiga penyihir atas di guild mereka masing-masing, di majalah yang akan diterbitkan oleh perusahaan ini akan memuat biografi mereka bertiga, dari awal peringkat rendah sampai sekarang.
"Terima kasih atas bantuannya, majalah kalian akan dikeluarkan Minggu depan, kalian bisa menunggu sampai saat itu."
"Aku datang hanya untuk melihat desa ini saja... aku tidak tertarik dengan majalah yang akan kalian buat."
"Kalau aku demi uang."
"Aku mungkin bisa menemukan gadis yang cocok denganku di sini."
Penyihir atas itu sangat jujur ternyata.
Saat ketiganya pergi, Dorothy merubah dirinya menjadi wujud manusianya selagi berpose nakal.
"Meong."
"Maaf Dorothy tapi kita tidak membuat majalah dewasa di tempat ini."
"A-apa?"
Aku duduk selagi mengawasi pemotretan Dorothy, ia mengenakan berbagai pakaian imut seperti gaun gothic, pakaian petualang, kesatria dan juga pelayan."
"Imut sekali, tolong kibaskan sedikit gaunmu... Ahh, nice... aaah, aaah, ini pasti akan hebat."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Jangan khawatir, dia hanya terlalu bersemangat."
"Sepertinya begitu."
Setelah beberapa saat seluruh foto Dorothy berhasil dicetak, dia terlihat senang selagi melompat-lompat kegirangan, saat seekor kupu-kupu melintas di wajahnya dia menjadi kucing lalu mengejarnya selagi mengeong-ngeong hingga aku sendiri yang membereskan fotonya.
__ADS_1
"Bukannya Dorothy terlihat sangat bebas?"
Aku setuju dengan perkataan Neffiel, walau Dorothy berwujud seperti gadis berusia belasan tahun namun sebenarnya dia bertingkah seperti gadis 8-10 tahunan, kurasa dia hanya dewasa saat musim kawin saja.
Selagi melihat Dorothy yang melompat-lompat, aku pamit kepada Neffiel untuk pergi ke desa berikutnya, dengan ringan aku mengambil Dorothy lalu meletakkannya kembali di kepalaku sebelum menghilang dan muncul kembali di desa berikutnya yaitu desa Demi-human.
Desa dibuat lebih menyerupai pemukiman penduduk manusia pada umumnya, mereka melakukan pekerjaan sehari-hari khususnya dalam persawahan.
Aku meminta mereka untuk menanam padi yang cukup bagi seluruh desa lainnya juga, nasi adalah hal paling utama menurutku, karena apapun masakannya memang kurang pas tanpa itu.
"Tuan Lord."
Aku tidak mungkin bisa terbiasa dengan sebutan itu.
"Panggil saja tuan Kazuya."
"Maafkan aku."
Yang berkata itu adalah seorang wanita dengan telinga kelinci, sebelumnya dia membantu pelayanku untuk mendistribusikan makanan ke beberapa desa dan sekarang aku memintanya untuk menjadi orang yang bertanggung jawab di sini.
"Tak apa, kau tidak salah... lalu bagaimana keadaan di sini?"
"Semuanya sudah terkendali dengan baik, kita bisa panen saat musim dingin tiba."
"Syukurlah, karena sudah di sini aku akan menciptakan apapun yang kalian mau jadi katakan saja?"
"Kalau begitu...."
"Meong."
"Tidak termasuk Dorothy.... jangan terkejut seperti itu, kau membuat semua orang takut. Dan berhentilah mencakar kepalaku, kau ingin membuatku botak."
__ADS_1
"Meong."
"Nona Dorothy sangat bersemangat."