Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 53 : Pahlawan


__ADS_3

Setelah kepergian Kazuya sosok tiga Dewi telah menggantikannya duduk di kursi teh milik Dewi Ristal.


Salah satunya adalah Ariel sementara dua lagi adalah Dewi yang sama yang telah memberikan situasi buruk pada Kazuya juga.


Pertama adalah Dewi Hecate, penampilannya seperti gadis 10 tahun dengan rambut ungu terurai panjang dia selalu membawa boneka beruang di pelukannya serta memiliki nada datar serta mata berbentuk bintang.


"Orang yang dikirim olehmu, ternyata sangat menarik."


"Aku juga berpikiran begitu, Hecate-chan mau cemilan," kata Dewi Ristal.


"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil."


Yang kedua adalah Dewi Amnesia, ia memiliki rambut setengah putih dan hitam serta menyukai sebuah game yang selalu dimainkan di tangannya.


"Fuaah... setelah tiga hari akhirnya aku bisa menyelesaikannya juga."


"Memangnya game seperti apa yang kau mainkan?"


"Cuma game RPG biasa, tokoh utamanya adalah seorang pahlawan wanita masokis yang mampu menerima perlakuan raja iblis apapun."


"Terdengar mengerikan" tambah Dewi Ristal menyeruput tehnya.


"Anu, apa kita bisa memulai diskusinya?"


"Maaf membuatmu menunggu, silahkan cemilan Ariel."


"Jangan menggodaku."

__ADS_1


Amnesia berkata lebih dulu.


"Jadi apa yang diinginkan Dewi Ristal hingga memanggil kita?"


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin mengundang kalian ke pesta tehku juga."


"Kau suka seenaknya saja, uwah.. level up."


"Mungkin kau ingin membahas soal pria itu?"


"Seperti itulah, Kazuya telah bersedia memperbaiki kerusakan yang telah kalian perbuat, bukannya kalian harus memberikan hadiah untuknya."


"Meski kau bilang, apa yang sebaiknya kita berikan untuknya," balas Hecate selagi memikirkannya.


***


Aku duduk untuk memperhatikan ketiganya.


"Selamat pagi tuan," kata mereka serempak sementara aku memegangi kepalaku frustasi sambil berteriak.


"Apa yang kalian lakukan pada persediaan kueku?"


"Kami menemukannya tuan, kukira seseorang meninggalkannya begitu saja," balas Amnestha.


"Mana ada, serahkan padaku."


Aku buru-buru untuk mengambilnya namun mereka langsung melarikan diri begitu saja keluar tenda bersama kueku.

__ADS_1


"Kenapa aku selalu mendapatkan bawahan seperti ini," kataku selagi menghirup udara segar sampai Helfina muncul dari sampingku.


Dia adalah perwakilan sosok dari kesatria sesungguhnya, tubuh yang langsing, rambut berwarna terang serta pedang yang terawat dengan baik adalah bentuk dari keeleganannya.


"Selamat pagi Haru."


"Selamat pagi Helfina, bagaimana situasinya?"


"Masih belum ada pergerakan, akan tetapi menurut tim pengintai pasukan musuh telah berdatangan dan dijadwalkan akan tiba di sini pada siang hari."


"Kalau begitu kita juga harus bersiap."


Aku hendak berjalan dan Helfina memanggilku dari belakang.


"Nah Haru, apa tak apa kita melawan pahlawan? Pahlawan adalah sosok yang akan menyelematkan dunia, jika kita melawannya, aku takut..."


"Jangan khawatir soal itu Helfina, aku yang akan bertanggung jawab.. pahlawan bukanlah sosok yang harus diagungkan, mereka juga hanya manusia yang bisa mengambil keputusan salah."


"Akan tetapi.."


Kegelisahan mewarnai ekpresi Helfina, aku bisa mengerti apa yang dirasakannya sekarang, orang-orang selalu memuja pahlawan bahkan anak-anak mengaguminya dan menjadikan mereka idola.


Aku tidak akan menyangkal bahwa mereka menaruh banyak harapan pada kami, meski begitu pahlawan tidak sepantasnya menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain dan seenaknya memutuskan salah menjadi benar dan benar menjadi salah.


Karena itulah aku ada di sini untuk melawan mereka.


"Aku memang belum mengatakannya, akan tetapi aku juga seorang pahlawan."

__ADS_1


Helfina hanya bisa terbelalak kaget.


__ADS_2