
Enam hari berikutnya, di luar tembok kota aku menatap Dion Dan Dyane yang sedang berdiri selagi mengawal ratu dan putri di depan semua orang.
Semenjak poster ditempel banyak orang yang ikut bergabung dengan kelompok kami dan tidak sedikit di kota-kota besar terjadi sebuah pemberontak untuk menggulingkan para bangsawan korup.
Bellatrix yang berdiri di sampingku menghela nafas panjang tidak percaya.
"Hanya dengan ide sederhana seperti ini, kau telah merubah keadaan dengan cepat.. kini aku tahu kenapa para ras naga mau dengan senang hati mengikutimu, Kazuya.. jadi apa yang akan kita lakukan?"
"Sudah jelas kita akan menyerang ibukota sekarang."
"Yah, berlama-lama di sini juga tidak baik, kita masih harus pergi ke kota itu."
Aku berjalan dan mengatakan seluruh rencana yang akan kita gunakan pada mereka semua, untuk seorang pendatang asing aku telah terlibat cukup jauh dan sekarang aku sudah tidak bisa mundur lagi.
Di depan benteng ibukota para penjaga telah memosisikan diri dalam bertahan, demi mengantisipasi serangan kami mereka menggunakan sandera yaitu penduduk kota, meski begitu terdapat jalan gorong-gorong di bawah tanah dan kami menggunakannya untuk menyelinap masuk dan membunuh para penjaga serta menyelamatkan seluruh penduduk kota.
Ketika rakyat telah mengetahui kebenaran tentang perdana menteri, dia sudah tidak punya langkah lagi untuk mengelak ataupun mengubah apapun, yang bisa dia lakukan hanyalah melarikan diri dengan cara masuk ke dalam hutan.
Akan tetapi.
Sayangnya aku dan Dyane telah menunggunya sejak lama.
"Kalian?"
"Kau telah melenyapkan anak-anak yang tidak berdosa, sekarang kau harus menerima semua balasan atas perbuatanmu."
Aku hanya diam sementara Dyane mengeluarkan dua pedang dari pinggangnya.
"Jangan mendekat, tunggu."
Hanya teriakan yang mewarnai kematiannya.
Untuk seorang wanita dia tidak ada ampun.
"Kenapa kau masih berdiri di sana, ayo pergi?"
"Baiklah."
Tepat saat kami tiba peperangan memang telah selesai, beberapa orang yang masih hidup telah ditangkap dan penduduk kota berteriak senang.
__ADS_1
Hampir seluruh pasukan dan bangsawan terlibat karena itu pasti memerlukan waktu lama demi membangun kerajaan ini kembali, kendati demikian mereka akan baik-baik saja.
Aku meminta agar kerajaan ini membantu panti asuhan sebaik mungkin dan memberikan beberapa sekolah gratis untuk mereka, hal itu jelas disepakati ratu dari kerajaan ini sebagai bentuk terima kasih kepadaku.
"Semuanya telah berjalan baik, kukira kau akan membunuh mereka."
"Tadinya aku berfikir begitu, sampai aku bertemu dengan keduanya," balasku pada Bellatrix.
Dion dan Dyane mendekat ke arah kami berdua.
"Terima kasih banyak, berkatmu kerajaan ini bisa diselamatkan."
"Bukan masalah, sebagai ucapan terima kasih bolehkah aku menyentuh dadamu?"
"Tidak boleh."
Aku rasa sudah cukup menggodanya, sebagai permintaan maaf aku akan memberikan kado perpisahan.
Aku mengulurkan tanganku ke atas dan dari sana seseorang dijatuhkan dengan tali mengikatnya, tentu dia pria yang mereka kenal baik hingga pandangan keduanya terbelalak kaget.
"Dia?"
Aku mengejar bandit yang telah menghancurkan desa kalian berdua, sekarang terserah kau ingin membunuhnya atau tidak.
"Aku akan biarkan hukum kerajaan ini yang mengurusnya."
"Aku juga."
"Begitu, selamat tinggal."
"Jaga diri kalian."
"Kalian juga."
Kami bertukar jabat tangan sebelum akhirnya Bellatrix merubah dirinya menjadi naga dan aku naik ke atas punggungnya dan terbang menembus langit bersamanya.
Setelah dua hari kami akhirnya sampai di kota Aldios yang dikatakan Bellatrix, sayangnya kecuali tombak yang menancap di tanah tidak ada naga yang dapat terlihat.
"Apa kita terlambat?" tanya Bellatrix tanpa mendapatkan jawaban.
__ADS_1
Aku mencoba mengetahui sesuatu dari tombaknya, kugunakan Skill penilai hingga status senjata itu mulai terlihat jelas.
"Senjata suci Dewi Ristal," gumamku demikian.
Ternyata istriku menyembunyikan sesuatu dariku. Bellatrix yang memutuskan bertanya pada seseorang kembali lagi.
"Menurut penduduk desa patung naga sudah hilang tiga bulan yang lalu."
Kami berdua jelas sudah terlambat dari awal, aku menyentuh tombak tersebut lalu memasukannya ke dalam sihir penyimpanan.
"Mari kembali."
"Kita baru sampai, kita tidak menginap dulu."
"Aku akan menggunakan sihir teleportasi agar kita kembali dengan cepat."
Selagi tempat itu pernah aku datangi maka berpindah tempat sesuatu yang mudah bagiku, namun sebenarnya skill-ku juga bisa berpindah tempat tanpa harus tahu tempat tujuannya.
Bellatrix menatapku dengan pandangan bermasalah.
"Hey Kazuya, sebenarnya kau bisa datang kemari tanpa harus aku menunjukan jalannya bukan?"
"Ugh."
Sepertinya dia sudah menyadarinya jadi aku tertawa ragu sebagai jawaban.
"Sebenarnya aku hanya ingin sedikit bersantai beberapa hari jauh dari istriku."
"Aku akan melaporkanmu."
"Aku akan mentraktirmu makanan sebanyak yang kau suka nanti, jadi tolong jangan katakan," kataku selagi menyatukan tangan memohon.
"Sepakat."
Di jalanan kota itu Bellatrix berkata.
"Bukannya istrimu sangat baik? Kau harusnya senang."
"Aku memang senang, namun mereka sedikit memaksa soal berhubungan intim."
__ADS_1
"Jadi begitu, orang mesum sepertimu bisa seperti itu juga, ini mungkin karma."
Aku hanya tersenyum pahit selagi berharap dompetku tidak akan terkuras lebih banyak lagi.