Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 216 : Tempat Bagi Orang Mati


__ADS_3

Aku berhenti sejenak untuk melihat kedua orang yang berada di belakangku sangat jauh. Ini adalah hutan racun, karena itu seluruh kawasan ini sangat beracun.


"Jangan mati sebelum nona Fate kembali ke tahtanya."


Aku mendesah pelan lalu berjalan semakin maju, orang yang masuk ke dalam sini pasti orang bodoh, maksudku bukan aku melainkan perampok itu.


Aku terus mengikuti jalan setapak hingga aku merasa menginjak sesuatu di bawah kakiku.


"Yo kawan, kau mencari sesuatu?"


"Uwah."


Sebuah tengkorak manusia baru saja kuinjak dan dia berbicara padaku.


"Kau tengkorak?"


"Apa yang kau maksud, bukannya kau juga tengkorak."


Jika melihat tanganku memang begitu tapi sejujurnya bagian lainnya masihlah tubuh manusia, karena itu aku masih memakai topeng.


Si tengkorak berdiri.


"Aku sedang tiduran di sini, bekerja sepanjang waktu memang melelahkan."


Aku tidak bertanya apapun padanya.


"Tempat apa ini?"


"Kau pasti dari luar, tempat ini disebut hutan racun memang benar siapapun manusia yang masuk ke dalam sini akan mati, akan tetapi dia akan dibangkitkan jadi Undead sepertiku."


"Kau terlihat bangga."


"Tentu saja, jadi apa yang kau inginkan datang kemari?"


"Aku sedang mencari perampok."


"Perampok, mungkin kau bisa menemukannya di bar, mari kuantar kau."


"Kau ternyata baik."


"Aku ini orang jahat, kau tahu? Semua orang ini semasa hidupnya hanyalah sampah, kerajaan tidak ingin menghukum mati kami secara normal dan meleparkan kami begitu saja kemari.. tapi yang jelas kami bisa hidup damai di sini dan menebus dosa kami."


"Yah, aku lega kau selalu berfikir positif."


Aku dibawa ke sebuah bar yang entah kenapa ada desa juga di sini, seluruh kawasan ini memang terselimuti kabut racun meski begitu awannya tidak terlalu tebal dan ketika berada di dalam bar, kabutnya tidak masuk juga.

__ADS_1


Tentu yang ada di dalamnya hanyalah tengkorak yang sedang berjudi.


"Hati-hati jangan ikut berjudi, nanti kau tidak bisa berhenti."


"Apa yang kalian pertaruhkan?" tanyaku.


"Tubuh kami."


Cuma itu barang berharga yang mereka miliki.


Buset dah, bar ini memang sangat ramai, ada yang terlihat menggoda pelayan juga.


"Yo mama, minuman dua gelas."


"Okay."


Tengkorak yang membawaku kemari, mengambil gelasnya saat dia meminumnya, tentu saja air itu melewatinya.


"Enak sekali."


"Kau ini berusaha membohongiku."


"Cuma pura-pura saja, ini agar kami bisa mengingat bagaimana kami hidup sebagai manusia."


Itu cukup membuatku sedih tapi hanya sedikit.


"Ambil saja, lalu dimana aku bisa menemukan si perampok?"


"Biar aku tanyakan."


Si tengkorak berdiri di meja dan berteriak.


"Kawan-kawan, apa dari kalian ada yang hidupnya dulu seorang perampok?"


Aku menambahkan.


"Yang merampok ke istana."


Seorang yang duduk di sudut mengangkat tangannya.


"Itu aku, aku melarikan diri dari kejaran hingga datang kemari."


"Lihat, di sana."


Kami berdua mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Aku duduk di depannya lalu bertanya lebih rinci.


"Apa kau masih ingat siapa yang menyuruhmu untuk membunuh keluarga kerajaan?"


"Kalau tidak salah dia adik sang raja, kurasa mungkin dia sudah jadi raja sekarang."


"Kau punya buktinya?"


"Kurasa ada sebuah catatan rencananya di markas kami, akan kutuliskan untukmu."


"Kau baik juga."


"Aku ini sudah mati, aku tidak harus meminta apapun pada orang lain."


Normalnya jika hidup dia pasti meminta uang.


Aku menerima catatannya.


"Ngomong-ngomong apa kalian tak masalah hidup seperti ini?"


"Kami ini orang jahat, lebih baik jangan pikirkan kami.. bukannya kau perlu bukti ini untuk membantu putri itu."


"Kau tahu?"


"Tentu saja, saat rekanku membunuhnya aku hendak ingin menyelamatkannya namun saat itu aku melihat vampir dan ia membiarkan darahnya diminum putri itu, aku yakin dia menjadi vampir juga, apa benar?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang."


"Oh yah, saat kembali nanti bisakah kau melarang orang-orang melemparkan seseorang kemari, walau kami tidak keberatan ada sebagian yang tidak ingin hidup kembali, kalau bisa.."


"Aku mengerti, akan kuusahakan."


Kataku pada tengkorak yang mengantarku lalu berjalan pergi.


Aku tidak tahu tempat seperti ini harus ada atau tidak, yang jelas aku berusaha tidak peduli, saat aku hendak keluar seorang wanita berdiri di depanku, ia memiliki kulit daging di tubuhnya dan terkesan seperti manusia.


"Kau tidak berniat tinggal di sini?" suaranya sangat lembut dan terkesan halus.


"Aku hanya sedikit memiliki urusan di sini, maaf telah masuk tanpa izin."


"Jangan dipikirkan, aku tidak keberatan sih."


Dia berjalan melewatiku dengan tenang.

__ADS_1


Gaun pemakaman serta rambut panjang hitam yang menyentuh tanah menjadi pemandangan satu-satunya yang kulihat, hingga sosoknya menghilang seutuhnya.


__ADS_2