
Selagi bersandar di pohon aku memperhatikan jauh ke arah Neffiel yang tertidur di paha Ardina.
Perlahan dia membuka matanya terkejut.
"Siapa?"
"Aku ibumu, lama tak bertemu Neffiel."
"Bukannya mama sudah?"
"Maaf meninggalkanmu di dataran tinggi Utara."
Ardina mengembalikan ingatan Neffiel sedia kala hingga air mata mengalir dari wajah cantik Neffiel.
"Maafkan mama."
Neffiel menggelengkan kepalanya lalu memeluk ibunya.
"Tak apa... yang penting mama baik-baik saja."
Virda yang berdiri di sampingku menyikut perutku.
"Kau benar-benar mempertemukan mereka kembali."
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantu keduanya."
"Jadi apa yang akan kau tugaskan padaku? Jika itu sesuatu yang aneh aku akan menolaknya."
"Soal itu, aku hanya bercanda.. aku sudah memiliki 9 istri, hal itu sudah puas untukku."
"Begitu."
"Kau bisa bersantai di desaku selagi bekerja di sana."
"Kukira aku akan diperintah melakukan hal sulit."
Setelah perasaan Neffiel kembali pulih aku menggunakan sihir teleportasi untuk pindah ke desa elf.
__ADS_1
Untuk merayakan kembalinya ibu Neffiel sebuah pesta diadakan kami semua.
"Apa ini? Ini enak sekali."
Virda tak hentinya memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Sebaiknya kau jauhi minuman seperti bir?"
"Kenapa? Aku sudah dewasa, kaulah yang memberikanku tubuh seperti ini."
Ini bukan masalah dewasa atau kecilnya seseorang, hanya saja baru satu tegukan dia sudah pusing.
Neffiel diam-diam mengambil kursi di dekatku.
"Biar aku tuangkan ke dalam cangkir tuan Kazuya."
"Terima kasih."
"Ini cuma perasan dari buah-buahan."
"Begitu."
"Tuan Kazuya, terima kasih atas semuanya, tak hanya memberikan kami tempat yang nyaman, Anda juga menyelamatkan ibuku."
"Hal seperti ini bukan apa-apa bagiku."
"Sesuai yang diharapkan dari tuan Kazuya."
Saat aku sadari bibir kecil yang lembut menyentuh pipiku.
"Sebagai ucapan terima kasih," katanya menjulurkan lidah jahil sebelum kembali membantu ibunya menyajikan makanan untuk semuanya.
Beberapa hari kemudian, aku berkunjung ke rumah dua pendeta untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja.
Kudengar mereka baru menutup toko obatnya karena tidak ada yang datang membeli, bagaimanapun tempat ini terlalu damai bahkan orang-orang tidak perlu potion untuk menyembuhkan mereka.
Aku mengetuk pintu dan pintu terbuka karena tidak terkunci.
__ADS_1
"Oh, tuan Kazuya kau datang."
"Kalian baik-baik saja?"
Cleo menunjukkan tulisannya.
(Kami bangkrut)
"Sudah jelas potion seperti itu tidak laku."
"Lakukan sesuatu, harusnya obat kami laku kan... kualitasnya juga bagus," kata Olien menutut ke arahku.
Jika ada petualang mereka bisa menjual barangnya dengan baik, aku yakin jika mereka berdagang di ibukota akan jauh lebih baik.
"Apa kalian pernah pergi ke ibukota?"
"Belum."
(Aku tidak yakin ingin pergi ke sana, lagipula banyak saingannya)
"Kalian berdua tidak memiliki jiwa pedagang," kataku lemas lalu melanjutkan.
"Jika kalian tidak mau bertarung dengan orang lain, bagaimana jika kalian mencoba menanam tanaman herbal sendiri lalu menawarkannya ke toko obat di ibukota."
Pandangan keduanya bersinar terang
"Itu ide bagus."
(Aku mencintaimu)
Cleo masih tidak berubah.
"Tapi kita harus mencari tanaman yang langka agar memiliki nilai jual tinggi serta menyediakan tanaman biasa juga, jika berhasil membudidayakannya kalian bisa kaya raya."
"Itu yang kami mau, tapi dimana kita memulai?"
"Kita bisa pergi ke menara pengetahuan dan mencari informasi tentang tanaman obatnya," atas usulanku keduanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1