
Aku, Riel dan Anela memutuskan pergi ke sebuah dataran yang seluruhnya dipenuhi oleh rerumputan yang tumbuh subur, tak hanya rumput sekitarnya juga diisi oleh para domba yang memiliki bulu-bulu empuk serta ramah kepada para pengunjung.
Bagaimanapun ini adalah salah satu wilayah dari kediaman para malaikat.
"Papa lihat aku."
"Hati-hati jangan membuatnya marah."
"Aku tidak akan melakukan itu."
Anela dengan senang menunggangi salah satu domba hingga ia dibawa berputar-putar sekeliling wilayah ini, kalau Anela yang bersenang-senang rasanya kurang asyik karena itu aku juga meminta Anela melakukan hal sama.
"Aku menaiki domba? Tidak, tidak, itu terlalu.."
"Bulu mereka empuk, Riel pasti menyukainya."
"Kalau suamiku bilang begitu... aku akan mencobanya."
Aku memilih domba betina yang paling besar dan membantu Riel untuk duduk di atasnya, setelah dia terbiasa sebuah lomba lari diadakan di mana Riel akan melawan Anela.
"Kalian berdua berjuanglah."
"Baik papa, aku akan mengalahkan mama."
"Mama sudah mahir melakukan ini."
Aku menggelengkan kepalaku dan tertawa
__ADS_1
"Sayangnya aku juga akan turut bertanding hingga menjadi pemenangnya."
Dalam hitungan tiga kami meluncur secara bersamaan, rasanya seperti menunggangi kuda yang sedikit lebih pendek. Siapapun yang lebih dulu bisa mengelilingi pulau ini dia menjadi pemenangnya.
Dan Akhirnya Anela juara pertama, Riel kedua dan aku ketiga, aku tidak berniat kalah sayangnya domba-domba ini lebih memihak para malaikat dibanding aku.
Untuk pertama kalinya kekalahan bisa semenyenangkan ini di mana aku bisa melihat senyuman lepas keduanya.
Di lain hari yang berbeda, aku pergi ke suatu tempat dengan Hesna dan Nasina, untuk pergi ke sana Hesna sendiri yang mengantar kami dalam wujud naga emasnya.
"Memangnya kita akan kemana?" tanyaku saat kami telah terbang menembus awan.
"Sebuah tempat yang dulu digunakan oleh para ras naga wanita untuk bersantai.... Nasina pegangan."
"Baik mama, aku juga ingin berubah bentuk seperti mama dan terbang ke langit."
"Jika sudah besar mama akan mengizinkannya tapi sekarang tidak boleh, sayapmu masih belum kuat."
Awalnya kupikir kami akan menuju pulau langit namun sebenarnya kami turun kembali ke bawah tepatnya di sebuah pegunungan indah.
Ada air terjun yang besar yang mampu memercikan pelangi di sekelilingnya.
"Indah sekali."
Aku mengelus rambut Nasina.
"Semuanya berpegangan."
__ADS_1
Hesna terbang menuju air terjun hingga kami benar-benar menembusnya. Di dalam air terjun ada sebuah kolam di mana seluruh airnya berasal dari patung naga raksasa, ini seperti berada di dunia lain karena terlihat seolah kami berada di luar.
Yang jelas semuanya terlihat luar biasa.
Kami turun dari punggung Hesna, dan aku segera mengecek suhu airnya, seperti yang di duga ini air panas yang berasal dari bebatuan yang menguap.
Hesna merubah dirinya ke wujud manusia lalu melepaskan pakaiannya untuk berjalan ke tengah kolam lalu berendam di sana.
"Kalian berdua juga masuklah.... airnya terasa nyaman."
"Bukannya kolam ini lebih panas dari yang digunakan manusia?" tanyaku demikian.
"Benarkah, tapi bagiku rasanya sama saja suamiku."
Aku dan Anela saling menatap satu sama lain dan memutuskan untuk mengikuti Hesna masuk ke dalam.
Kurasa memang sedikit panas tapi bisa dinikmati juga.
"Air ini bermanfaat untuk membuat sisikmu menjadi mengkilap dan kuat terhadap serangan sihir apapun."
"Benarkah mama."
"Mau mencobanya."
Entah itu Hesna ataupun putri kami keduanya berubah menjadi seekor naga.
"Dengan wujud seperti ini terasa nyaman."
__ADS_1
"Benar kan."
Aku juga ingin berubah menjadi naga sayangnya aku tidak bisa melakukan itu.