
Pagi berikutnya setelah keduanya mempersiapkan bekal ke dalam ransel mereka, Clara dan Arthur akan memulai perjalanan pertama mereka.
Clara memiliki sikap peduli layaknya seorang kakak perempuan walaupun umurnya lebih muda, sedangkan Arthur memiliki sikap pemberani lebih dari anak seusianya.
Perlu tiga hari untuk sampai ke ibukota, itu juga harus melewati jalan memotong, Arthur telah mengetahui hal itu jadi tidak masalah untuknya terus bersiaga dan menggenggam tangan Clara.
Sebelum mereka memasuki hutan, seorang lebih dulu memanggil mereka dari bayangan pohon, orang itu tersenyum menunjukan taring yang menyeruak dari ujung bibirnya serta sikapnya yang terlihat seperti wanita dewasa begitu jelas di mata keduanya.
Wanita itu mengenakan gaun merah serta rambut hitamnya dibiarkan terurai begitu saja, mata merah ruby-nya menatap Arthur dan Clara dengan perasaan mengerikan.
"Bukannya kau orang yang kemarin, apa maumu?"
Sebuah pukulan menghantam kepala Arthur hingga ia mengerang kesakitan.
"Panggil aku nona Rin, aku tertarik dengan kalian berdua.. kurasa kalian memiliki sesuatu yang tuan inginkan?"
"Sesuatu?" Clara mendekat untuk mendengar penjelasan lebih lanjut sedangkan Rin melanjutkan.
"Itu adalah rasa keadilan."
"Jangan bilang nona Rin yang menggiring para bandit itu untuk datang ke desa kami."
"Benar sekali, aku yang melakukannya tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka melukai siapapun, aku hanya menggunakan caraku sendiri."
__ADS_1
Arthur segera menunjuk ke arah Rin.
"Apa maksudmu itu? Berani sekali kau menggunakan cara kejam untuk mengetes kami."
"Berisik, cara seperti ini lebih cepat untuk mencari kandidat perwakilanku... aku juga tidak akan kalah dengan Amnestha ataupun Gabriela."
Clara memotong.
"Siapa mereka berdua?"
"Kami bertiga melayani tuan yang sama, tuan mengatakan bahwa kami juga bisa ikut berpatisipasi dengan pemilihan kandidat ini, berbeda dengan orang-orang yang secara sukarela datang ke ibukota untuk ujian, kalian berdua sudah terjamin bekerja di kerajaan ini, walau kalian berdua gagal menjadi raja atau ratu, kalian tetap mendapatkan posisi karena akulah yang merekomendasikan kalian, entah sebagai perdana menteri, kesatria ataupun bangsawan kalian bisa memasukinya."
"Dengan kata lain kami sudah melangkah satu langkah meninggalkan kemiskinan."
"Lalu kenapa nona Rin menunggu kami di sini?" atas perkataan Clara Rin tersenyum senang, Clara memiliki pandangan luas dengan menganalisa setiap perilaku orang lain dia bisa menyimpulkan tujuan serta keinginan dari lawan bicaranya.
Hal itu sangat berguna dalam sebuah pemerintah, dia akan sangat membantu saat menjadi kepala Kesatria tapi tidak dipungkiri juga sebagai ratu sendiri.
"Sudah jelas, mulai sekarang kalian akan menjadi muridku."
"Aku tidak ingin menjadi muridmu."
"Jika kau menolaknya aku akan membunuhmu," jawab Rin selagi menunjukan cakar yang setajam pedang tersebut.
__ADS_1
"Ampuni aku," kata Arthur bersujud sementara Clara tertawa kecil.
"Mohon bantuannya nona Rin."
"Bagus, aku akan membuat kalian menjadi pasukan pembunuh luar biasa, bahkan jika melawan Assassin kalian tidak akan kalah dari mereka."
Mata keduanya tampak mengkilap tanpa mereka tahu yang ada di depan mereka hanyalah neraka.
Selama perjalanan ke ibukota, Arthur dan Clara harus membawa tas berat di punggungnya yang berisi bebatuan sungai serta beberapa besi yang dililitkan di tubuh mereka, untuk perbekalan mereka semuanya telah dibuang ke jurang oleh Rin.
"Jika kalian ingin makan maka kalian harus mencarinya sendiri di alam liar, cepat bergerak."
"Ini terlalu berat nona Rin," teriak Arthur.
"Benar nona Rin, aku pandai membuat obat aku tidak perlu mengikuti pelatihan seperti ini."
"Karena kau pandai membuat obat maka jika ada musuh mereka akan lebih dulu menargetkanmu.. jika kau mati maka semua orang dipastikan akan mati juga jadi jangan membantah lagi, ini juga berlaku untukmu Arthur... apa kalian ingin melihat seseorang mati di depan mata kalian?"
"Tidak," keduanya berteriak di waktu bersamaan.
"Itu bagus, jika salah satu dari kalian menjadi pewaris tahta maka aku akan mendapatkan hadiah dari tuanku jadi lakukan yang terbaik."
"Ba-baik," keduanya menjawab ragu.
__ADS_1