Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 445 : Akhir Penjelajah Dungeon


__ADS_3

Pagi berikutnya Len menyerahkan pedang yang patah pada Kazuya yang duduk di kursi taman.


"Kau pasti telah memasuki lantai 70 ya."


"Bagaimana kau tahu?"


"Dungeon itu dibuat olehku, dari lantai 70 puluh tidak bisa dikalahkan dengan hanya pedang biasa."


"Kalau begitu buatkan aku pedang baru."


Kazuya mendorong wajahnya dengan senyuman jahil.


"Aku tidak akan memberikan tubuhku sebagai bayaran."


"Memangnya aku lolicon, aku ingin kau memohon dengan wajah memelas."


"Ugh... penghinaan," umpat Len.


"Kalau tidak mau yah sudah."


Kazuya menyilangkan tangannya sementara Len menatapnya dengan berkaca-kaca hingga akhirnya memutuskan.


"Baiklah, aku hanya perlu melakukan hal ini sekali."


Len berdeham sekali untuk memulai, suaranya terdengar kecil hingga Kazuya terus mendekatkan telinganya mengejek.


"Nggak kedengaran?"


"Berisik."


"...."


"Anu... boleh tolong buatkan aku senjata baru, Onii-chan."


Seketika wajah Len memerah hingga dia berjongkok untuk menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Imut sekali, baiklah... aku akan melakukannya."


"Puas?"


"Sedikit, lain kali aku akan meminta yang lebih sulit lagi."


"Tidak ada lain kali," Len menegaskan itu dengan suara keras membuat Kazuya tertawa kecil sebelum mengeluarkan sebuah kristal dari sihir penyimpanannya.


"Aku akan membuatkan senjata yang sangat kuat."


"Itu terdengar bagus."


Setelah mengklik beberapa pilihan menu di jendelanya, Kazuya menciptakan sebuah pedang yang terlihat biasa biasa saja.


"Bukannya itu terlihat seperti pedang murah.


"Benarkah?"


Kazuya mengisi pedang itu dengan energi sihir miliknya hingga bersinar terang hingga pandangan Len mengkilap.


"Karena sering diisi dengan sihir pedang akan cepat rusak, akan tetapi pedang ini berbeda... itu akan meningkatkan kekuatannya dua kali lipat yang diinginkan penggunanya."


"Kau ini tidak sabaran."


Kazuya memberikan pedang tersebut lalu melanjutkan.


"Hanya kau saja yang bisa menggunakannya tapi suatu hari kau bisa mewariskannya pada siapapun."


"Begitu, terima kasih banyak... aku akan kembali ke akademi."


Kazuya hanya melihat punggung kecil itu yang mulai menjauh sampai Rin muncul di depannya.


"Tuan Kazuya persiapan sudah siap, kita bisa menyerang kapanpun."


"Aah, mari pergi."

__ADS_1


"Baik."


Len yang sejak tadi berjalan di depan sesaat berbalik untuk melihat sosok Kazuya di belakangnya hanya saja dia sudah menghilang.


"Kenapa perasaanku tidak enak?"


Mengabaikan pikiran itu Len kembali ke asrama di mana Falena yang telah menunggunya selagi membaca buku berteriak terkejut.


"Len?"


"Apa yang sedang kau baca?"


"Bukan apa-apa."


"Aku ingin melihatnya."


"Tidak, jangan... tidak."


Teriakan itu mewarnai ruangan tersebut.


Setelah persiapan mereka selesai, Len dan Falena kembali menantang lantai 70. Berbeda dari sebelumnya pedang Len mampu menebas cacing tersebut hingga potongan koin emas berjatuhan dari langit.


"Len, itu pedang bagus."


"Benar kan, dengan ini kita bisa mengalahkan bos sebanyak yang kita mau."


"Um."


Seperti yang dikatakan Len hanya waktu lima hari mereka telah sampai di lantai 100 yang dijaga ketat oleh Hydra, setiap kepalanya menembakan berbagai api berbeda, ada api racun, api merah bahkan api berwarna biru.


Falena memunculkan harimau putihnya lalu menyuruhnya melesat maju, tak hanya sendirian Len naik ke punggung harimau tersebut selagi membawa pedang besar.


Saat api siap membakarnya, harimau tersebut menghindarinya dengan gerakan zig-zag sebelum melompat menggigit tubuh Hydra, bersamaan itu Len melompat ke atas Hydra sehingga pedangnya bercahaya terang.


Tepat saat dijatuhkan tubuh Hydra terbelah dua dengan api membakar bagiannya.

__ADS_1


"Dengan ini selesai juga, kita pulang Falena."


"Um... kita berhasil."


__ADS_2