
Ibukota Eustila adalah ibukota satu-satunya di benua ini, semenjak kemunculan empat raja dunia beberapa kerajaan telah hancur meski begitu kami telah mengalahkan dua dari mereka dan sekarang wilayah yang sebelumnya dikuasai akan diberikan kembali kepada kerajaan sebelumnya.
Dalam pertarungan pertama kami telah banyak kehilangan prajurit kendati demikian sekarang berbeda.
Sekitar 5000 orang telah ikut berpartisipasi pada penyerangan yang akan dikerahkan oleh Ibela selanjutnya, hanya menghitung hari saja kami akan menyerang raja dunia Amandeus sebelum menyerang Raja Dunia Encore yang menjadi dalang semua ini.
Ibela memberikan sekotak peti emas kepadaku yang duduk bersamanya untuk meminum teh.
"Kau pantas mendapatkannya."
"Aku tidak akan menolaknya."
Walau sebenarnya aku punya banyak uang aku tetap saja tidak boleh menolak kebaikan kerajaan ini.
"Dengan kekalahan dua raja dunia kita akan lebih mudah mengalahkan Encore."
"Kuharap begitu," kataku menyeruput tehku.
"Apa ada sesuatu yang kau khawatirkan?"
Aku menaruh gelasku sebelum menjawabnya.
"Sebelumnya mereka menggunakan makhluk bencana, ada kemungkinan mereka juga akan menggunakan makhluk yang sama untuk menyerang kita."
"Itu memang benar, di dunia ini ada tiga makhluk bencana, pertama ada laba-laba yang kita sudah kalahkan, kedua hiu raksasa dan ketiga kucing berekor sepuluh."
"Kucing berekor sepuluh?"
__ADS_1
"Benar, kurasa kucing tersebut sudah tidak ada... orang-orang bilang bahwa kucing itu pergi ke dunia bawah setelah merubah dirinya jadi manusia."
Tidak salah lagi kucing itu jelas Mary, dia kini bekerja di desaku sebagai penjaga keamanan.
"Ada apa Kazuya?"
"Bukan apa-apa, dengan kata lain hanya ikan hiu saja yang akan kita hadapi."
"Benar sekali, jika pun kita harus menghadapinya pasti akan ada di wilayah raja dunia Amandeus."
Aku hanya mendesah pelan lalu pergi ke kota untuk menyegarkan pikiranku, ini masih pagi hari karena itu jalanan masih terasa sepi.
Aku melihat sebuah bayangan di dalam gang sunyi, ada pria yang tampak mencurigakan yang sedang melirik ke sana kemari sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Karena penasaran aku juga mengikutinya dari belakang, tepat saat keluar dari gang aku bisa melihat sebuah bar kecil dengan gambar hati di atasnya.
Beberapa pelayan wanita kucing tampak keluar dari dalam kafe untuk mengantarkan pelanggan mereka yang mabuk.
Ketika melihatku mereka menangkap lenganku.
"Tuan mau mampir, silahkan ikut dengan kami."
"Tidak, aku tidak mau masuk... aku sedang sibuk."
"Perkataan tuan sangat berbeda dari pembuatan Anda."
"Aku suka berakting."
__ADS_1
Aku duduk di sofa dengan lima kucing, dan kulihat ada Ken di sini juga.
Aku segera menutup wajahku dengan majalah agar tidak ketahuan lalu bertanya pada seorang yang duduk di sebelahku.
"Ngomong-ngomong apa orang itu sering datang kemari?"
"Benar tuan, dia pelanggan tetap di sini.. bisa dibilang tamu khusus."
Aku tanpa sadar tersenyum puas, akan kulaporkan dia pada Ibela. Seorang komandan kesatria di tempat seperti ini hanya akan menjatuhkan nama baik kerajaan ini saja.
"Aku tidak minum alkohol, apa ada minuman selain ini?"
"Kami hanya punya ini saja."
"Aku tetap akan membayarnya jadi simpan saja."
"Tapi."
Aku mengeluarkan sepeti uang dari item penyimpananku dan memberikannya pada mereka.
Tentu uang ini bukan uang yang diberikan oleh Ibela.
"Ini terlalu banyak, bahkan membayarnya dengan tubuh kami, ini masih belum cukup."
"Jangan dipikirkan anggap saja ini hadiah telah bekerja keras menghibur banyak pria di sini."
"Te-terima kasih banyak, kalau begitu kami permisi sebentar.. kami akan membawakan minuman yang tidak beralkohol."
__ADS_1
Seharusnya mereka tidak usah repot-repot, aku tidak berniat melakukan hal kotor di sini yang kuinginkan hanyalah membuat orang itu jera.