Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 187 : Buronan


__ADS_3

Perlahan saat pria bertudung itu berbalik aku segera bersembunyi di pinggir bangunan, dia sedikit melirik ke sana kemari kemudian masuk ke dalam gang sepi.


Aku terus mengikutinya hingga kutemukan dirinya sedang berbicara dengan pria lainnya, ia membisikkan sesuatu sebelum mereka berpisah. Saat dia keluar menuju jalan aku pura-pura menabraknya.


"Maafkan aku."


"Hati-hati kalau berjalan, dasar sialan," dengan kasar dia menendang perutku hingga aku terduduk di pinggir trotoar, aku sebisa mungkin menunduk untuk menyembunyikan wajahku.


"Lain kali jika kau menabrakku lagi, akan kubunuh kau."


"Maafkan aku."


Aku menepuk-nepuk pakaianku sambil berdiri lalu melihat kertas yang sebelumnya kuambil darinya. Di kertas itu ada wajah Rin dengan hadiah cukup fantastis seharga 5000 koin emas untuk bisa menangkapnya hidup-hidup.


Ini bukan atas perintah kerajaan atau pihak kultus melainkan dari pasar gelap.


Sosok Rin adalah vampir tak kusangka banyak orang yang menginginkannya, mari asumsikan bahwa ketiga fraksi sedang memburunya. Jika begini lebih baik kami segera meninggalkan kota ini secepatnya.


Aku kembali ke guild dan kutemukan ketiga anggotaku telah di kepung oleh orang-orang dari pahlawan, di depan mereka Alexius dengan gagah memamerkan pedangnya dengan anggun dan berkata selagi menunjuk Rin.


"Orang ini adalah kriminal yang membunuh banyak manusia, aku harus menangkapnya beserta kau dan kau, tapi jika kalian mau menjadi budakku, aku akan berubah pikiran dan memberikan hukuman ringan pada kalian."


Aku tertawa.

__ADS_1


"Apa ini kelakuan pahlawan itu?"


Semua orang bereaksi atas pernyataanku yang sedikit terdengar sarkasme.


"Bukannya kau orang desa waktu itu?"


"Aku bukan orang desa biasa, mereka bertiga ada bawahanku."


"Kau pasti bercanda, kau ini hanya orang lemah."


"Apa menurutmu begitu."


Aku memunculkan pedang Grandbell di tanganku, aura hitam keluar darinya menyebar sangat cepat menelan seluruhnya dalam kegelapan, selanjutnya entah itu aku ataupun ketiga rekanku kami semua telah melarikan diri ke luar kota.


"Besok pagi kita juga akan menjadi buronan," tambah Amnestha.


"Dari awal aku tidak berniat menjadi orang baik."


Gabriela mengangkat bahunya ringan.


"Tuan ini hanya mengaku sebagai orang jahat namun kenyataannya tidak begitu."


Aku hanya tersenyum masam sebagai jawaban kemudian menyusun rencana untuk malam nanti, di bawah sinar rembulan aku, Amnestha, Rin serta Gabriela menyelinap ke salah satu rumah secara diam-diam.

__ADS_1


Beberapa penjaga memang ditempatkan di sini secara ketat hingga aku meminta Amnestha menjatuhkan mereka dengan tanaman miliknya, mereka menunggu di lantai satu sementara aku naik ke lantai dua.


Aku membuka sebuah pintu dan kutemukan ruangan yang dijadikan penyimpanan barang antik, di sana tepatnya di dalam kaca ada sebuah topeng yang kuinginkan, tanpa membuang waktu aku segera mengambilnya lalu memakainya di wajahku.


Tak lama kemudian pemilik rumah memergokiku, aku melompat ke arah jendela, menghancurkannya lalu jatuh ke bawah.


"Kita pergi."


Mendengar panggilanku mereka bertiga pun mengikutiku dari belakang hingga masuk ke dalam hutan dan menunggu sampai pagi hari.


Amnestha berkata.


"Kejahatan ini membuatku sangat bersemangat, mari lakukan lagi."


"Kita hanya mencuri karena tidak ada jalan lagi," kataku menegaskan sebelum Rin bertanya.


"Sekarang kita akan ke mana lagi?'


"Kita akan pergi ke daratan tinggi Utara untuk menemui seseorang."


"Memangnya ada orang yang tinggal di sana," Rin mengalihkan pandangan ke arah Gabriela dan Amnestha yang sama-sama menggelengkan kepalanya.


"Paling tidak dia mengatakan bahwa dia tinggal di sana."

__ADS_1


Seorang yang bisa melihat masa depan sekaligus orang yang bisa membuatku semakin kuat, Aurora.


__ADS_2