
Di antara orang-orang yang berlalu lalang di alun-alun desa, tampak burung-burung berterbangan ke udara.
Aku menyaksikan hal itu selagi berdiri di atas bangunan tinggi bersama Nibel serta Calistha.
"Kami sudah menaruh semua pasukan di sudut desa, saat para monster itu muncul kami siap menghabisinya," atas pernyataan Calistha aku mengangguk mengiyakan sampai dari atas Rin turun di depanku setelah menghilangkan sayap kelelawar di punggungnya.
"Dalam beberapa menit mereka akan muncul, jumlahnya sekitar 25.000."
"Bagaimana dengan naganya?" tanya Calistha.
"Sepertinya sebelum para monster itu dihabisi, dia tidak akan maju menyerang."
"Sudah kuduga, saat naga itu mengendalikan para monster dia tidak bisa melakukannya bersamaan dengan menyerang," tambah Nibel yakin.
Aku meminta Rin untuk bergabung dengan kelompok Arthur sementara kami bertiga pergi ke barisan di depan desa, tempat itu yang akan mendapatkan serangan paling kuat.
Aku melompat dari bangunan ke bangunan lain selagi mengikuti dua orang di depanku sebelum akhirnya mendarat di tanah, di sana kelompok pasukan utama berdiri bersama Galius.
"Komandan, kami siap untuk menunggu perintah."
"Sebentar lagi mereka akan datang, kalian semua tetap bersiaga."
"Okay."
Setelah menunggu dari kejauhan mereka bermunculan, mereka muncul dari segala arah seolah mengepung kami.
"Kalian semua angkat pedang kalian,dan serang," teriak Nibel hingga pasukannya pun menerjang ke depan.
Aku maupun Calistha juga melesat maju, kami berdua bertugas untuk menjatuhkan para monster kayu yang sangat besar.
__ADS_1
BRAK!
Aku melompat ke samping saat tangan besar terarah padaku, tepat saat itu, Calistha menebas tangan tersebut hingga terpotong dan aku menciptakan sihir api untuk membakar monsternya dalam sekejap.
Orang-orang di sekelilingku turut menyerang, beberapa orang juga mengalami luka berat memaksa mereka untuk mundur sedangkan Nibel melompat-lompat di udara memenggal leher musuhnya dengan mudah hingga satu persatu tumbang ke tanah, di sisi lain Galius juga melakukan hal sama.
"Masih banyak yang harus kita kalahkan, ayo tuan Kazuya."
"Aah."
Sementara itu di sisi lain desa, Amnestha dan Gabriela bertarung dengan pasukan ke tiga, monster-monster yang menyerang mereka hanyalah sekumpulan hobgoblin yang disatukan dengan para Kabold.
"Jangan mundur, terus maju."
"Ooh."
Teriakan semangat menggema dalam pertempura itu, Amnestha menyentuh tanah untuk menciptakan sulur-sulur yang mampu menghentikan kumpulan para monster lalu para prajurit menebaskan pedang mereka hingga darah monster membanjiri tanah.
"Mereka tak ada habisnya," katanya demikian.
"Musuh yang sebenarnya akan muncul setelah ini selesai tapi sudah banyak korban yang berjatuhan."
Amnestha menciptakan pohon besar di belakangnya yang menjatuhkan cahaya ke bawah tanah.
"Semuanya bawa orang yang terluka ke bawah pohon ini, dan sisanya lindungi agar monster tak mendekat," teriak Amnestha yang langsung disambut baik.
Gabriela menciptakan sayap putih di belakang punggungnya sebelum terbang ke atas langit dan berkata.
"Pedang cahaya," dan dalam sekejap ratusan pedang menyeruak dalam tanah menembus setiap monster tanpa pandang bulu.
__ADS_1
Seekor Kabold setinggi 12 meter berhasil lolos karena memiliki tubuh keras layaknya besi, dia mengayunkan pemukul ke arah Gabriela hingga dia terlempar ke belakang menghantam dinding pelindung yang dibuat Clara.
"Guakh."
Darah menyembur dari Gabriela.
"Monster itu benar-benar berbeda dengan yang lainnya."
"Gabriela kau tak apa?"
"Aah."
"Aku yang akan menghadapinya."
Amnestha meluncur ke depan membuat Kabold mengayunkan pemukulnya dari atas, bukannya menghindar Amnestha lebih memilih menangkapnya dengan tanaman yang dia buat dari tangannya sendiri.
"Jika dari luar tidak berguna bagaimana jika dari dalam."
Amnestha memasukan sebuah biji ke dalam mulut Kabold sebelum melompat ke belakang dengan meninggalkan tangannya.
Selanjutnya.
Tubuh Kabold meledak dahsyat hingga berubah menjadi sebatang pohon.
"Tanganmu hilang."
"Bukan masalah, aku bisa menumbuhkannya lagi walau sedikit butuh waktu."
"Begitu... masih ada lima lagi yang seperti mereka, karena itu kita perlu lima tangan lagi yang harus dikorbankan darimu."
__ADS_1
"Aku akan menggunakan cara yang lain," balas Amnestha dengan wajah bermasalah sebelum akhirnya memberikan beberapa biji pada Gabriela.