Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 377 : Langkah Selanjutnya


__ADS_3

Siang harinya setelah aku menjelaskan situasiku pada guild, aku bersama Mamisa kembali pergi ke kediaman Koko untuk membereskan barang bawaannya.


Karena merepotkan aku menggunakan sihir perpindahan yang mana sekaligus memindahkan seluruh rumahnya ke desa.


Mamisa menatap kagum.


"Kau bisa melakukannya juga?"


Aku hanya tersenyum sebagai balasan lalu melanjutkan.


"Kau juga sebaiknya pergi ke desaku sekarang, dari sini aku ingin melakukannya sendirian dan menantang seluruh anggota dewan yang tersisa."


"Kau terlalu ceroboh tapi aku akan menerima tawarannya."


Mamisa mengaitkan lengannya dengan lenganku dan berkata.


"Mari mampir ke rumahku sekarang."


Aku hanya mendesah pelan selagi mengobrol ringan dengannya dalam perjalanan.


"Tak kusangka Koko hidup sendiri di rumah besar seperti itu."


"Orang tuanya telah meninggal satu tahun lalu dan dia memutuskan tinggal sendirian tanpa mengandalkan siapapun, dengan dia hidup di desaku kuharap dia bisa sedikit lebih percaya dengan orang lain."


"Jangan khawatir, aku akan menjadi temannya."


"Kurasa jangan."


"Apa kau tidak mempercayaiku?'

__ADS_1


Sudah jelas iya.


"Kenapa kau tidak menjawabku."


Aku mengalihkan pembicaraan.


"Apa rumahmu masih jauh?"


"Di sana."


Rumah dimaksud hanyalah rumah sewaan, karena pekerjaan Mamisa selalu berpindah-pindah tempat, sekarang dia akan menetap di desaku setelah kami membereskan seluruh barang bawaannya.


Di kamar itu. Mamisa menyediakan dua koper besar untuk dibawanya, salah satunya aku yang mengisinya dengan pakaian miliknya walaupun sejujurnya aku tidak ingin melakukannya.


"Bagaimana pakaian dalamku sangat berani bukan?"


"Aku tidak ingin membahasnya, lebih dari itu kau hanya memiliki pakaian saja di sini."


"Begitu."


Walau Mamisa mengatakan tidak apa-apa, sebenarnya di luar rumah ini banyak orang-orang yang memprotes tindakannya, mereka berdemo menolak kepergian Mamisa, bahkan ibu kos akan menggratiskan tempatnya jika dia tetap tinggal.


"Ada apa?" tanya Mamisa saat aku melirik ke arah jendela.


"Apa mereka akan baik-baik saja?"


"Aku akan menyanyikan lagu perpisahan dulu dan menjelaskan semuanya, kau tunggu saja di sini."


Dari kamarnya aku bisa mendengar seluruh pendemo yang menangis selagi mendengarkan lagu Mamisa.

__ADS_1


Tidak dipungkiri lagi bahwa suara Mamisa mampu menggerakkan hati mereka, setelah menunggu cukup lama dia kembali dengan senyuman puas sementara pendemo telah pergi untuk selamanya.


"Apa yang kau katakan pada mereka sampai menurut begitu?"


"Aku mengatakan bahwa ada seorang pria yang menghamiliku hingga aku dikeluarkan dari agensi, dan sekarang aku akan tinggal bersama pria itu di tempat jauh."


Aku kehilangan kata-kataku.


"Aku juga mengatakan hal yang serupa pada perusahanku."


Paling tidak dia tidak menyebutkan namaku, setelah selesai berkemas, aku memberikan surat yang sama yang kuberikan pada Koko, di sana tertulis bahwa Mamisa akan mulai tinggal di desa.


Di dalamnya ada tanda tanganku jadi tidak akan ada masalah lagi.


"Kalau begitu aku akan mengirimmu ke sana."


"Baik, semoga beruntung."


"Aah."


Mamisa menghilang dalam sekejap.


Perjalananku akan terasa sepi sekarang akan tetapi penuh kedamaian, hari belum sore jadi kuputuskan untuk pergi ke kedai yang ada di pinggir jalan, di sana aku membeli beberapa kroket yang disajikan dengan saos lezat serta beberapa cabai yang terlihat merah.


"Silahkan."


"Terima kasih."


Aku memesan sebanyak 20 buah dengan isian daging dan wortel di dalamnya, kulitnya begitu renyah serta cocok dimakan di suasana seperti ini bersama teh hangat.

__ADS_1


Aku pasti akan sangat senang jika seseorang tidak sedang meletakkan pisau di leherku sekarang. Masalah terkadang muncul saat aku meminum teh.


__ADS_2