
Aku yang babak belur dibawa ke sebuah ruangan khusus para petinggi kota ini, di setiap koridor dihiasi oleh patung-patung wanita bertudung yang sedang berdoa sementara di ujung koridor tampak sebuah ruangan luas mirip singgasana, empat kursi kosong itu kini diduduki empat wanita yang masing-masing berpakaian serba putih serta wajah mereka ditutup dengan kain yang sama pula hingga aku tidak bisa melihat wajah mereka.
Konon keempat wanita Arc Priest di depanku ini sangatlah cantik bahkan para wanita yang melihat wajah mereka akan langsung jatuh cinta.
Betapa menakutkannya itu. Tapi dibanding itu sosok patung wanita di belakang mereka cukup menakutkankan.
"Selamat datang di katedral dari kota suci imperal, kudengar Anda ingin menghilangkan kutukan dari kota ini."
"Seperti itulah, para Dewi memintaku untuk melakukannya."
"Para Dewi?"
Mereka berempat tampak terkejut, memangnya aku mengatakan hal yang salah dengan itu?
"Siapa namamu?
"Haru Kazuya, dan ini kedua pelayanku Selly dan Sella."
Arc Priest lain segera memotong.
"Atas perkataanmu, boleh kami asumsikan bahwa Anda menemui Dewi secara langsung."
"Tentu, memangnya ada yang salah... aku melihat mereka langsung, bahkan aku ingin mengeluh bahwa patung yang kalian buat di kota sama sekali tidak mirip."
Semua orang malah lebih terkejut dari sebelumnya.
__ADS_1
"Tuan Kazuya, harusnya Anda tidak mengatakan itu pada mereka, bahkan para Arch Priest hanya bisa mendengar suara Dewi mereka tanpa pernah melihat wajah mereka secara langsung," kata Selly lalu Sella melanjutkan.
"Itu memang benar, jika tuan Kazuya mengatakannya itu sama saja anda berada di tingkat sama dengan Dewi itu sendiri."
"Apa begitu?" balasku tanpa dosa.
Tiba-tiba saja keempat Arch Priest meminta semua orang untuk keluar kecuali kami bertiga, dari keempatnya membuka tudung yang menutupi kepala mereka.
Mereka berempat memang sangat cantik dibanding orang-orang di dunia ini, tapi karena aku sudah melihat sosok Dewi tidak terjadi apapun padaku.
"Biasanya pria yang melihat kami akan segera melompat ke arah kami untuk melecehkan kami, tapi tuan Kazuya tidak melakukan apapun?"
"Maafkan aku, mungkin lain kali."
Salah satu Arch Priest tertawa kecil.
"Panggil saja Kazuya."
"Kami mengerti, pertama kami akan memperkenalkan diri dulu. Namaku Elbina Arch Priest dari Dewi Ristal salam kenal."
Elbina memiliki rambut merah muda dengan kepangan di kiri kanannya.
"Namaku Catrine, dari kultus Dewi Ariel salam kenal," katanya selagi membuat pose V dengan tangan.
Dia memiliki karakter berbeda dengan Dewi yang dia sembah, memiliki rambut pirang sebahu serta kepribadian riang.
__ADS_1
Selanjutnya.
"Namaku Revia, Arch Priest Dewi Hecate, senang bertemu denganmu," ia mengatakannya selagi menutup satu matanya lalu mengibaskan rambut ungu panjangnya.
Tipe one-san memang paling terbaik dan terakhir adalah wanita dengan rambut perak serta memegang senjata dari dunia lain berupa softgun yang sudah dimodifikasi.
"Namaku Luxia, Arch Priest dari kultus Amnesia... aku mendapatkan senjata ini dari Dewi, katanya ini senjata ampuh untuk membunuh monster."
Itu pasti diberikannya dari sebuah game.
Aku mengangkat tanganku lalu berkata.
"Bukannya kota tanpa pria cukup nyaman di tinggali para pendeta? Tapi kenapa kalian ingin menghilangkan kutukannya."
"Memang benar tapi kalau dibiarkan nanti populasi di kota ini akan menurun loh," balas Catrine senang.
Revia langsung memotong.
"Kita bisa mengirim beberapa pendeta ke kota lain lalu setelah hamil mereka akan datang kembali kemari."
"Aku tidak setuju, hal seperti itu harus didasari oleh cinta," balas Elbina disusul Luxia.
"Aku belum siap melakukan itu."
Mereka malah saling berdebat satu sama lain sampai Elbina yang menjelaskannya.
__ADS_1
"Belakangan ini para Oni menyerang kota suci dan kami perlu pria untuk melindungi kami."