
Hari ini aku bersama Sella dan Serin pergi bersama dalam acara keluarga, keduanya telah memikirkan tempat yang mereka ingin kunjungi dan itu adalah.
Sebuah pulau tak berpenghuni yang ada di tengah laut, sekeliling kami hanya diisi oleh pohon-pohon kelapa yang berbuah sangat banyak yang bisa kami minum airnya.
Sementara yang akan kami makan adalah semua yang bisa kupancing hari ini, saat aku mengatakan kenapa mereka berdua ingin pergi ke sini jawabannya sederhana, mereka hanya ingin berlibur dimana hanya kami bertiga di dalamnya.
Itu hanya alasan pertama sementara alasan kedua karena putriku suka berpetualang.
Dibantu Sella, Serin dengan senang membuat tempat berteduh kami menggunakan daun-daun serta ranting-ranting di sekitar kami.
Aku bisa mendengar percakapan mereka.
"Seperti ini."
"Benar mama, kita hanya harus mengikat setiap daun lalu meletakkannya di atas."
"Heh begitu."
Sella sekilas melirik ke arahku dan tersenyum kecil sebelum membantu Serin.
Aku juga tidak boleh kalah, aku harus mendapatkan sesuatu yang besar untuk kami santap, beberapa saat kemudian kailku ditarik sesuatu.
Dengan sedikit tarikan aku berhasil menangkap ikan berukuran sedang.
"Aku tidak bisa mengejutkan siapapun dengan ikan berukuran seperti ini," ucapku dalam hati dan kembali melemparkan kail pancingnya kembali.
Beberapa jam berlalu hingga mangsaku sesungguhnya akhirnya kudapatkan, namun perlu tenaga lebih untuk menariknya ke atas.
Sella yang memperhatikan langsung memegangi pinggangku bersama Serin.
"Suamiku... ini terlalu besar, lebih baik dilepaskan saja."
Aku berbisik ke arah Sella supaya tidak terdengar putri kami.
"Aku ingin sedikit pamer di depan Serin."
"Muu... kurasa Serin sudah mengagumimu sejak dulu, dia bahkan selalu ingin mendengar kisah heroikmu."
__ADS_1
"Benarkah?"
Sella menjawabku dengan anggukan kecil.
"Papa tarik lagi."
"Serahkan pada papa."
Aku meningkatkan kekuatan fisikku meski begitu pancingannya tidak kuat dan akhirnya terputus hingga kami bertiga terduduk di tanah.
"Lepas."
"Sayang sekali."
Kami semua tertawa bersama.
Yah, paling tidak kami sudah mempunyai banyak ikan untuk kami olah.
Setelah membuat api unggun dan mengambil buah kelapa, aku membiarkan Sella dan Serin mengambil peran sebagai koki.
"Bagaimana rasanya?"
"Sedikit kurang garam mama."
"Benar kah? Hmm benar... kita tambahkan lagi sedikit."
"Iya."
Mereka terlihat sangat akur, jika ada Selly dan Seri di sini mereka akan berubah menjadi kembar empat.
Aku menyeruput air kelapa ke dalam mulutku, pulau ini sangat kaya, sayangnya karena lokasinya jauh tidak banyak orang yang bisa menemukannya.
Untuk menghabiskan waktu aku akan membuat es kelapa muda.
Kuciptakan tiga gelas berukuran besar, susu kental manis serta es batu dari sihirku.
Pertama ambil air kelapa dan masukan ke dalam gelas yang diisi es batu, jangan lupa untuk mengambil buahnya lalu masukan ke dalam gelas.
__ADS_1
Selanjutnya kasih susu dan aduk dengan sendok.
Es kelapa muda siap dinikmati kami bertiga.
Setelah semuanya selesai kami mencoba semua masakan, rasanya memang enak walaupun hanya dibuat secara sederhana.
"Bagaimana papa?"
"Rasanya sangat enak."
"Syukurlah... ini semua berkat mama."
Sella tersenyum bangga.
"Aku sudah belajar banyak hal hingga tidak akan kalah dengan yang lainnya."
Aku tersenyum lembut selagi menepuk rambutnya.
"Jangan menyentuhnya, aku perlu beberapa jam menatanya."
"Heh, kalau begitu aku bersemangat untuk mengacak-acaknya."
"Kalau berani, majulah."
Aku mengejar Sella ke arah pantai dan ia menyerangku dengan air laut.
"Asin, airnya masuk ke dalam mulutku."
"Fufu.."
Aku pun membalasnya dengan hal sama sebelum akhirnya kami berdua melambai ke arah Serin.
"Mari serang ibumu."
"Tidak, Serin akan selalu dipihakku."
Serin hanya tersenyum lalu berlari ke arah kami berdua.
__ADS_1