
Setelah mandi aku maupun Felisa disuguhi makanan lezat di atas meja, atas keegoisanku para pelayan juga duduk di kursi dan mereka terlihat tidak nyaman, meski begitu ini perintah raja jadi mereka tidak bisa membatahnya.
Aku berdiri lalu mengangkat gelas di tanganku, tidak ada hal istimewa dari ini.
Ini hanya sebagai permintaan maaf saja.
Aku berkata," Bersulang," dan mereka juga menjawabnya dengan hal sama hingga seiiring waktu mereka mulai terbiasa dan melupakan kecanggungan yang terjadi.
Padahal mereka selalu membuat makanan seperti ini tapi belum pernah mencobanya sendiri, setiap bahan makanan di istana merupakan bahan berkualitas tinggi bahkan jika itu untuk pelayan kerajaan masihlah mahal.
Sesudahnya, aku dan Felisa izin pamit dan kembali ke desa melewati gerbang perpindahan, baru saja tiba kami malah melihat sesuatu yang tidak biasa.
Felisa yang menyadarinya lebih dulu.
"Bukannya itu Hesna dan siapa yang bertarung dengannya?"
Di atas langit kejinggaan itu, aku melihat naga emas dan naga perak sedang bertarung, naga perak menyemburkan nafas dari mulutnya memaksa Hesna menghindarinya, serangan tersebut tertuju ke bawah desa.
Sebelum mengenai desa ada dinding penghalang yang melindunginya.
Jika tidak salah ini sihir anggota party Zeper.
Ketika aku bertanya-tanya apa yang terjadi, Gabriela muncul dengan sayap di punggungnya.
"Tuan."
"Apa yang terjadi?"
"Sebenarnya naga perak itu tiba-tiba muncul dan menantang Hesna bertarung... katanya dia ingin merebut gelarnya menjadi Ratu Naga."
"Jadi begitu, apa kalian tidak mencoba melerainya?"
__ADS_1
"Kami tidak bisa melakukannya, jika terkena nafas itu, semuanya menjadi perak atau emas."
Serangan Hesna juga bisa berdampak buruk, kalau begitu aku sendiri yang mengatasinya, Felisa tunggu saja di Masion.
"Berhati-hatilah."
"Aah."
Aku dan Gabriela terbang ke atas untuk mendekat, sementara kedua naga itu bersiap menembakan bola api dari mulut mereka.
Jika kedua benda itu bertubrukan sudah jelas bisa memusnahkan apa yang ada di bawahnya.
Aku dengan sigap berdiri di antara keduanya, saat bola itu mendekat ke arahku, aku menghisap keduanya.
"Ah, suamiku."
"Siapa kau, dasar manusia rendahan?"
Hesna diam-diam ingin pergi dan aku memanggilnya.
"Itu... hari sudah sore, aku harus."
"Kau tidak bisa pergi begitu saja, jadi jelaskan apa yang terjadi dan kembalilah ke bentuk manusiamu."
"Baik, maaf.. aku terbawa suasana."
Aku mengelus rambutnya agar dia tidak terlalu bersalah pada dirinya, darah naga cenderung memiliki niat bertarung tinggi.
"Jangan bilang kau si pria penggoda itu yang mengambil seluruh naga dan ratunya."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan?"
__ADS_1
Hesna berbisik ke arahku.
"Hmm jadi begitu."
"Apa yang kalian bicarakan?" Naga perak juga merubah dirinya menjadi wanita mungil imut.
"Banyak hal terjadi, sebaiknya kita bicara dulu."
"Aku tidak akan tertipu dengan rayuanmu."
Dia melesat menuju ke arahku, sebelum dia sampai aku menghentikannya dengan mengikatkan tali di sekujur tubuhnya.
"Sejak kapan?"
"Kau ini keras kepala, Gabriela bawa dia juga."
"Baiklah."
"Tunggu, lepaskan aku."
Tali yang dibuat dengan sihir tidak bisa dihancurkan begitu saja bahkan jika semakin berusaha maka akan semakin kuat pula.
Di dalam ruangan masion, para putriku terus menyentuh naga perak bernama Bellatrix.
"Tusuk sana tusuk sini, jauhkan tangan kalian dasar anak manusia."
"Dia sangat imut papa."
"Aku bukan hewan peliharaan, akan kugigit kalian."
"Imutnya."
__ADS_1
Mereka semua memeluknya dengan hangat.
Aku tidak tahu kenapa? Tapi Bellatrix tampak tersiksa, sebaiknya aku menyelamatkannya sekarang.