Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 245 : Masalah Dari Pria Populer


__ADS_3

Kebanyakan orang berfikir bahwa banyak istri itu menyenangkan akan tetapi yang kurasakan sekarang agak sedikit berbeda.


Aku telah mengambil tempat persembunyian di bawah tempat tidur sementara ke sembilan istriku sedang bermain perang bantal, masing-masing dari mereka terlihat bersemangat meskipun mereka hanya mengenakan baju tidur tipis.


"Serang dia Selly."


"Roger komandan Sella."


Kedua istriku sepertinya telah kembali ke keadaan sediakala sedangkan Riel dan Ariel yang pendiam jadi semakin aktif.


Statusku yang sekarang memang tinggi, meski begitu aku hanya orang biasa yang bisa kau temukan di manapun, khususnya jika soal hubungan rumah tangga, maksudnya seperti yang kau lihat sekarang.


Para istriku lebih dominan dariku terlebih dari awal mereka ada sembilan dan mayoritas suaranya lebih banyak.


Nermia dan Hesna yang sesama berasal dari ras naga melakukan kombo serangan dan mereka menjatuhkan Aerith dan Felisa dengan baik.


Tapi dari semua itu penantang yang tak terkalahkan adalah Ristal, dia tersenyum jahil selagi membusungkan dadanya yang besar.


Kau bisa mengatakan bahwa ukurannya lebih dari siapapun yang berada di sini.


"Yang besar selalu tak terkalahkan."

__ADS_1


Sebenarnya hal seperti itu, tidak ada sangkut pautnya dalam hal seperti perang bantal, semua yang merasa kesal akhirnya bekerja sama untuk mengalahkan Ristal sang pemain tunggal.


Seluruh bantal dilemparkan ke arahnya, kendati demikian dia melawati semuanya lalu memberikan serangan balasan yang mampu menumbangkan semuanya.


Kurasa ini akhirnya.


Setelah mereka kelelahan akhirnya mereka bisa tenang, dan kini tugasku jadi semakin berat.


Pertama aku harus merapikan tempat tidurnya lalu memindahkan mereka satu persatu.


Sebelumnya saat putriku masih kecil mereka tidur secara terpisah dan sekarang kami bersama kembali.


"Aerith jangan biarkan perutmu terbuka, kau bisa masuk angin."


"Biarkan saja, aku suka seperti ini."


Aku hanya menghela nafas panjang lalu menyelimuti semuanya dengan selimut, Aerith telah memutuskan untuk meninggalkan kerajaan miliknya dan tinggal bersama kami di sini.


Bagiku itu bukanlah pengorbanan kecil. Karena itulah, sebisa mungkin aku harus memanjakannya serta semua istriku yang lainnya dengan lebih baik lagi.


Aku terlalu lelah untuk tidur jadi kuputuskan untuk pergi ke ruangan kerjaku, aku sempat melirik kamar milik Yuki dan semuanya masih membeku.

__ADS_1


Di sela-sela itu, aku juga menyempatkan diri melihat kamar putriku yang sudah tertidur lelap, mereka juga tidur bersama-sama dalam satu ruangan.


Bukannya mereka semua sangat imut.


Aku memutuskan untuk menutup pintu kembali dan lekas pergi ke ruanganku, di sana masih banyak kertas-kertas yang menumpuk yang harus kukerjakan terlebih ada beberapa surat yang belum kubaca terutama balasan dari kota suci.


Sebelumnya aku melaporkan bahwa aku menginzinkan ras vampir tinggal di desaku, bisa dibayangkan mungkin mereka akan menganggapku sebagai orang berbahaya.


Tepat saat aku membukanya, pikiranku seolah menolak apa yang kulihat sekarang. Alih-alih menjawab pertanyaanku mereka malah menulis perkataan yang tidak berguna seperti....


"Ah, lakukan saja semaumu tapi sebagai konfensasi berkencanlah denganku dan kita lihat apa aku cocok menjadi istrimu yang berikutnya."


"Aku pikir sebagai Arch Priest akan kesulitan menemukan suami, kurasa aku baru menemukannya sekarang, tentu itu kau."


"Fufu aku akan menganggap bahwa itu hal bagus, cepat nikahi aku atau kau menyesal."


"Sembilan istri masih kurang, paling tidak kau harus memiliki 50-100 istri atau mungkin sekitar lebih dari itu."


Aku menjatuhkan kepalaku di meja menghasilkan suara cukup keras.


Sembilan dari mereka sudah merepotkan, jika ada sebanyak itu, aku akan mati.

__ADS_1


__ADS_2