Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 54 : Peperangan Dimulai


__ADS_3

"Pahlawan sepertimu pasti jarang di temukan dimanapun."


"Terserah dengan apa yang kau katakan."


"Kau marah."


"Tidak juga."


Setelah persiapan, kami semua berdiri di garis depan menunggu kedatangan pasukan musuh, ada yang ingin kucoba dulu jadi kumunculkan jendela menuku yang mana hanya bisa kulihat olehku saja.


Ini bukanlah dunia game melainkan dunia nyata yang mengadaptasi dari dunia tersebut dan para pahlawan saja yang memiliki fitur seperti ini.


Sudah lama semenjak aku terakhir menggunakannya dan kulihat tiga skill yang selama ini tidak pernah kugunakan masih ada di dalamnya.


"Skill meminta pertolongan lv10."


Helfina terlihat heran saat aku menyentuh udara.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kau tidak berfikir sedang memegang bokong atau dada seseorang."


"Lihat saja, ini pasti menarik."


Tiga pilihan muncul di depan wajahku.


Pertama adalah pertolongan dari Iblis.


Kedua pertolongan dari Dewi.


Ketiga dari monster.

__ADS_1


Aku memikirkannya cukup dalam.


Iblis dan Dewi jelas yang harus kuhindari, mereka cukup merepotkan apalagi jika aku tidak sengaja memanggil Dewi Ristal ke dunia ini.


Dibanding bertarung, Dewi Ristal hanya akan duduk selagi menikmati tehnya, itulah yang akan dia lakukan, karena itu aku memilih pilihan terakhir.


Tak lama kemudian pasukan musuh mulai terlihat jelas, bersamaan itu para Griffon mulai berdatangan dengan jumlah tak terhitung.


"Apa-apaan itu?"


"Griffon itu ada di pihak kita?"


Para prajurit mengutarakan keterkejutan mereka, begitu pula Rin, Amnestha serta Gabriela yang ikut memandangi sosok mereka, setiap Griffon membawa batu besar di kaki mereka kemudian dijatuhkan ke arah pasukan musuh.


Skill ini memang sangat berguna, seiring pertumbuhan kekuatanku skill juga ikut bertambah kuat.


"Kau melakukan hal yang mustahil lagi Haru."


"Aah, para prajurit angkat senjata kalian lalu ikuti aku."


"Hoh."


Setelah serangan Griffon selesai kini giliran kami menerjang ke arah pihak musuh, paling tidak serangan barusan telah menghabisi sekitar setengah pasukan yang harus kami lawan.


Walaupun sisanya masih banyak, itu sudah cukup jika aku memiliki tiga orang di depanku.


Rin mengarahkan tangannya mengirim debu bayangan yang menimpa musuh-musuhnya hingga mereka semua roboh dengan tubuh mengering.


Dia memanaskan darah di tubuh mereka hingga berakhir dalam kematian, sesuatu yang mengerikan.

__ADS_1


Untuk Amnestha dia menumbuhkan beberapa bunga raksasa pemakan daging dan membiarkan mereka melakukan tugasnya.


Di sisi lain Gabriela duduk di atas tumpukan mayat selagi memainkan harfa di tangannya. Terlihat biasa akan tetapi setelah mendengar musik yang dimainkan, orang-orang terlihat bahagia kemudian pergi ke surga dengan senyuman di wajah mereka.


Tentu aku tidak tahu bagaimana ketiga kemampuan mereka tidak menyerang pasukan sendiri.


Aku dan Helfina saling membelakangi dengan pedang di tangan kami.


"Medan perang sangat brutal."


"Apa ini pertama kalinya kau ikut hal seperti ini Haru?"


"Sampai saat ini aku selalu menggunakan cara licik, ini pertama kalinya aku turun dalam peperangan asli."


"Kau malah mengatakannya dengan bangga."


Aku dan Helfina secara bergiliran menahan maupun menyerang, sejauh ini Helfina tidak menggunakan skill miliknya akan tetapi hanya dengan ini juga dia sudah sangat hebat.


Ledakan terjadi di sekitar kami, tak hanya prajurit para penyihir pun ikut dalam pesta ini.


"Fire Bolt."


"Wall."


Boom.


Aku menggunakan sihir api lalu meledakan sekeliling kami hingga semua orang terpental ke segala arah sampai kulihat sesosok pria tengah berjalan mendekat.


Dia pria dengan kacamata, mengenakan jubah penyihir serta tongkat pada umumnya.

__ADS_1


"Kau menggunakan sihir yang bagus, tapi tidak sebagus milikku... namaku Ludin, pahlawan specialis ledakan dahsyat," katanya selagi mendorong bingkai kacamata yang mengkilap tersebut.


__ADS_2