Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 455 : Pedang Ragnes


__ADS_3

Pada dasarnya pedang Grandbell milikku sebelumnya telah hancur namun sesungguhnya kutukannya masih melekat di tubuhku, karena itulah sekarang tanganku berubah menjadi tengkorak dengan api hitam yang membakarnya.


Jauh lebih buruk dari seharusnya.


Sebelumnya ada cincinku yang menahannya tapi sekarang sangatlah sulit.


"Ka-kau iblis?"


"Jangan khawatir aku masih manusia, sebelumnya aku pernah menggunakan pedang terkutuk hingga seperti ini."


"Jadi begitu, kau ingin menahannya dengan kutukan lain karena itu kau mencari pedang terkutuk."


"Benar sekali."


Aku memberikan dua koin emas kepada pemilik toko ini sebagai ganti rugi sementara dia mengambilnya selagi menopang dagunya dengan tangan.


"Hmmm sulit sekali, aku tidak memiliki pedang seperti itu tapi kudengar ada sebuah pedang yang dibiarkan begitu saja di dalam hutan luar kota ini.. kau bisa memeriksanya."


"Aku akan mencobanya."


Entah di dunia sana atau dunia sini sepertinya orang-orang lebih suka meninggalkan pedang terkutuk di dalam hutan.


Atas arahan pria itu aku tiba di sebuah hutan gelap yang ditumbuhi pohon-pohon rimbun, hal ini banyak mengingatkanku saat aku mengambil Garandbell di dalam kawasan wilayah Amnestha hanya saja sekarang situasinya sedikit berbeda karena pedang itu benar-benar dibiarkan di atas batu begitu saja tanpa pengawasan siapapun.

__ADS_1


"Katana kah, benda indah seperti ini dibiarkan begitu saja... kau pasti menderita tanpa seorang menggunakanmu."


Aku mencabut pedang tersebut dari sarungnya dan melihat bilah pedang berwarna hitam seolah meniadakan cahaya di sekelilingnya, di masa lalu pedang ini telah merebut banyak nyawa termasuk pembuatnya sendiri.


"Benar-benar mengerikan."


Saat aku hendak mengembalikan dalam sarungnya beberapa orang muncul selagi mengelilingiku.


"Ka-kau sebaiknya taruh kembali senjata itu, pedang itu hanya akan memberikanmu kesedihan."


"Benar sekali, kami sudah menjaganya secara turun menurun selama ratusan tahun jika tidak maka bencana akan melanda benua ini."


"Jika kalian yang maksud bencana, bukannya hal itu sudah terjadi... hanya wilayah ini satu-satunya yang masih tersisa bukan."


Mereka tidak bisa menyangkalnya, bahkan jika pedang ini masih berada di sini, itu tidak akan menjamin bahwa bencana tidak akan datang.


"Mulai sekarang pedang ini milikku dan akan kunamai sebagai pedang Ragnes yang akan merubah dunia ini menjadi lebih baik."


"Itu hanya pedang terkutuk," bersama perkataan itu dari atas langit bermunculan sosok iblis yang terbang menuju ke arah kami.


Mereka membawa tombak yang mana saat ujungnya diarahkan pada kami, itu menembakan cahaya yang meledak di sekitarku. Asap mengepul ke udara sementara orang-orang yang mengelilingiku tumbang ke tanah.


"Sudah kuduga pedang itu hanya membawa penderitaan."

__ADS_1


"Kau hanya terbawa suasana, hanya pemiliknya yang membuat pedang itu menjadi seperti apa... walau pedang ini terkutuk asal digunakan dengan baik, itu bukan masalah."


"Kau?"


Aku menatap puluhan iblis yang terus menyerang kami, di belakangnya ada iblis kuat yang menggunakan burung raksasa sebagai kendaraannya.


Jadi dia yang dimaksud istriku yang menculik pada penduduk, sepertinya dia datang kemari untuk balas dendam. Kalau begitu aku akan melayaninya. Ketika para iblis itu mendaratkan kakinya aku meluncur menebas mereka dengan cepat.


Seperti yang kuduga kutukan Grandbell bisa sedikit ditahan dengan kutukan pedangnya.


"Apa-apaan manusia ini, dia bertarung dengan hebat."


"Orang ini sudah terbiasa dalam pertempuran."


"Aaaaaaaargh."


Aku memotong tombak mereka bersamaan dengan tubuh mereka, sesekali aku juga menggunakan pisau belati untuk menikam mereka hingga para iblis berhamburan terbang.


"Mundur, kita serang dari jarak jauh," teriak si pemilik burung sementara aku memposisikan diriku menyamping selagi berkata.


"Himitsu no ugoki... Tebasan Api Hitam," bersamaan ayunanku sebuah tebasan melesat jauh dengan kecepatan tinggi.


Saat aku sadari seluruh tubuh mereka terpotong-potong hinga berjatuhan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2