
Di dalam desa miskin di wilayah kerajaan Artana, seorang pemuda berdiri di tengah kumpulan para bandit, dia berambut hitam dengan ikat kepala berwarna merah di kepalanya, selain pakaiannya terlihat biasa pedang di tangannya juga tampak terbuat dari perunggu.
"Aku akan melindungi desa ini dari kalian semua," atas pernyataan pemuda para bandit hanya tertawa, bagaimanapun dia hanya sendirian terlebih dia juga terlihat sangat lemah.
Dalam keadaan hidup mati itu, pemuda tersebut tak pernah berniat untuk meninggalkan tempat miliknya lalu melesat ke depan dengan sebuah teriakan semangat.
Orang-orang desa di belakangnya hanya bisa menyaksikan pemuda itu dihajar habis-habisan sampai sesuatu yang mengerikan terjadi.
Di depan semua orang para bandit itu terbunuh hanya sekali tebasan dari tangan seorang wanita yang cantik, tangannya begitu gemulai menebas setiap tubuh bandit hingga hanya ada kematian di depan mereka.
Wanita itu mendesah pelan lalu mendekat ke arah si pemuda yang tampak ketakutan.
"Siapa namamu nak?" tanya si wanita menjilat darah di tangannya.
"Arthur Cronicle."
"Kau bocah yang pemberani, namaku Rin Elisten salah satu orang yang bertugas mencari kandidat raja baru di negara ini... aku datang ingin menyampaikan sesuatu, jika dari kalian semua ingin menjadi seorang raja atau ratu datanglah ke Ibukota seminggu dari sekarang tak peduli siapa dirimu entah miskin, kaya ataupun berasal dari ras terkutuk sekalipun tuanku akan mengizinkan semua orang berpartisipasi, di sana tuanku akan menyeleksi kalian layak atau tidaknya untuk membawa negara ini menjadi lebih baik."
Rin menciptakan sayap di punggungnya kemudian terbang meninggalkan semua orang yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Di dalam kerumunan itu sosok gadis kecil berlari untuk mendekati Arthur.
__ADS_1
Dia memiliki rambut biru yang diikat bergaya twintail, pakaiannya tertutup jubah dari leher sampai dada dan dilihat dari wajahnya umurnya terlihat lebih muda dari Arthur.
"Kau ini nekat sekali Arthur, bagaimana kalau mereka membunuhmu?"
"Yah yang barusan hampir saja."
Si gadis memukul kepala Arthur selagi cemberut.
"Sakit Clara."
"Salahmu sendiri, jika terjadi sesuatu pada teman masa kecilku aku tidak tahu harus melakukan apa nanti.. aku pasti akan sendirian."
Arthur berusia 14 tahun sementara Clara berusia 10 tahun walau mereka masih muda mereka telah menjalani kehidupan begitu menyakitkan, orang tua mereka dibunuh oleh bandit dan keduanya harus saling membantu satu sama lain untuk bisa terus hidup di dunia kejam ini.
"Kita pulang."
"Terima kasih."
Clara sejak awal ingin membantu Arthur namun para penduduk desa berusaha menghentikannya hingga dia hanya menyaksikan hal barusan dengan wajah menangis, walau kejadian barusan sangat mengerikan dalam hati Clara dia masih ingin berterima kasih atas bantuan wanita itu.
__ADS_1
Selagi membersihkan luka Arthur, Clara mulai membuat obat-obatan dari tanaman yang dia dapat di sekitar desa, selama ini Clara telah belajar membuatnya hingga akhirnya ia mampu mengobati segala luka luar.
"Apa yang dikatakan wanita tadi benar?" tanya Arthur.
"Sepertinya begitu, aku sempat mendapatkan informasi dari orang yang melintas, katanya negara ini akan memasuki masa reformasi dan seseorang yang ditunjuk untuk mengubahnya bernama Haru Kazuya."
"Bagaimana dengan raja yang lama?" atas pernyataan Arthur, Clara menggelengkan kepalanya.
"Raja yang mengerikan itu telah tiada, aku harap seseorang yang akan memimpin negara ini akan lebih baik dari sebelumnya."
Mendengar itu Arthur berdiri dari tempat duduknya dengan pose kemenangan.
"Turunlah, kau akan merusak kursinya.. jika rusak kita tidak akan memiliki uang untuk menggantinya."
"Jangan khawatir Clara, aku akan pergi ke ibukota dan menjadi raja.. saat itu tiba aku akan merubah kehidupan kita dan memberikanmu perabotan yang mahal."
"Meski kau bilang begitu kita ini hanya orang miskin, ingat para bangsawan akan lebih memiliki peluang untuk itu."
"Memang benar, tapi aku akan mencobanya hehe," kata Arthur tersenyum lebar.
__ADS_1