Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 218 : Mata Jahat


__ADS_3

Musim dingin kini telah berganti dengan musim semi yang menghangatkan, kami semua melipat mantel kami dan membiarkan Gabriela menyimpannya di sihir penyimpanan.


Selagi berbaring menatap langit yang cerah, aku menghirup aroma bunga ke dalam paru-paruku.


Rin yang meminjamkan bantalan pahanya dengan ringan memainkan rambutku.


"Dari sini apa yang akan kita lakukan tuan?"


"Selain menciptakan 10 cincin kegelapan, aku akan menyelamatkan dunia ini dari Behemoth ataupun pahlawan."


"Pahlawan itu memang menyebalkan," Rin mengutarakan kemarahannya padanya, menurutnya dibanding orang bernama Alexius harusnya aku sendiri yang menjadi pahlawan namun hal itu jelas bukan yang kuinginkan.


Aku menatap Rin dengan tatapan yang biasa tidak kutunjukan padanya.


"Rin, sebenarnya aku tidak akan hidup lebih lama dari dua tahun."


"Tolong jangan bercanda begitu..."


Air mata menetes dari wajahnya.


"Apa tuan sakit? Kita bisa menyuruh Amnestha menyembuhkannya."


Aku menggelengkan kepalaku lalu melanjutkan.


"Sepertinya tubuhku tidak bisa menahan kutukan dari Grandbell, kalau saja aku sedikit kuat aku pasti bisa menahan kutukannya."


"Harusnya kita membuangnya saja, aku tidak ingin kehilangan tuan."


Aku menggelengkan kepalaku untuk kedua kalinya.


"Berkat pedang itu, aku bisa melangkah sejauh ini, saat aku pergi, berjanjilah untuk terus hidup, kalian bisa memilih hidup yang kalian inginkan."


"Ini terlalu menyakitkan tuan."


"Aku tidak tahu tapi kurasa suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi."


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Gabriela dan Amnestha yang sedang bermain dengan bunga.


Mungkin aku terlalu cepat mengatakan hal ini padanya, meski begitu ini lebih baik, dibanding pergi secara mendadak. Rin selalu mencintaiku lebih dari siapapun karena itu, aku ingin dia menjadi pertama yang tahu.


"Walau kau sudah tahu, jangan beritahukan hal ini pada yang lainnya, aku ingin menjalani hidupku seperti biasanya."


"Aku mengerti, kalau mau tuan bisa meniduriku."

__ADS_1


Aku mendorong pelan keningnya.


"Bodoh, jika aku mau aku sudah melakukannya sejak lama... Kalian sudah aku anggap orang yang sangat berharga, jadi tetaplah seperti ini."


Aku berdiri lalu mengeluarkan batu jiwa ke tanganku. Pertama yang harus kulakukan adalah mengeluarkan jiwanya dulu yang ada di dalamnya.


Aku memanggil Gabriela dan Amnestha untuk mendekat.


"Ada apa tuan?"


"Tunggu kenapa Rin menangis? Apa yang tuan lakukan padanya?"


"Aku tidak melakukan apapun?" balasku pada Amnestha.


"Rin apa dadamu sakit? Atau bagian pentingmu sakit."


"Kalian memperlakukanku sebagai penjahat saja."


"Amnestha serang tuan."


"Roger."


Mereka mengunci tubuhku, sementara Rin tertawaan kecil lalu berdiri.


"Biar aku tiup untukmu."


"Jika kau lapar, kau bisa menghisap darahku."


Aku hanya memperhatikan ketiganya dengan senyuman lembut di wajahku.


Aku bangkit lalu dengan sedikit sihir mengeluarkan sosok singa dari dalam batu jiwa, singa itu memiliki sayap kelelawar serta ekor ular.


"Kita serang bersama-sama."


"Laksanakan."


Meski perlu waktu lama kami berhasil mengalahkannya, aku harus melemburkan batu ini lalu mencelupkannya ke dalam cincin setelahnya aku harus berburu moster untuk mengambil jiwa mereka.


Pekerjaanku masih sangat panjang.


Syukurlah aku tahu di mana saja moster yang bisa aku habisi, pertama kami harus kembali ke benua tempat tinggal kami.


Gabriela menciptakan awan putih yang bisa kami naiki bersama, dengan ini kami bisa pergi tanpa kelelahan lagi.

__ADS_1


Malam harinya.


Di dalam sebuah kegelapan yang pekat, aku bertemu kembali dengan Rafael yang sebelumnya aku kalahkan saat mengambil pedang Grandbell.


Tubuhnya sepenuhnya hanya tulang berulang yang ditutup dengan jubah panjang, ketika dia hidup dia adalah penyihir yang hebat.


"Kau memilih untuk mati, padahal kau bisa hidup abadi walaupun tubuhmu akan sepertiku selamanya."


"Yang kuinginkan hanya membuat kedamaian saja jadi itu tidak masalah."


"Kau memang menarik, saat kekuatan besar di depan matamu kau tidak langsung mengambilnya, ini adalah pertemuan terakhir kita... aku akan segera meninggalkan dunia ini."


Dia hanya jiwa yang terperangkap dalam pedang yang dibuatnya.


Rafael memunculkan dua buku sihir lalu memberikannya padaku.


"Apa ini?"


"Itu hadiah, jika kau memerlukannya gunakan saja, kau hanya perlu menyentuhkan tanganmu di dalam gambar lingkaran sihirnya dan kau akan bisa menggunakan sihir tersebut... sihir itu disebut empat mata jahat, tadinya aku mempunyai empat buku, dua lagi telah kujual pada pedagang."


"Menjual barang berbahaya seperti ini, cukup ceroboh."


Rafael tertawa.


"Aku senang-senang saja, buku itu tersimpan mata jahat kematian dan mata jahat penidur."


"Jika dua lagi?"


"Cuma mata pembatu dan pesona, mata itu tidak terlalu kuat dibanding dua yang kuberikan padamu."


"Begitu, kurasa ini barang berharga."


"Tentu saja. Mata kematian bisa membuat seseorang mati hanya melihatnya dan mata penidur membuat semua wanita keenakan dan melompat ke arahmu."


"Yang kedua itu mengagumkan, aku akan menyimpan buku ini baik-baik terima kasih banyak, jika aku perlu menggunakannya aku akan memakainya."


"Terserah kau saja, dengan ini aku telah memberikan semua warisanku padamu, akhirnya aku bisa pergi dengan tenang."


"Kau tidak akan muncul lagi."


"Tentu saja tidak, selamat tinggal."


"Selamat tinggal," bertepatan saat aku bangun di kamarku, aku menemukan dua buku di tanganku.

__ADS_1


__ADS_2