
Namaku Akane aku adalah putri dari pembuat kembang api yang terkenal di kerajaan ini, semenjak kota-kota dihancurkan semua orang mulai kehilangan senyuman mereka dan sejak itu pula kembang api mulai dilarang.
Keluargaku kehilangan mata pencariannya meski begitu mereka tak pernah berhenti untuk membuat kembang api, melihat hal itu aku akhirnya memutuskan sesuatu.
Akan kurubah dunia ini menjadi sedia kala, tak hanya sebagai keindahan, kembang api juga bisa digunakan sebagai senjata mematikan.
Mulai sekarang aku adalah seorang peledak handal.
***
Sehari setelah kemunculan makhluk bencana aku dan semua orang kini bersama-sama memperbaiki kota. Atau sejujurnya aku kini jadi kuli bangunan.
Menggunakan cangkulku aku mulai menata kembali tanah yang rusak.
"Kerja bagus Kazuya, sekarang kerjakan yang di sana."
"Baiklah," kataku singkat, tak hanya aku Ibela dan Ken juga turut membantu.
"Setelah bertarung, pekerjaan ini cukup membantu untuk menenangkan pikiran."
Menenangkan pikiran jidatmu, aku harus bekerja extra jika terus begini.
"Ngomong-ngomong bukannya Ibela sangat erotis, dia hanya mengenakan celana pendek dan baju tipis."
"Jangan membuatnya jadi mesum," teriakku.
"Kulit yang halus serta tubuh yang montok, bukannya dia sangat menggoda."
Aku bisa melihat ekspresi Ibela yang kesal, dia berteriak 'Apa?' kemudian meninju wajah Ken hingga dia berputar-putar di udara sebelum menempel di dinding.
"Punggungku patah."
"Rasakan itu."
Orang itu tidak ada kapok-kapoknya.
__ADS_1
Aku memperhatikan Selly dan Sella yang membantu untuk menyiapkan makanan bagi pekerja, mereka seperti gadis pada umumnya.
"Tidak, ikannya masih hidup."
"Biar aku matikan."
Mereka sebenarnya sedang apa? Tepat aku bergumam hal itu, seorang wanita muncul dari belakangku, dia memiliki rambut putih sepanjang bahu sementara pakainya sendiri mengenakan kemeja tanpa lengan serta celana ketat panjang.
"Apa Anda nona Ibela?"
"Benar sekali."
"Namaku Akane, aku ingin bergabung dengan pasukanmu untuk menyelamatkan dunia ini."
Aku memperhatikan penampilannya dari bawah sampai atas.
"Kau yakin?" kataku mewakili pikiran Ibela.
"Tunggu sebentar kenapa kau lebih lama melihat dadaku?"
"Kau bisa menebaknya," teriaknya.
Dilihat sekilas juga tahu.
"Apa ada seorang yang mengatakan G?"
Untuk kedua kalinya Ken diterbangkan jauh ke belakang oleh Ibela.
"Orang itu?"
"Jangan hiraukan, lebih dari itu kenapa kau ingin bergabung dengan kelompokku? Maaf mengecewakanmu tapi kau sepertinya tidak cocok dalam bertarung,"
Mendapatkan pernyataan tak terduga Ibela, wajah Akane tampak memerah dia mengembungkan pipinya merajut.
"Jangan meremehkanku, aku ini sangat kuat.... aku adalah putri salah satu pembuat kembang api ternama, karena ulah raja dunia kami tidak bisa menyalakan kembang api karena itulah kau ingin mengalahkan mereka dengan tanganku sendiri."
__ADS_1
Dia mengatakannya dengan mata berkaca-kaca hingga Ibela bertanya ke arahku.
"Bagaimana ini Kazuya? Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Karena dadanya besar mari kita terima saja "
"Kau ini, bahkan dia akan kesulitan berlari dengan kondisinya."
"Aku sangat kuat."
"Baiklah, tunjukan kemampuanmu?"
"Baik."
Di luar ibukota aku duduk selagi memperhatikan sosok Akane yang memegang bola kecil, kurasa itu sejenis kembang api.
Ketika Ibela menyuruhnya untuk menyalakannya.
Akane menggunakan jarinya seperti sebuah pematik, dia melemparkan bola kecil tersebut jauh ke depan.
"Hiyaaat..."
Suaranya terdengar imut oi.
Saat sumbu akan terbakar habis Ken muncul di sana.
"Apa yang kalian lakukan? Sedang bermain petasan kah."
"Dasar bodoh, pergi dari sana."
"Apa?"
Bola itu bercahaya lalu meledak dahsyat, yang bisa aku lihat sekarang tubuh Ken menghilang di langit.
"Yos, akhirnya dia mati juga."
__ADS_1
"Kalian ini musuh kah?" kataku lemas.