
"Syukurlah mereka selamat."
Zeles yang tak terima melolong dan sekitar puluhan ekor serigala muncul dari dalam tanah lewat sihir pemanggilannya.
"Biar kami yang mengatasinya, suamiku tolong lindungi penduduk kota," atas pernyataan Selly aku mengangguk mengiyakan lalu berjalan ke arah semua orang.
Sella menambahkan.
"Mari selesaikan ini sekitar satu menit Selly."
"Baiklah."
Untuk pertama kalinya aku bisa melihat keduanya bertarung secara serius, selama ini mereka hanya main-main saja.
Selly memunculkan sebuah kegelapan di kedua tangannya begitu juga Sella. Setiap mereka meninju di udara itu menciptakan ledakan besar yang memantulkan seluruh musuhnya ke segala arah.
Serigala yang dipanggil Zeles sama sekali tidak berkutik dengan itu, mereka menghilang setelah menerima serangan luar biasa tersebut.
Zeles tak tinggal diam melangkah maju, dia mengirimkan beberapa pukulan yang bisa diimbangi oleh Sella.
"Mustahil? Sebenarnya kalian siapa?"
"Kau bawahan Encore tapi tidak mengenal kami, sungguh menyedihkan."
"Apa?"
Sebuah pukulan menghantam perut Zeles dengan kuat membuatnya meluncur ke atas langit.
"Sella?"
"Oke."
Keduanya melompat di saat bersamaan hingga berada di atas Zeles yang masih tidak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
Tepat saat Zeles berbalik dua tendangan menghantamnya hingga dia jatuh menukik dengan kecepatan tinggi, membuat lubang besar di belakangnya.
Darah menyembur dari mulutnya sementara Selly dan Sella menggabungkan sihir mereka menciptakan bola raksasa hitam dengan kilatan petir berwarna serupa di sekelilingnya.
Mereka benar-benar serius.
Aku melindungi diriku bersama penduduk kota dengan sihirku, saat bola tersebut mengenai targetnya itu menciptakan ledakan dahsyat hingga tubuh Zeles dihancurkan sampai tak bersisa kecuali pemandangan kawah raksasa yang tercipta setelahnya.
Semua orang hanya bisa kagum karena itu.
Dalam perjalanan kembali ke kota aku bertanya pada Selly dan Sella yang terus menempel padaku.
"Jadi bagaimana kalian di bawa ke bangunan tadi?"
"Ada seekor burung yang membawa kami, tapi kurasa pemiliknya sudah lebih dulu pergi."
"Jadi seharusnya di sana ada dua jenderal."
"Benar sekali."
"Syukurlah, terima kasih banyak."
"Bukan masalah."
Salah satu pemimpin kesatria mendekat ke arahku, dia memiliki tubuh tinggi dengan rambut pirang pendek, di belakang punggungnya tampak pedang besar menggantung.
"Kuucapkan terima kasih banyak telah menyelamatkan penduduk di sini, namaku Ken Lockstar komandan kesatria kerajaan Eustila."
"Ada apa suamiku? tanya Sella.
"Apa kita pernah bertemu?"
"Kurasa ini pertama kalinya."
__ADS_1
Aku hanya bisa mematung beberapa saat, sudah jelas dia adalah temanku yang hidup di desa. Saat itu dia terbakar bersama desanya.
Jadi begitu, dia bereinkarnasi ke dunia ini juga sebagai kesatria, sayangnya ingatannya pasti menghilang.
"Oh yah, sebagai ucapan terima kasih aku akan memberikan sedikit koleksiku."
Sebuah tumpukan buku langsung muncul di kedua tangannya, tentu semua itu buku porno.
"Ambillah, harta nasional ini."
Selly dan Sella terlihat bersemangat sementara aku memasang wajah bermasalah.
Sifatnya masih sama ternyata, saat aku hendak menerimanya sebuah tendangan meluncur dari seseorang yang tidak kukenal, dia memiliki tubuh wanita dewasa dengan celana pendek serta pakaian khas dari seorang ninja.
Mulutnya terhalangi oleh syal sementara rambutnya diikat ekor kuda.
"Gwaaaah."
Menerima tendangan di wajahnya tubuh Ken terbang menabrak bangunan.
"Kenapa kau memukulku Ibela?'
"Kenapa katamu? Jangan memberikan sesuatu seperti ini kepada orang lain, kau hanya mencemarkan nama baik kesatria saja... akan kubakar."
"Uwaahh... jangan lakukan itu pada koleksiku."
Wanita itu menumpuk setiap buku lalu membenturkan dua batu hingga api pun muncul.
"Bakar, bakar, bakar semuanya haha inilah api suci."
"Tiiiidaaak, dasar wanita sadis," teriaknya.
Ada apa dengan dua orang ini.
__ADS_1
"Biar aku perkenalkan diriku kembali, namaku Ibela Histori aku wakil komandan kesatria... kalian sudah banyak membantu kami, alangkah lebih baik jika aku menyambut baik di kediamanku, apa kalian bersedia?"
Kami hanya mengangguk mengiyakan.