
Tiamat terdiam sesaat, keheningan yang berlalu hanya beberapa detik ini terasa sangat lama, dia berteriak lalu mencengkeram kerahku dengan emosi meluap dari matanya.
"Apa kau ingin membuatku mengingat masa suram itu?"
"Tentu saja tidak," aku mendorong tubuhnya untuk membuatnya sedikit tenang sebelum melanjutkan.
"Dunia telah berubah sejak lama, atau sejujurnya semuanya ada campur tanganku... Hesna sekarang adalah salah satu istriku kurasa aku ingin membantu tentang masalahnya."
"....'
"Sejujurnya para naga telah tinggal di desa yang kubangun, mereka sudah hidup damai aku tidak ingin kau mengacaukannya."
"Haahh, jika itu maumu maka aku akan menolaknya, naga berhubungan dengan manusia. Jangan bodoh... aku masih ingat bagaimana kalian menghancurkan tempat ini, entah itu anak-anak, ataupun wanita aku melihat mereka mati."
"Meski kau membunuh banyak manusia apa kebencianmu berakhir?"
Saat Tiamat terdiam, aku memukul wajahnya hingga dia terhuyung ke belakang.
"Tunjukan semua kemampuanmu, pukul aku."
"Kau? Aaaah."
Dia mengirim tinjunya ke arahku dan aku membiarkannya mengenai wajahku hingga aku terlempar dua meter ke belakang.
"Orang-orang yang kukenal, keluargaku mereka tidak akan bisa hidup lagi."
Aku bangkit lalu meninju wajahnya untuk dua kali.
"Pukulanku lebih kuat bukan, apa kau ini naga."
__ADS_1
"Berisik, sialan."
Kami saling memukul satu sama lain, setiap pukulan terasa lebih menyakitkan setelahnya, kendati demikian tidak ada seorangpun dari kami ingin mengalah.
Aku menggunakan tangan kiriku untuk menghajar wajahnya, darah menyembur dari hidungnya sebelum akhirnya dia tumbang ke tanah.
"Aku yang menang," kataku lalu aku pun tumbang ke dekatnya.
"Kenapa kau melakukan ini semua?"
Wajah kami berdua babak belur hingga terlihat seolah diserang serangga penyengat. Aku menjawabnya selagi memunculkan panel menu milikku.
"Tidak ada alasan khusus, barusan adalah pertarungan akhir manusia dan naga, aku yang menang karena itu, mulai sekarang kau akan mematuhi peraturanku dan melupakan kebencianmu."
"Mustahil.. sudah kubilang."
"Kau ini keras kepala sekali, aku akan mengembalikan kota ini dan juga menghidupkan orang-orang yang mati."
"Kau bercanda?"
"Sepertinya jiwa para naga di sini tidak pernah pergi ke surga... mereka seperti menunggumu."
Air mata menetes di wajah Tiamat, untuk sesama pria aku tidak ingin melihatnya meski begitu itu benar-benar berisi kemurnian dari seorang yang sudah hidup kesepian sejak lama.
Aku mulai mengembalikan seluruh bangunan di sini, seperti rumah-rumah, pepohonan serta bangunan pendukung lainnya termasuk termbok besar yang mengelilingi sekitar kota.
Setelah selesai aku menciptakan tubuh buatan lalu memasukan semua roh atau jiwa itu ke dalamnya.
Dan yang terlihat sekarang adalah kumpulan naga dalam wujud manusia mereka, tentu setiap wajah dan postur tubuh kubuat sama seperti sebelum mereka terbunuh.
__ADS_1
Tiamat terbelalak saat dia bangkit, seorang wanita dan anak perempuan tiba-tiba saja berlari ke arahnya lalu mereka bertiga saling berpelukan.
"Sayangku."
"Papa."
"Aku sangat menyayangi kalian."
Masih dalam kebingungan, Tiamat melirik ke arahku.
"Bagaimana bisa?"
"Sudah kubilang aku ini Dewa" balasku selagi menepuk-nepuk bajuku yang kotor, tentu seluruh lukaku telah berhasil disembuhkan.
Para naga yang telah kuhidupkan secara beramai-ramai membungkuk ke arahku.
"Mulai sekarang kalian bisa hidup dari awal, kalian hiduplah rukun dan jangan membuat perselisihan dengan manusia, jika seseorang berani katakan saja namaku, Haru Kazuya... jika mereka berani membuat onar, aku akan menghancurkan negaranya jika diperlukan."
Mereka semua mengangkat wajahnya selagi mengucapkan terima kasih, aku membalas dengan lambaikan tangan selagi berbalik dengan mantel yang kukibaskan.
"Sampai jumpa lagi, kalian semua."
Dalam sekejap aku muncul di lokasi peperangan sebelumnya, orang-orang sudah berkumpul di tempat ini dan mereka semua berlari ke arahku lalu mengangkatku dan melemparkanku beberapa kali ke udara.
"Oi kalian semua, hentikan.."
"Hidup Tuan Kazuya."
"Hidup."
__ADS_1
Dari atas itu aku bisa melihat ketiga pelayanku yang tersenyum hangat.