
"Pedang yang menambahkan sihir ke dalamnya memang hebat."
"Ini masih belum selesai... ciat.. ciat."
"Kenapa kau mengeluarkan suara aneh?"
"Terserah aku."
Koko terus menghindari serangan Len sampai tanpa terduga langkahnya terhenti karena dia menginjak sesuatu di bawah kakinya.
"Air."
Seluruh siswa kelasnya bersama-sama membuat air dan lumpur untuk memenuhi pijakan Len maupun Koko.
"Jangan-jangan, Falena?
Saat Koko mengalihkan pandangannya dia baru melihat Falena yang sudah merapal mantra tingkat tinggi.
"Kalian semua.... hal seperti ini tidak akan cukup."
Sebelum Koko bisa melarikan diri Len memegangi seluruh tubuhnya.
"Kita seumuran, berpelukan memang suatu yang harus kita lakukan sesekali."
"Kau mengorbankan dirimu sendiri."
"Walau tidak parah, kekuatanku bisa menahan serangan Falena sekitar 50 persen."
Setelah selesai merapal sihir, langit berubah menjadi gelap gulita, bersamaan itu kilatan cahaya merambat di sekelilingnya dan seekor kepala harimau raksasa muncul dari sana.
Koko tampak terkagum.
__ADS_1
"Apa guru akan menyerah."
"Tidak mungkin aku menyerah dengan hanya hal seperti ini.
'Kalau begitu... Falena."
"Serang."
Seluruh tubuh harimau dijatuhkan ke bawah, sebelum menghantam keduanya Koko mengarahkan tangannya lalu dalam sekejap harimau itu menghilang.
Semua orang terdiam termasuk Falena yang menjatuhkan dirinya karena terkejut.
"Sampai kapan kau memelukku Len?"
"Aku ingin sedikit lama lagi."
Koko mengambil kerah pakaian Len lalu melemparkannya ke arah Falena hingga keduanya terlempar satu meter sejajar dengan tanah.
"Anggap saja ini demi kalian, walau aku kecil aku lebih dewasa dari orang tua kalian karena itu perlakukan aku dengan hormat."
"Baik Bu."
"Aku memuji kalian karena mampu bekerja sama untuk menyudutkanku, karena itu mulai besok aku akan mengajari apapun yang kalian butuhkan, untuk sekarang kalian bisa berisitirahat di asrama kalian."
Koko melompat ke atas dan seekor kudanil segera membawanya pergi, diam-diam di ruangan kepala sekolah itu Keyla memperhatikan semuanya.
Lemy yang bertugas menjadi wakilnya mendesah pelan lalu berkata.
"Bukannya dia terlalu tegas sebagai pengajar meskipun umurnya sangat muda dan muridnya lebih muda darinya."
Keyla mengangkat bahunya ringan
__ADS_1
"Semua orang memiliki caranya sendiri, asal tidak melanggar ketentuan di akademi ini aku tidak keberatan."
"Jika ibu kepala sekolah bilang begitu, oh yah.. ada pesan dari tuan Kazuya."
Lemy memberikan sebuah pesan yang masih di dalam amplop, saat Keyla membukanya untuk memeriksa dalamnya ia tersenyum kecil.
"Jadi begitu."
"Apa ada sesuatu?"
"Bukan sesuatu yang khusus hanya saja di dekat pusat desa ada dungeon yang muncul."
"Dengan tiba-tiba."
"Kurasa tuan Kazuya sengaja membuatnya untuk membuat siswa akademi semakin kuat."
"Begitu, tapi kenapa tuan Kazuya sampai melakukan hal sejauh ini?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia berharap kita sendiri yang bisa melindungi tempat ini "
Di asrama itu Len dan Falena berada di kamar yang sama, setelah mandi Len membersihkan ujung pedangnya sementara Falena sedang membaca buku sihir di tangannya.
"Menurutmu apa kekuatan guru kita normal?"
"Jelas tidak, seranganku tidak bisa dibatalkan seperti itu."
"Heh benarkah? Apa kau terlalu menganggap kemampuanmu tinggi."
"Apa kau mau merasakannya sendiri? Ibuku yang mengajari teknik seperti itu, walau ibuku bekerja di bar dulu dia seorang petualang."
"Aku sama sekali tidak menanyakan soal itu."
__ADS_1
Len menyarungkan kembali pedangnya lalu mengambil posisi tidur.