
Amnestha memunculkan tanaman untuk mengunci setiap gerakan dari Carberus, setiap tanaman yang berhasil dihancurkan akan digantikan tanaman lainnya secara berlapis.
Amnestha benar-benar tidak memberikan ampun.
Di sisi lain Gabriela telah siap di atas kepala Carberus, ia menciptakan pedang cahaya raksasa. Pedang itu diayunkan mengikuti gaya gravitasi hingga ketiga kepala itu terpenggal dengan mudahnya.
"Apa berhasil?'
"Masih belum, harus ada yang bisa menghancurkan kristal yang ada di dadanya, kristal itu terbentuk dari energi negatif jiwa-jiwa yang mati."
"Serahkan padaku."
"Jangan ceroboh."
Aku berlari selagi membawa pisau di kedua tanganku, sebelum kepala itu beregenerasi aku melompat selagi menusukan kedua senjataku tepat di kristal yang dikatakan Amnestha, perlahan benda itu retak selanjutnya hancur berserakan bersamaan tubuhnya yang roboh ke samping.
"Sudah selesai."
Gabriela dan Amnestha mendekat ke arahku saat aku sudah siap menarik pedangnya.
"Firasatku tidak enak, jangan sampai mati tuan."
"Sebenarnya aku ogah mempertaruhkan nyawaku hanya demi sebuah pedang."
"Jika kau berhasil melakukannya aku juga akan jadi bawahanmu, akan bagus jika ada bawahan yang bisa lebih memanjakanmu."
"Kau mau bilang bahwa aku tidak cukup memanjakan tuanku."
"Bukannya kelihatan begitu."
__ADS_1
"Berhentilah bertengkar, aku akan mencabutnya sekarang."
Baru saja meletakan tanganku di pegangannya seketika tubuhku rasanya ditarik sesuatu, seluruh kabut hitam yang menyebar ke wilayah hutan tiba-tiba saja tertarik ke dalam pedang bersamaan itu aku tiba-tiba muncul di sebuah tempat yang gelap gulita.
Perlahan secarik cahaya mulai bermunculan dan saat aku sadari di depanku tampak seorang sedang duduk di atas singgasana.
Seluruh tubuhnya hanyalah tulang berulang, ia mengenakan mahkota di kepalanya serta jubah hitam yang membungkus dirinya, dia menyilangkan kaki selagi menopang dagunya dengan tangan tampak bosan.
Dari posturnya sudah jelas dia seorang pria.
"Kau tampak tidak terkejut denganku," katanya demikian.
"Aku sudah melihat neraka, jadi tidak aneh melihat tengkorak bisa bicara."
"Sepertinya begitu, namaku Rafael aku adalah penguji dari orang yang ingin mengambil pedang Grandbell ini, siapa namamu bocah?"
"Beaufort Reymond."
"Mereka adalah orang-orang yang mencoba untuk mengambil kekuatan Grandbell, apa kau akan menjadi seperti mereka atau mungkin sebaliknya tergantung pada kemampuanmu sendiri."
Aku berkata tanpa ragu.
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Kalahkan aku."
Rafael melayang terbang di depanku, dia dengan santai menciptakan sabit raksasa dari bayangan dirinya sementara aku menarik kedua pisau dari pinggangku dan bersiap menyerang.
"Menanglah jika kau tidak mau mati."
__ADS_1
Kami berdua saling menubrukan senjata kami berdua, aku hanya orang desa yang lemah karenanya setiap aku berhasil menahan serangannya aku terus terlempar menghantam tumpukan tengkorak.
"Kau sudah mau menyerah bocah?"
"Aku baru mulai."
Aku melangkah maju dengan kecepatan tinggi, Rafael mengayunkan sabitnya dari samping, dibanding menahannya aku lebih memilih melompat untuk menghindarinya. Tepat di atas itu aku menusukan kedua pisau tepat di matanya yang sebenarnya sudah tidak ada apapun.
Si tengkorak tertawa.
"Kau ini sedang bercanda."
"Aku sangat serius."
Aku melepaskan pisau tersebut lalu memegangi kepala Rafael dengan tubuh bersalto ke belakang punggungnya.
Dengan menarik kepalanya ke bawah sebuah bunyi patah terdengar hingga seluruh tubuhnya ambruk.
"Dengan ini aku menang," gumamku dalam hati.
Seluruh tengkorak menghilang bersamaan cahaya terang yang menerpa wajahku saat aku membuka mata di sampingku ada Gabriela dan Amnestha yang memelukku dengan erat.
Jika diperhatikan kedua tanganku hanya menyisakan tulang saja.
"Tuan?"
"Aku tidak apa-apa."
Perlahan tulang tanganku kembali terbungkus dengan daging kemudian ditutup kulit hingga berubah sedia kala.
__ADS_1
Aku hanya bisa menghela nafas panjang saat pedang itu berubah menjadi gelang di tangan kananku.
Jika aku lebih lama di sana aku akan berubah menjadi tulang berulang sepertinya.