Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 440 : Dungeon Lantai 56


__ADS_3

Selepas beristirahat Len menjatuhkan wajahnya di meja dengan lelah, dia telah mencari tanaman di seluruh tempat.. walau melelahkan paling tidak dia berhasil mendapatkannya.


Guru iblis itu mulai mengolah bahannya menjadi satu kemudian meminta seluruh muridnya melakukan hal sama.


"Ini adalah ramuan tingkat rendah, hasiatnya cukup bagus hanya saja rasanya terasa pahit."


"Aku akan memasukan gula kalau begitu," kata salah satu murid dan ketika dia meminumnya dia jatuh.


"Pahit sekali."


"Siapa bilang obat ini untuk diminum, ini hanya berguna jika dioleskan pada luka."


Ekpresi semua orang kembali bermasalah.


Bilang dari tadi kek, gumam Len yang hampir saja meminumnya juga.


Tepat saat bel berbunyi, Koko hanya mengatakan hal secukupnya sebelum meninggalkan ruangan, ketika di koridor ada slime yang muncul dan Len mengambil tongkat lalu memukulinya.


Ponyon...ponyon...ponyon.


"Ciat...ciat... ciat."


"Kenapa ada tongkat dan slime di tempat seperti ini," teriak Falena frustasi tapi tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.


Ia hanya berfikir bahwa desa ini telah dikepung slime dan kayu. Tak ingin memikirkannya lagi Falena menarik tangan Len untuk pergi bersamanya.


"Aku masih belum selesai dengan slime itu."


"Hentikan, kita harus segera pergi ke dungeon."

__ADS_1


Tepat saat mereka melakukannya keduanya hanya diam dengan tatapan datar, awalnya hanya mereka yang berburu di sini akan tetapi sekarang sudah banyak orang yang melakukannya termasuk kelas menengah ataupun kelas atas, paling tidak jumlahnya ada sekitar 20 orang terdiri dari beberapa party kecil.


"Dengan ini jumlah uang yang akan kita dapatkan semakin berkurang."


Len berteriak terkejut saat seorang petualang di gigit lehernya oleh serigala.


"Dia mati."


"Dia tidak mati, setiap orang yang terbunuh mereka akan hidup lagi dan muncul di luar dungeon."


"Bukannya itu luar biasa?"


"Tetap saja kau akan sakit saat dibunuh."


"Kutarik ucapanku."


"Apa-apaan ini? Bukannya ini malah terlihat mudah."


"Menurutku juga begitu, kita hanya membiarkan orang di depan kita mati dan selanjutnya kita meneruskan perjalannya syukurlah aku sempat memulung uang mereka yang jatuh."


Falena memegangi kepalanya yang sakit dengan tingkah laku Len sampai dia menunjuk ke depan.


"Ada slime."


"Ciat...ciat.. ciat."


Karena tidak ada ranting, Len menggunakan tongkat Falena.


"Kau akan merusaknya oi."

__ADS_1


Mereka kembali meneruskan perjalanan ke lantai 55 dan di lantai 56 merupakan daerah tanpa monster kecuali lumut yang terasa seperti sebuah tempat tidur.


Falena berkata.


"Lumut ini memiliki aroma yang tidak disukai monster kurasa kita aman untuk beristirahat di sini."


"Jika kau mengatakan itu, kita bisa bermalam di sini."


"Apa kita tidak kembali ke akademi?"


"Tidak usah, lagipula besok hari libur dan kita bisa menghabiskan waktu selama mungkin di sini."


"Itu ide bagus, tapi bagaimana soal makanan?"


Len tersenyum bangga sebelum menjawabnya.


"Aku selalu membawa banyak makanan di sihir penyimpananku."


"Kau ternyata bisa diandalkan, maaf karena selalu berfikir salah tentangmu."


Len memelototi Falena dengan mata bersinar.


"Sebenarnya apa yang selalu kau pikirkan tentangku?"


"Ahaha... ada slime."


"Di mana? Hiyaah... Ciat...ciat... ciat."


Falena menarik nafas panjang, syukurlah dia diselamatkan oleh seekor slime yang melintas walaupun sampai sekarang dia masih tidak tahu bagaimana slime maupun ranting pohon selalu ada di dekat mereka.

__ADS_1


__ADS_2