Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 462 : Wanita Dengan Pedang Terkutuk Yang lain


__ADS_3

Kami semua menyantap semua makanan di meja, aku hanya mengambil secukupnya agar tidak bernasib seperti ketiganya di mana perut mereka tampak membesar.


"Setelah lima jam perut kami akan kembali sedia kala," ucap Akane.


"Kalian ini memiliki tubuh karet kah?"


Tepat saat aku mengatakan itu secara tiba-tiba seorang wanita telah berdiri di atas meja selagi menyampingkan tubuhnya dengan tangan memegang katana di pinggangnya.


Ia mengenakan lingerie berwarna merah cerah dengan model kimono tradisional, rambut merah panjangnya berkibar ke samping.


"Akuma Ougi..."


Aku segera berteriak.


"Semuanya menunduk ke bawah meja."


".....Kagutsuchi."


Srang.... Srang... Srang. Duar.


Seluruh bangunan kedai terbelah menjadi beberapa bagian, dua orang pengunjung yang tidak sempat menunduk kehilangan kepalanya hingga orang-orang mulai berhamburan selagi berteriak panik.


Selly dan Sella melompat ke atas, keduanya bersama-sama menyergap wanita itu sayangnya sebuah rantai mengikat keduanya lalu menariknya ke belakang.


"Selly, Sella."


"Kami akan mengatasi orang ini."


Akane yang ketakutan hanya bersembunyi di bawah meja selagi memegangi kepalanya.


"Menakutkan sekali."


Wanita di depanku mengayunkan pedangnya padanya dan aku segera menahannya dengan pedangku.


"Kita menggunakan pedang terkutuk yang sama rupanya," ucapnya demikian.


Aku menendang tubuhnya hingga wanita tersebut meluncur di sepanjang jalan menembus jendela rumah bangunan.


"Bangunlah Akane, cepat sembunyi."


"Ba-baik."


Aku melompat ke luar bangunan menatap wanita tersebut yang berusaha bangkit.

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak menahan diri bahkan terhadap wanita lemah sepertiku."


"Orang lemah tidak mungkin bisa menghancurkan bangunan hanya sekali tebasan."


"Kau bisa melihatnya rupanya."


Aku memegang pedangku dan berkata secara bersamaan dengan wanita tersebut.


"Himitsu no ugoki.... Tebasan Api Hitam"


"Akuma Ougi.... Amaterasu."


Kedua bilah api itu bertubrukan di udara menghancurkan sekelilingnya menjadi puing-puing kehancuran, entah itu jalanan atau rumah-rumah semuanya terpotong kotak-kotak dengan api hitam membakarnya.


"Sudah sejak lama aku tidak berhadapan orang sepertimu...namaku Kalina, salah satu empat pengguna pedang terkutuk yang melayani Raja Dunia Apocalipse.


"Jadi semua raja dunia mulai menggerakkan pasukannya."


"Tentu saja, ini karena Hades ataupun makhluk bencana tidak bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, karena itu kami juga harus bertindak, ngomong-ngomong kau belum mengatakan namamu?"


"Kazuya, pria lemah."


Kalina tertawa saat aku mengatakan hal sama seperti sebelumnya dia katakan.


Kalina menunjukan tangan yang lain, kulitnya mulai mengelupas dan hanya menyisakan tulang yang terbakar dengan api hitam.


"Jika seseorang tidak memiliki mana yang cukup sudah jelas tubuhnya akan hancur dengan kutukan ini, akan tetapi jika sebaliknya maka tubuhnya akan kembali pulih dengan sendirinya."


Tulang tangannya mulai terbungkus oleh daging serta kulit seperti sebelumnya.


"Bukannya ini hebat, aku telah mencapai kutukan tingkat dua... apa kau bisa melakukan ini juga."


Kedua mata Kalina berubah menjadi gelap gulita sementara bercak-bercak hitam menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Apa itu?"


"Heh, kau menggunakan pedang terkutuk tapi tidak tahu soal ini... menyedihkan sekali, lebih baik berikan saja pedangmu itu padaku."


Kalina melesat dari atas, aku menahannya dengan pedangku hingga aku terseret olehnya beberapa meter, aku mendorong pedangku untuk membuat Kalina menjauh.


Dia memosisikan dirinya menyerang.


"Akuma Ougi... Kagutsuchi."

__ADS_1


Srang.


Seluruh permukaan tanah yang dilewati bilahnya terbelah menjadi jurang, aku bisa saja menghindarinya sayangnya yang dia incar bukan aku, melainkan seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita.


"Kau?"


"Ekpresi yang bagus."


"Percepatan."


Dengan skillku aku muncul di depan ibu tersebut lalu menahan bilah tersebut hingga memantulkannya ke samping.


"Dibandingkan melindungi orang lain harusnya kau khawatirkan saja dirimu."


Kalina telah muncul di depanku.


SRAK.


Tanganku yang memegang pedang terpotong ke udara.


"Cepat pergi dari sini."


"Ba-baik."


Aku menggunakan tangan lain untuk mencekik Kalina hingga dia jatuh di bawahku.


"Usaha sia-sia."


Sebuah aliran petir menyambarku hingga aku ditendang menjauh, saat terbaring di tanah Kalina berdiri selagi mengangkat pedangnya.


"Akan kuberikan kematian yang cepat untukmu."


Sebelum dia mampu melakukannya Kalina melompat mundur saat beberapa suriken menyerangnya secara bertubi-tubi.


"Ninja kah?"


Serangan itu berasal dari Ibela yang muncul di depanku, dia membantuku berdiri setelah mengambil potongan tanganku yang masih memegang pedang.


"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku."


Ibela membuka mulutnya, dari sana sebuah bola kecil jatuh ke tanah dan ledakan asap tercipta.


"Cih, kalian bisa berlari tapi tidak bisa bersembunyi."

__ADS_1


__ADS_2