
Bellatrix menguatkan kuda-kudanya selagi mengirim tinjunya, angin berhembus di sekelilingnya bersamaan tubuh Iron yang sedikit terdorong ke belakang.
"Kekuatan yang luar biasa, bagaimana gadis sepertimu bisa sekuat ini?"
"Itu karena aku banyak berlatih."
Bellatrix adalah seekor naga jelas kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan manusia biasa. Iron menguatkan celananya kuat-kuat sebelum melesat maju, dia mengenakan sarung tinju besi yang dia arahkan ke tubuh Bellatrix.
Suara pukulan benda dihantamkan terdengar seiring pertarungan mereka.
Jika manusia biasa, hal ini sulit dilihat dengan mata telanjang, akan tetapi kemampuan Bellatrix bisa mengimbangi kecepatan lawannya.
Dipukulan ke 20 sarung besi Iron retak kemudian hancur.
"Mustahil."
"Terbanglah."
Pukulan Bellatrix masuk mengenai perutnya hingga Iron diterbangkan jatuh menghantam kolam air panas.
"Sudah beres," kata Bellatrix selagi menepuk-nepuk tangannya, aku yang memperhatikan pertarungannya hanya bisa tersenyum masam.
Naga memang sangat kuat.
"Lihat apa kau?"
Kedua mayat itu terus menyerangku, aku menendang leher keduanya hingga patah sebelum melemparkan pisau ke arah Oleng.
"Serangan jarak jauh tidak akan berguna."
"Siapa bilang barusan serangan jarak jauh."
"Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Tentu aku tidak menjawabnya, hal yang barusan kulakukan adalah menghentikan waktu lalu berjalan melewati Oleng hingga berada di belakangnya, aku mengambil pisau yang sebelumnya dilemparkan lalu menusuk pahanya hingga ia terduduk kesakitan.
"Kalian serang."
Tiba-tiba saja kedua boneka yang dia kendalikan jatuh ke tanah.
"Apa-apaan ini? Kemampuanku."
"Aku menghilangkan kemampuanmu, dengan ini kau tidak akan bisa mengendalikan mayat lagi."
"Kau?"
Aku memukul tengkuknya hingga dia pingsan, para penjaga akan mengurusnya nanti, lebih baik aku mengatasi hal yang akan datang selanjutnya.
Kugunakan skill terbang untuk melayang di atas kota ini.
Di pinggiran kota itu, aku bisa merasakan kekuatan yang besar datang kemari.
Rambutnya berwarna merah dengan pedang besar di punggungnya.
Dia menyeringai selagi menatapku dengan semangat. Dari awal musuh yang barusan kami hadapi hanyalah pengalihan.
Aku melirik ke bawahku di mana semua orang berdiri selagi melihat ke arahku.
"Dari sini, biar aku atasi semuanya," kataku demikian.
Para burung raksasa itu menembakan bola api secara serempak, skill perisaiku bisa menahannya dengan mudah.
"Kemarilah kalian semua.... sistem Administrator."
Puluhan layar panel mengelilingiku dengan angka-angka numerik yang sulit dibaca, tak lama kemudian sebuah suara terdengar masuk ke dalam pikiranku.
[Aktivasi dimulai, memunculkan senjata]
__ADS_1
Dari belakangku sekitar 10 kapal perang raksasa muncul secara bersamaan dan melayang di langit. Setiap senjatanya terarah langsung ke kumpulan monster tersebut.
Aku bisa melihat ekspresi pria itu tampak kesal.
"Luncurkan semua persenjataan," bertepatan saat aku mengatakannya, seluruh misil, meriam, laser dilesatkan secara bersamaan, bahkan ketika kapal ini di langit getaran masih bisa dirasakan di permukaan tanah.
Orang-orang menutupi telinganya sementara para monster berjatuhan dengan jumlah tak terhingga menyisakan satu orang yang masih berdiri dengan gagah selagi tertawa terbahak-bahak.
Dia keras kepala sekali.
Aku mengarahkan satu meriam ke arahnya.
"Aku tidak akan kalah, namaku.."
Sebelum dia mengatakan namanya, sebuah peluru meledakannya bersama burungnya hingga tak tersisa. Kurasa sekarang sudah selesai.
Aku menghilangkan seluruh armada milikku sebelum mendaratkan kakiku ke depan mereka yang hanya melongo.
"Apa kalian baik-baik saja?"
"Apa-apaan yang barusan itu? Bukannya itu menakutkan," teriak Bellatrix yang mendapatkan anggukan kepala yang lainnya.
"Itu hanya sedikit dari kemampuanku."
"Sedikit katamu."
Dorothy mengeong lalu melompat ke arahku.
"Berhentilah menjilati wajahku."
"Meong, meong."
"Paling tidak rubah dulu dirimu jadi wanita," kataku lemas.
__ADS_1