Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 463 : Kalina


__ADS_3

Di balik bangunan itu, aku bersandar di tembok saat Ibela berusaha membungkus lenganku yang terpotong dengan perban.


"Maafkan aku, aku terlambat."


"Jangan khawatir... ini bukan pertama kalinya tanganku putus."


"Sebenarnya hidup seperti apa yang kau jalani."


Aku memasukkan potongan tangan kananku ke dalam item penyimpanan, jika menyimpannya di sana sebelah tanganku tidak akan membusuk sedikitpun. Untuk pedangnya sendiri kupegang dengan tangan lain.


Kurasa nanti aku bisa menemukan cara untuk menyatukan tanganku kembali, kalaupun tidak aku akan meminta bantuan Ristal ataupun Ariel saat kembali ke duniaku.


Ibela berkata.


"Kau masih ingin bertarung dengan kondisimu seperti ini?"


"Sudah jelas, orang bernama Kalina itu sangat kuat.. kau mungkin akan kewalahan jika bertarung sendirian."


"Memang benar, terlebih masih ada tiga lagi pengguna pedang terkutuk yang menyerang tempat ini."


"Semuanya datang kemari?"


"Aah, sepertinya ada seseorang yang membocorkan informasi kita sehingga mereka memutuskan langsung menyerang. Tidak tanggung-tanggung Raja Dunia Apocalipse juga turut ambil dalam peperangan."


"Ini jelas gawat."


Bunyi dentingan pedang yang diseret mulai terdengar bersamaan langkah kaki Kalina yang semakin mendekat.

__ADS_1


"Di mana kalian bersembunyi, keluarlah... aku tidak sabar untuk memotong-motong tubuh kalian."


"Dasar maniak."


Ibela mengambil satu gulungan dari balik pakaiannya lalu melemparkannya tanpa melihat, saat itu meledak kami segera berlari menjauh akan tetapi sayangnya Kalina mengejar kami dengan melompat di atas kepala kami.


Dia menggunakan jemuran pakaian yang di gunakan para pemilik bangunan sebagai pijakan hingga berada di depan kami.


"Biar aku potong tanganmu yang satunya lagi agar seimbang."


"Seimbang pala lu sekarang aku kesulitan menggepre dada wanita."


"Jangan khawatir, setelah tanganmu kupotong selanjutnya kepalamu."


Dia melangkah maju dan Ibela menahan pedangnya dengan sebuah kunai di tangan kirinya sedangkan tangan lain menyerang dengan kunai yang sama.


Satu menangkis satu menyerang, sebuah teknik yang sering digunakan dalam penggunaan dua senjata, melihat sedikit celah kugunakan Extra Skill untuk mengendalikan beberapa belati yang kusembunyikan di tubuhku.


"Kena kau," teriak Ibela melompat di depannya.


"Merepotkan sekali."


Kalina menendang bagian samping perut Ibela hingga dia menukik menghancurkan dinding rumah, sementara itu Kalina meluncur ke arahku.


Bercak hitam yang menutupi tubuhnya mulai bertambah tebal hingga seluruh kulit putihnya berubah menjadi hitam.


"Dengan ini mati kau.... Akuma Ougi, Kagutsuchi."

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Kalina dua belati meluncur dari belakangnya lalu menusuk masing-masing punggung kakinya hingga pergerakannya terhenti seketika.


"Apa?"


Aku berlari ke arahnya selagi meluncurkan tubuhku di permukaan lantai batu untuk menghindari bilah yang sebelumnya diciptakan olehnya.


"Kau bisa melihatnya."


Dengan ringan aku menembuskan pedangku menusuk jantungnya hingga dia memuntahkan darah dari mulutnya.


"Menyedihkan sekali, di detik terakhir aku malah lengah."


"Beristirahatlah dengan tenang."


Aku menarik kembali pedangku sampai tubuh Kalina tumbang ke samping.


"Tak kusangka ada pedang terkutuk kelima," perkataan itu menjadi perkataan terakhirnya sebelum menutup mata selamanya.


Aku melihat katana miliknya lalu menyimpannya di item penyimpananku sebelum berjalan ke arah Ibela yang mengerang kesakitan.


"Kau baik-baik saja?"


"Sepertinya tulang rusukku patah."


"Kita harus mencari tenaga medis untukmu."


"Bawalah gulungan ini, mungkin bisa membantu."

__ADS_1


Aku mengambilnya dari tangan Ibela.


Beberapa pasukan kemudian muncul untuk menandunya pergi. Kalina memang sudah dikalahkan akan tetapi masih tersisa empat orang lagi yang harus kami lawan khususnya Apocalipse yang menjadi dalang serangan ini.


__ADS_2