
Satu hari berlalu semenjak Layne tinggal di desa, dia telah berkeliling desa untuk menanyakan pertanyaan hal sama.
Apa bunga itu sudah memakan jiwa orang lain?
Dan jawabannya tetap sama 'Aku tidak tahu, tapi begitulah yang dikatakan penduduk dulu.' perkataan itu berlanjut bahkan sampai kepada kepala desa.
Dengan rasa penasaran Layne kembali ke tempat tinggalnya sementara lalu mengambil kursi di ruangan tamu.
Tim yang baru selesai mencari rumput untuk kudanya duduk di kursi di depan Layne.
"Kudengar kau berkeliling menanyakan soal bunga tersebut."
"Aku hanya ingin tahu kisah yang berbeda dan memasukannya ke dalam buku."
"Begitu, tapi sayangnya semua orang pasti tidak tahu juga."
"Benar sekali."
"Kurasa ada beberapa hal buruk yang memang tidak boleh kami ketahui, hingga para pendahulu kami merahasiakannya tapi kudengar ada ruangan bawah tanah di rumah kepala desa yang dikunci rapat. Apa menurutmu di sana ada sebuah informasi penting?"
Mata Layne berbinar selagi memegangi tangan Tim.
"Itu dia... bagaimana kalau kita menyusup ke dalamnya?"
"Aku tahu kau akan mengatakan itu Layne, tapi setelah ini, jangan mencoba mencari informasi lagi tentang bunga tersebut."
"Tentu saja."
Setelah matahari tenggelam. Tim maupun Layne berhasil masuk ke dalam ruang bawah tanah, mereka berdua mencari arsip-arsip yang disembunyikan di bawah meja dan menemukan sesuatu yang penting.
"Ini sebuah buku harian."
Keduanya meletakan lilin di atas meja lalu bersama-sama membaca isinya. Setelah sebentar, Tim menutup mulutnya karena terkejut sedangkan Layne tidak berekspresi sedikitpun lalu menutup bukunya.
"Kalian semua telah merebut desa ini."
__ADS_1
"Ini mustahil."
Tim menjatuhkan dirinya ke lantai dan memeriksa tubuhnya sekali lagi, bunga pemakan jiwa yang selama ini Tim anggap itu sebenarnya tidak ada.
Hal yang sebenarnya adalah bunga itu, mampu memindah jiwa seseorang, dengan kata lain semua penduduk yang ada di desa ini adalah bunga sesungguhnya. Sedangkan bunga yang ditemui Layne merupakan penduduk desa sesungguhnya.
Menurut catatan yang dibaca Layne, suatu hari sekelompok orang-orang menganggap bahwa bunga yang ada di dekat desa mereka sangat menggangu.
Serbuk mereka menyebabkan alergi dan merusak pemandangan mata mereka, bagaimanapun penduduk desa ini sama sekali tidak menyukai bunga.
Di antara mereka ada seorang yang menyukai bunga dan mengatakan bahwa kita tidak boleh merusak bunga, akan lebih baik jika kita memindahkan desa ke tempat lain. Sayangnya entah kepala desa maupun penduduk desa tidak mau dengar.
Seorang itu meletakan catatan di sini lalu pergi setelahnya, alasan kenapa buku ini juga berada di sini karena orang yang menulisnya adalah putri dari kepala desa. Karena mengetahui tentang bunga itu dia memutuskan untuk pergi.
"Padahal gadis itu telah mengatakan hal sesungguhnya tentang bunga yang dia ketahui tapi tidak ada yang mau mendengarnya."
Semua penduduk berlomba-lomba mencabut bunganya, sayangnya saat mereka semua menyentuhnya mereka bertukar tubuh hingga sekarang.
Tim tampak memucat lalu mengalihkan pandangannya ke arah Layne.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Kau tidak berusaha untuk mengembalikan penduduk desa."
"Kejadian ini telah berlalu sekitar 50 tahun, aku sudah tidak bisa melakukan apapun, lagipula kalian sudah hidup seperti manusia... bahkan ingatan kalian sesungguhnya sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Layne?"
"Seharusnya aku tidak membawamu kemari, maaf."
Layne mengarahkan tangannya lalu menggunakan sihir untuk menghapus ingatan Tim hingga tak sadarkan diri.
Untuk bukunya sendiri Layne lebih memilih membakarnya. Bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur sudah tidak ada yang bisa Layne lakukan. Lagipula semua ini salah penduduk desa yang tidak mau mendengarkan peringatan gadis itu.
Keesokan paginya seolah tak terjadi apapun, Layne mulai berkemas. Dia memiliki waktu satu hari lagi untuk tinggal namun ia memutuskan untuk pergi saja.
__ADS_1
Tim yang tidak ingat kejadian semalam hanya menatapnya dengan bingung.
"Bukannya kau ingin menginap tiga hari?"
"Sepertinya aku harus pergi sekarang, kudengar ada kota yang menarik setelah melewati gunung itu."
"Begitu, sayang sekali... ini sebuah perpisahan, bawahlah beberapa buah untuk bekal perjalanan."
Layne menerima kantong plastik yang diberikan Tim dan mengucapkan terima kasih.
"Aku pergi."
"Jaga dirimu... Layne?"
Saat hendak berbalik Tim memanggilnya.
"Aku tidak mengingat apapun semalam? Apa..."
"Semalam aku menemukanmu pingsan di depan pintu, kurasa kau terlalu bekerja keras."
"Begitukah."
Layne mengangguk kecil lalu melanjutkan perjalanannya. Dengan ini hanya Layne saja yang mengetahui kebenaran desa ini.
Sehari sebelum dia bertemu Tim, dia sempat singgah di sebuah makam yang berada di atas bukit, saat itu Layne penasaran karena makam tersebut hanya satu-satunya yang berada di sana.
Tak lama seorang wanita muncul dan meletakkan bunga di bawah nisannya dan berkata.
"Ibuku suka sekali berdiri di sini semasa hidupnya, katanya dari sini dia bisa melihat desanya yang sudah ia tinggalkan."
"Tinggalkan?"
"Setiap aku bertanya alasannya, beliau tidak mau mengatakannya.. dia hanya melarang untuk jangan pergi ke sana."
Memang benar, Layne bisa melihat desa itu dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Sebuah desa dengan sebuah gapura bertuliskan.
'Selamat datang'